Ini Kata Aan Terkait Isu Kabar Penculikan Anak

by -
????????????????????????????????????

MANGGAR – Berita hoax atau berita yang tak jelas mengenai penculikan anak-anak di Kabupaten Belitung Timur (Beltim), yang marak beredar beberapa waktu belakangan ini sudah dianggap meresahkan.  Bahkan banyak masyarakat, khususnya di kalangan ibu-ibu rumah tangga yang melarang anaknya untuk keluar rumah meski untuk keperluan les dan mengaji di TPA.

Adapun dugaan motif penculikan adalah untuk diambil organnya untuk dijual di pasar gelap.  Tak sedikit di media sosial juga menampilkan keluh kesah status kehawatiran terjadinya penculikan.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Beltim, Burhanudin mengakui jika dirinya pun sudah mendengar banyak masyarakat yang resah. Ia meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan adanya berita yang mengandung kebohongan khususnya terkait adanya penculikan anak.  “Isu-isu seperti ini tentunya tidak usah ditanggapi dulu, itu tidak benar adanya. Apalagi sampai ada yang terganggu aktivitasnya tidak bisa sekolah, mengaji, les takut keluar rumah,” ungkap Aan, sapaan Burhanudin, Rabu (22/3) kemarin.

Karena itu Aan juga menghimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan di lingkungan masyarakat. Jika ada isu seperti itu, masyarakat sebaiknya berkoordinasi dengan pihak kemanan atau aparatur desa.  “Hoax ini kan bukan hanya di Beltim, dari Jawa, Jakarta, Bangka dari mana-mana saya lihat isu yang sama. Jika dengar hal seperti itu masyarakat harus dikoordinasikan dengan baik, di tingkat desa kan ada linmas, bhabinkabtimas, babinsa. Cek kebenaran dengan mereka,” tegas Aan.

Hal yang sama diungkapkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Beltim, Hartoyo menekankan masyarakat sebagai pengguna internet dan media sosial harus cerdas dalam merespon berbagai kabar dan berita yang ada di dunia maya.  Tidak semua berita itu benar dan pantas untuk disebar luaskan kembali.  “Lihat dulu sumbernya dari mana. Jangan langsung percaya, khususnya dari sumber yang tidak jelas. Apalagi dari mulut ke mulut terus kita sebarkan di media sosial, itu kan nanti bermasalah,” ujar Hartoyo.

Hartoyo juga mengakui jika masih ada sebagian masyarakat yang belum bisa menyeleksi antara infomasi yang valid dan tidak bisa dipertanggung jawabkan. Selain itu, masyarakat juga belum paham bagaimana menjadi pengguna yang bijak dalam menggunakan media sosial.  “Bukan hanya di Kabupaten Beltim saja, kita di Kominfo juga diberikan tugas untuk memerangi berita hoax.  Makanya kita harus bisa mendidik literasi masyarakat,” sebutnya.

Hartoyo juga menghimbau agar masyarakat jangan mudah menyebarkan berita hoax. Mengingat ada sangsi pidana yang suka iseng menyebarkan berita kabar burung tersebut.  “Pelaku Penyebar berita hoax bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Eektronik (ITE). Dalam pasal itu disebutkan ‘Setiap orang yang dengan sengaja atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkenan pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 milyar,” tutupnya.(feb)