“Implementasi Peran dan Fungsi Mahasiswa Ketika Selesai Kuliah di dalam Masyarakat”

ilustrasi pengabdian masyarakat oleh mahasiswa. Foto : radarsukabumi.com

Oleh : Gusnia
Pemudi Asal Toboali / Aktivis HMI Bangka Belitung

RajaBackLink.com

Sejak awal masuk kampus, para pimpinan kampus dan malah dibantu mahasiswa (teman-temannya) menanamkan paham-paham akademistik. Mahasiswa itu tugasnya belajar dan lulus dengan predikat memuaskan. Setelah lulus harus dapat bekerja dengan posisi yang diperhitungkan. Kalau dianalisis, banyak faktor penyebab tumpulnya taring gerakan mahasiswa. Antara lain; sistem pendidikan yang membatasi masa studi, gerakan yang tidak terkonsolidasi, organisasi kemahasiswaan yang bermuara pada kepentingan segelintir orang, terkontaminasi dengan kepentingan politik internal maupun eksternal kampus, tekanan dari pihak kampus, dan terjebak dengan kemajuan teknologi informasi.

Perguruan Tinggi Negeri (PTN) telah membatasi masa studi mahasiswa. Jika masa studi telah berakhir namun mahasiswa belum menyelesaikan perkuliahannya, maka mahasiswa bersangkutan harus siap-siap dikeluarkan dari kampus tersebut. Pada umumnya masa studi mahasiswa di PTN berkisar antara 4-7 tahun. Bahkan untuk menamatkan jenjang sarjana, tidak sedikit mahasiswa menempuhnya hanya 3-4 tahun. Kondisi demikian menyebabkan mahasiswa fokus mencari nilai yang tinggi, berupaya cepat tamat, dan berharap cepat mendapatkan pekerjaan. Segala hal yang menghambat tujuan tersebut akan dihilangkan, termasuk berorganisasi. Banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa organisasi akan mengganggu perkuliahan. Kalau pun ikut berorganisasi, maka organisasi yang diikuti adalah organisasi yang mendukung nilai dan cepat tamat. Sehingga, organisasi yang sifatnya kritis sudah mulai jarang diminati mahasiswa.

Pembatasan masa studi tersebut lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya. Mahasiswa diarahkan menjadi robot-robot yang mengikuti arus kebijakan pasar. Memang sistem pendidikan kita telah berorientasi pasar, yakni mahasiswa adalah produk dan kampus adalah mesin penghasil produk. Mahasiswa sebagai produk akan diserahkan kepada pasar. Sistem seperti ini secara tidak langsung melemahkan gerakan mahasiswa. Karena sistem pasar tidak pernah menginginkan suara-suara kritis.

Pragmatisme yang ditanamkan sejak awal inilah yang menjadi salah satu unsur pembantu pemerintah melalui pimpinan kampus dalam program perbudakan akali (meminjam istilah Louis O. Kattsoff). Padahhal menurut istilahnya Kata Mahasiswa dibentuk dari dua kata dasar yaitu “maha” dan “siswa”. Maha berarti besar atau agung, sedangkan siswa berarti orang yang sedang belajar. Kombinasi dua kata ini menunjuk pada suatu kelebihan tertentu bagi penyandangnya. Di dalam PP No. 30 Tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi tertentu (Bab I ps.1 [6]), yaitu lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan / atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian. (Bab II ps. 1 [1]). Dengan demikian, mahasiswa adalah anggota dari suatu masyarakat tertentu yang merupakan “elit” intelektual dengan tanggung-jawab terhadap ilmu dan masyarakat yang melekat pada dirinya, sesuai dengan “tridarma” lembaga tempat ia bernaung.

Baca Juga:  Reformasi, Sebuah Sejarah yang Terpasung (catatan tak bertepi dari sudut kampus)

Oleh karena itu perlu dirumuskan perihal peran, fungsi, dan posisi mahasiswa untuk menentukan arah perjuangan dan kontribusi mahasiswa tersebut.
1. Mahasiswa sebagai Agent Of Change ( Generasi Perubahan )
Mahasiswa sebagai agen dari suatu perubahan. Artinya peran kita dalam suatu permasalahan dituntut untuk harapang yg lebih baik. Dengan harapan bahwa suatu hari mahasiswa dapat menggunakan disiplin ilmunya dalam membantu pembangunan indonesia untuk menjadi lebih baik kedepannya. Mahasiswa adalah salah satu harapan suatu bangsa agar bisa berubah ke arah lebih baik.hal ini dikarenakan mahasiswa dianggap memiliki intelek yang cukup bagus dan cara berpikir yang lebih matang, sehingga diharapkan mereka dapat menjadi jembatan antara rakyat dengan pemerintah.

