Infus Kadaluarsa di RS Lama Milik PT Merapi, dr Hendra: Itu Bukan Limbah B3

by -
nfus Kadaluarsa di RS Lama Milik PT Merapi, dr Hendra Itu Bukan Limbah B3

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Direktur RSUD dr H Marsidi Judono Tanjungpandan dr Hendra menyatakan, sejak tanggal 26 Nopember 2018 eks bangunan rumah sakit lama sudah tidak lagi menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah maupun RSUD dr H Marsidi Judono. Sebab, itu sudah menjadi aset Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dikelola oleh Poltekkes Pangkalpinang.

Hal itu disampaikan dr Hendra menanggapi inspeksi mendadak (sidak) terhadap puluhan kardus berisikan infus kadaluarsa serta ribuan botol infus yang sudah terpakai oleh rombongan wakil Ketua II beserta anggota Komisi I dan III DPRD Kabupaten Belitung ke eks rumah sakit lama di Jalan Melati, Tanjungpendam, Rabu sore (26/2).

“Saat kita pindah dari RS lama ke RSUD sekarang, pada waktu itu kita belum memiliki gudang penyimpanan. Sehingga beberapa obat farmasi kita, kita tempatkan di beberapa ruangan termasuk di ruangan direktur,” kata dr Hendra kepada Belitong Ekspres Kamis (27/2) kemarin.

Dia menjelaskan, pada Tahun 2018 ada beberapa cairan infus yang sudah expired dan habis masa berlakunya. Dan itu sudah dilakukan proses retur dan ditukar dengan yang baru. “Hal tersebut sudah kita laporan kepada Bupati dan juga semua barang di sana selalu di audit oleh BPK artinya semua clear dan tidak ada kerugian negara,” jelasnya.

Dikatakannya, botol-botol Infus tersebut sebetulnya milik PT Merapi sebagai distributornya. Lantas, menurutnya kenapa mereka tidak aktif dan membiarkan botol infus tersebut di rumah sakit lama, itu karena biaya pengangkutannya mahal.

“Jadi, sebetulnya mereka serahkan kepada petugas- petugas (dititipkan,red). Silahkan kalau mau dibuang, atau mau dijual sebab itu kan bukan limbah medis atau limbah berbahaya tetapi itu hanya barang kadarluarsa,” tukasnya.

“Itu cairan steril sebetulnya, cuman habis kandungan kimianya dan itu bukan bekas pasien. Itu baru dalam kardus dan tidak pernah dibuka-buka. Jadi tidak ada yang membahayakan, karena itu bukan limbah B3,” tandas dr Hendra. (rez)

Editor: Yudiansyah