Imigrasi Perketat Pengawasan WNA Masuk Bandara HAS Hanandjoeddin

by -
Dewanto Wisnu Raharjo
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tanjungpandan Dewanto Wisnu Raharjo.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tanjungpandan, akan memperketat pengawasan Warga Orang Asing (WNA). Apalagi sekarang di Belitung sudah ada penerbangan Internasional langsung dari Tanjungpandan ke Malaysia.

Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi masuknya WNA untuk menetap di Belitung maupun Belitung Timur, dari Bandara Internasional HAS Hanandjoeddin. Bahkan pihak imigrasi sudah membentuk Tim Pengawasan Orang Asing (PORA).

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tanjungpandan Dewanto Wisnu Raharjo mengatakan, Tim PORA merupakan gabungan instansi yang ada di Pulau Belitung. Seperti dari unsur pihak kepolisian, TNI, Kejaksaan hingga Pengadilan.

Pengawasan orang asing dilakukan untuk mencegah terjadinya pelangaran-pelangaran administrasi yang sering dilakukan. Di Belitung angka pelanggaran WNA setiap tahun terus mengalami kenaikan.

Pada tahun 2019 pelanggaran mengalami kenaikan hingga 30 persen dibandingkan tahun 2018. Tahun 2018 Kantor Imigrasi Tanjungpandan mendeportasi sebanyak sembilan WNA. Semuanya berasal dari China.

Sedangkan di tahun 2019 Imigrasi Tanjungpandan mendeportasi 12 WNA. Terdiri 11 warga negara China, dam satu orang dari warga Negara Malaysia. Kata Wisnu hampir semua kasusnya pelanggaran administrasi.

“Untuk tahun 2019, itu mulai dari Januari hingga akhir September. Kemungkinan bisa bertambah. Sebab masih ada waktu tiga bulan menjelang tahun 2020,” kata Wisnu kepada Belitong Ekspres, Kamis (3/10) kemarin.

Dijelaskan Wisnu, untuk menekan angka di tahun 2020 agar angka deportasi menurun, ia sudah mengerahkan intelejennya untuk melakukan pengawasan. Serta terus memonitor pergerakan WNA yang dinilai mencurigakan.

Yakni mulai dari masuk ke Belitung hingga tujuan dari WNA. Namun, jika orang asing tersebut bertujuan wisata ataupun liburan, Kantor Imigrasi memberikan kebebasan selama 30 hari untuk berada di Pulau Belitong.

“Kita sudah memiliki data-data WNA pada saat masuk ke Indonesia. Khususnya di Belitung. Setelah itu, kita lakukan pemantauan,” jelas pria asal Jawa Tengah ini.

Dalam pemantauan, Tim Pora akan bergerak dengan tugas pokok dan porsi (tupoksi) masing-masing intansi. Jika nanti di lapangan ditemukan adanya indikasi WNA melanggar aturan, akan diserahkan sesuai instansi.

Seperti WNA melakukan tindakan pidana pencurian, penganiayaan dan sebagainya, maka larinya ke ranah hukum. Dan, mereka akan diserahkan langsung kepada pihak pihak kepolisian (Polres Belitung).

“Polisi, Jaksa maupun Hakim bisa menindak dalam kasus ini. Dalam pengawasan orang asing, kami sudah berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait,” tuturnya.

Karena itu, dia menghimbau kepada masyarakat, Bhabinsa maupun Bhabinkamtibmas untuk menginformasikan, jika mengetahui adanya dugaan WNA yang bermasalah. “Sehingga Tim Pora bisa melakukan tindakan,” pungkasnya. (kin)