Inevstor Harus Serius, Pemda Seolah Tak Berdaya

by -

DPRD Sorot Tanah di Tantungtinggi

TANJUNGPANDAN-DPRD Kabupaten Belitung nampaknya mulai kehilangan kesabran dengan kondisi pengembangan kawasan Pantai Tanjungtinggi atau Pantai Bilik atau Pantai Laskar Pelangi. Sebab, sampai sekarang DPRD menilai tak ada keseriusan dari pemilik lahan untuk membangun kawasan ini. Padahal, kawasan ini termasuk destinasi favorit turis yang datang ke Pulau Belitung.“Saya akan berkoordinasi dengan pimpinan dan anggota komisi I yang membidangi pertanahan dan perizinan, serta Komisi III yang membidangi pariwisata. Terkait permasalahan di Pantai Bilik (Laskar Pelangi,Red) Tanjung Tinggi. Lahan yang dikuasai PT. Ranati sudah terlalu lama dan semakin tidak jelas rencana pembangunannya,’’ ujar Wakil Ketua DPRD Belitung Isyak Meirobie kepada Belitong Ekspres, Minggu (13/3), kemarin.Isyak juga mengkritik Pemerintah daerah (Pemda) yang dinilai tidak transparan mengkomunikasikan sejauh mana pembangunan kawasan ini menyusul digusurnya warung makan warga dari lokasi ini.“Harus disampaikan kepada masyarakat lokal tentang hasil komunikasi selama ini dengan perusahaan seperti apa. Lahan dikuasai, pembangunan tidak jelas kapan, master plan tidak pasti, masyarakat menjadi anak tiri di negeri sendiri.Termasuk pemda seakan-akan tidak ada wibawanya,” ungkap IsyakKata Isyak, harus dibedakan, memberi kemudahan kepada investor yang serius dan potensial dengan investor yang bertahun-tahun hanya menunggu dan memantau waktu yang tepat untuk memulai membangun jika belitung sudah mengalami kemajuan pariwisata.“Ini tidak adil bagi masyarakat. Walau lahan tersebut secara legalitas buka milik warga. Namun perlu diingat bahwa ada sepadan pantai yang tidak boleh dimiliki. Itu tetap dikuasai negara dan mestinya publik bisa mengakses pinggir pantai,” ungkap anggota DPRD dari Fraksi Partai Nasdem.Menurut Isyak, semestinya pemda segera mendesak pembangunan yang jelas tehadap pemilik lahan. “Jangan alasan terbentur ruang terbuka hijau. Semua dalam ilmu planalogi, sipil dan arsitektur, jadi bisa disiasati,’’ ucap Isyak.Dia menyarankan, misalnya membangun taman wisata terbuka dengan pusat kuliner dan pusat cinderamata bagi wisatawan.Yang membangun pihak pengembang, nanti disewakan kepada masyarakat setempat sebagai prioritas dengan ketentuan yang ditetapkan pihak pengelola secara profesional.Lantas, katanya, tarif sewanya pun dibuat sewajar-wajarnya. Jadi masyarakat tetap merasa menjadi tuan di negerinya sendiri dengan bersinergi bersama pengusaha/investor. Ini harus jadi contoh bagaimana kemitraan antara masyarakat dan pengusaha.Nanti, untuk tarif masuk wisatawan bakal dibagi bagi dua tarif. Antara penduduk ber-KTP Belitung dengan tarif khusus yang ekonomis dan turis dengan tarif wisata yang nanti digunakan sebagai pengembalian investasi.Terlantarnya lahan dengan potensi terindah seperti Pantai Tanjungg Tinggi ini menciptakan citra buruk. Lucu, ya kalau wisatawan ke Belitung dan tidak ada toilet, berenang tidak ada tempat bilas. Untuk itu, pengusaha harus berani berkorban, berani berinvestasi.Pemerintah tugasnya memastikan tidak ada aturan yang dilanggar, aspirasi masyarakat terakomodir secara ekonomi serta memastikan kawasan tertata dengan baik . Papar Isyak, kalau bicara Belitung jadi tujuan wisata internasional, maka kita harus sangat serius mengurus hal hal seperti tersebur di atas. Ini akan jadi contoh buruk, tidak heran jika ada ketidakpahaman publik terhadap Kawasan ekonomi khusus pariwisata yang nantinya di Tanjung Kelayang YYang di depan mata saja tidak terurus,’’ katanya.“Karena itu saya akan menggunakan hak saya bersama teman-teman di komisi terkait dengan tegas mau nya apa pengusaha ini dan apa sikap pemerintah daerah soal ini,” tegasnya.(mg1)