Improvisasi yang Berkelanjutan

by -

Oleh : Hartono
(Tim Lisensi Sekolah Islam Terpadu JSIT Riau)

Proses dan tujuan pendidikan tidak akan pernah mencapai usaha yang maksimal tanpa adanya pendidik yang profesional. Pendidik yang memahami berbagai karakteristik peserta didiknya sehingga mampu mengembangkan potensi peserta didiknya secara optimal. Peningkatan mutu pendidik sebagai upaya menjadikan guru yang profesional perlu senantiasa dilakukan secara terus menerus. Untuk itulah perlu dilaksanakan program-program sebagai upaya meningkatkan mutu pendidik tersebut.

Salah satu komponen yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya penyelenggaraan pendidikan adalah guru. Guru sebagai ujung tombak pendidikan yang langsung berada di garis depan berhadapan dengan siswa dituntut memiliki kompetensi yang memadai. Melalui guru penanaman nilai-nilai dan pembelajaran berbagai ilmu pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang relevan dengan kekinian dan masa depan dapat berlangsung.

Sekarang ini ada permasalahan yang cukup serius dengan peningkatan mutu guru. Hal ini tercermin dalam indikator sebagai berikut: Ketidakseimbangan program pembinaan tenaga kependidikan muai dari SD hingga SLTA. Rendahnya efektivitas pembinaan ditinjau dari pencapaian tujuan sebagai tenaga kependidikan yang profesional. Adanya kesenjangan antara konsep pembinaan dengan apa yang diimplementasikan oleh guru dalam kelas serta permasalahan lainnya yang berkembang saat ini.

Peningkatan mutu guru sebagai upaya peningkatan tenaga  kependidikan memiliki tujuan agar guru terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peningkatan mutu guru selalu menjadi yang prioritas, karena upaya ini didasari alasan bahwa indikator utama keberhasilan sekolah adalah kemampuan melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien seusai dengan tuntutan kurikulum dan menyiapkan tamatan yang memenuhi kebutuhan pembangunan masa kini dan masa yang akan datang.

Guru memiliki peranan yang strategis dan merupakan kunci keberhasilan mencapai tujuan kelembagaan sekolah, karena guru adalah pengelola KBM bagi para siswanya. Kegiatan belajar mengajar akan berjalan efektif apabila tersedia guru yang sesuai dengan kebutuhan sekolah baik jumlah, kualifikasi maupun bidang keahliannya. Untuk itulah sebuah lembaga pendidikan atau sekolah perlu mengupayakan agar para pendidik senantiasa berkembang kemampuannya. Mampu menyesuaikan dengan kondisi terkini seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Secara umum bahwa guru yang berkualitas  atau yang berkualifiasi adalah yang memenuhi standar pendidik, menguasai materi/isi pelajaran sesuai dengan standar isi, dan menghayati dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan standar proses  pembelajaran. Kriteria-kriteria tersebut telah dirumuskan dalam ketentuan perundangan yaitu UU Sisdiknas No.20 tahun 2003, UU guru dan dosen No.14 tahun 2005. PP No.19 tentang standar nasional pendidikan dan serangkaian Keputusan Menteri pendidikan Nasional. Kepmen No. 41. Tahun 2007 tentang Standar Proses Satuan Pendidikan dasar dan Menengah.

Seorang guru harus memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam pengembangan mutu  pendidikan. Kompetensi tersebut adalah  pedagogis, kepribadian, sosial dan profesional. Kompetensi pedagogis  berhubungan dengan kemampuan dalam mengelola pembelajaran dengan pusat perhatian  pada peserta didik. Kompetensi kepribadian terkait dengan nilai dan prilaku guru baik bagi diri sendiri, peserta didik, dan masyarakat. Kompetensi sosial berhubungan dengan kemampuan dan ketrampilan  prilaku guru dalam kaitannya dengan lingkungan sosialnya. Kompetensi profesional terkait dengan pengetahuan dan kemampuan dalam menjalankan profesi sebagai guru secara profesional. Keempat  kompetensi itulah yang apabila mampu dimiliki dan dikembangkan secara maksimal mampu menghantarkan seorang guru menjadi guru yang berkualitas atau pendidik yang bermutu dalam rangka menjadikan pendidikan mencapai tujuan yang diharapkan dalam tujuan pendidikan nasional. Menghantarkan generasi-generasi yang akan mencapai kegemilangan. Untuk itulah upaya meng-up-grade kompetensi guru menjadi sebuah keharusan. Jika tidak dimungkinkan akan lahir guru-guru yang secara usia mengajar mungkin lama namun secara penguasaan kompetensi terjadi stagnasi. Inilah alasan mengapa usaha peningkatan dan pengembangan mutu pendidik secara berkelanjutan harus menjadi bahagiaan program yang penting

Dalam UU Sisdiknas No.14 th.2005 Pasal 7 ayat.2 dinyatakan bahwa pemberdayaan profesi guru atau pemberdayaan profesi dosen diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemukan bangsa, dan kode etik profesi. Dengan demikian maka perlu adanya pola khusus dalam rangka mengelola dan mengatur proses pengembangan potensi pendidik (guru) tersebut dengan sebuah program yang secara langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh para pendidik dan tentunya membantu menemukan solusi terhadap masalah-masalah yang  di hadapi.

Peningkatan mutu guru yang dilakukan tidak akan lepas dari peningkatan kompetensi guru dan harus sesuai dengan sistem standarisasi guru di tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan sekolah (standar kompetensi). Tujuan dikembangkan standar kompetensi guru adalah untuk menetapkan suatu ukuran kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang guru agar profesional dalam merencanakan dan mengelola proses pembelajaran di sekolah  selanjutnya  bahwa pengembangan kompetensi menggunakan kriteria sebagai berikut: Mengacu kepada tuntutan kebutuhan pengembangan iptek; misalnya kemampuan mengakses, memilih, dan menilai dan mengolah informasi, kemampuan dalam mengatasi situasi yang serba tidak pasti dan searah dengan visi dan misi pembangunan pendidikan nasional.

Mengacu kepada kompetensi yang harus dimiliki oleh guru dalam bidang pendidikan umum penyelenggaraan pendidikan. Mengacu kepada kurikulum yang berlaku, yaitu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru untuk membantu siswa mencapai kompetensi yang dituntut oleh kurikulum. Harus dapat diukur (measurable) atau dapat ditunjukkan (demonstrable) dengan indikator tertentu. Substansi materi secara akademik dapat dipertanggungjawabkan dan dapat menunjukkan kinerja guru yang berkualitas dan terukur; dan dapat ditingkatkan kemampuan pengetahuan dan wawasan guru.

Program-program yang bisa dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu pendidik secara berkelanjutan (continuous Improvement)  adalah dengan mengadakan training atau pelatihan secara terprogram, workshop/seminar, mengadakan Kelompok kerja Guru (KKG) bidang studi atau rumpun atau perlevel kelas, MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), magang di sekolah atau lembaga lain, studi banding dan berbagai jenis program yang menunjang peningkatan kompetensi guru tersebut.

Jikap program peningkatan mutu pendidik  secara berkelanjutan (continuous Improvement)   ini dilaksanakan dengan baik insya Allah akan membawa dampak yang sangat positif  terhadap  para pendidik itu sendiri, yaitu telah berkembangnya  kompetensi pendidik secara optimal meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi profesional secara optimal. Kemudian membawa dampak yang positif terhadap pembentukan karakter siswa, kreativitas dan motivasi siswa dalam belajar serta motivasi berprestasi secara umum. Layanan guru terhadap orangtua semakin bagus dan sebaliknya orangtua juga semakin menaruh kepercayaan yang tinggi  terhadap guru  dan pada akhirnya membawa dampak positif terhadap mutu sekolah. (**)