2. Mahasiswa sebagai Social Control( Generasi Pengontrol )
Mahasiswa sebagai generasi pengontorol seorang mahasiswa diharapkan mampu mengendalikan keadaan sosial yang ada di lingkungan sekitar. Jadi, selain pintar dalam bidang akademis, mahasiswa juga harus pintar dalam bersosialisasi dan memiliki kepekaan dengan lingkup sosial.

3. Mahasiswa sebagai Iron Stock( Generasi Penerus )
Mahasiswa sebagai tulang punggung bangsa di masa depan, mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya di pemerintahan kelak.

4. Mahasiswa sebagai Moral Force( Gerakan Moral )
Mahasiswa sebagai penjaga stabilitas lingkungan masyarakat, diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang ada. Artinya Mahasiswa diwajibkan memberikan sebuah kegiatan dan prilaku sebagai contoh yang baik.

Tidak hanya itu mahasiswa juga anggota masyarakat yang berada pada tataran elit karena kelebihan yang dimilikinya, yang dengan demikian mempunyai ciri khas fungsi, peran dan tanggung-jawab. Dari identitas dirinya tersebut, mahasiswa sekaligus mempunyai tanggung jawab intelektual, tanggung jawab sosial, dan tanggungjawab moral.

Baca Juga:  Paradigma Membangun Pariwisata: Kapitalisme vs Islam

Menurut Louis O. Kattsoff, sesungguhnya perbudakan akali jauh lebih menyedihkan bila dibandingkan dengan perbudakan ragawi. Maka dari itu potensi yang dimiliki mahasiswa harusnya membuat mereka sadar bahwa ini peran dan fungsinya, seperti salah satunya mahasiswa harus memberikan suatu kontribusi yg layak terhadap bangsa dan negara. Ranah dan peran mahasiswa bukan sebagai siswa, tapi sebagai pemberi perubahan baik di dalam lingkup masyarakat serta ikut serta dalam partisipasi lingkup masyarakat itu sendiri bukan memisah diri dalam lingkup bermasyarakat dan sibuk menyibukkan diri.

Ketika mahasiswa terlepas dari statusnya sebagai mahasiswa yg telah selesai menempuh ilmu pengetahuan yang di jejaki di bangku kuliah, menjadi sebuah tantangan terbesar yang akan dilakukannya yaitu menjadi seorang pencari kerja atau pembuka lapangan kerja. Dua kata makna yg berbeda tapi hampir memiliki arti persamaan yg sama, mungkin saja makna arti pembuka lapangan pekerjaan ini lebih termaknai apa yang telah didapati dibangku kuliah tapi sebagaimana makna pencari kerja, mungkin kita menjadi salah satu kebanyakan dengan kata ini PENCARI KERJA.

Mahasiswa dituntut sesuai perannya ketika ia telah selesai, saatnya ia memberikan suatu perubahan ditempat dia berasal bukan menjadi seseorang yang hanya menjadi seorang pencari kerja. Maka dari itu perlulah kita menyadari bahwa apa yang kita pelajari dibangku kuliah hingga menamai kita sebagai mahasiswa, sangat diperlukan menerapkan dan memberi sebuah terobosan baru di daerah tempat tinggal kita. Karena mahasiswa dipandang sebagai seorang yang berintelektual dan disiplin serta peka terhadap kejadian-kejadian disekitarnya. Betapa pentingnya peran mahasiswa untuk membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik. Untuk itu kita sebagai mahasiswa diharapkan tidak hanya sekedar belajar mencari IP setinggi-tingginya namun kita juga harus berkontribusi nyata ditengah-tengah masyarakat. Karena mahasiswa adalah salah satu unsur terpenting dalam pembangunan bangsa.

Dari yang telah tepaparkan diatas menjadi sebuah kesadaran tersendiri seharusnya apa yang hendak kita akan kita lakukan. Jika mahasiswa mengimplementasikan peran dan fungsinya sebagai mahasiswa sesuai dengan ketetapannya, itu adalah sebuah solusi apa yang kita lakukan langkah selanjutnya. Karena itulah sebuah tonggak dari apa yang harus kita lakukan untuk menjadi mahasiswa yang seutuhnya .

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply