IRT Keluhkan Harga Kebutuhan Pokok

by -

*Belum Mengalami Penurunan Sejak Lebaran Idul Fitri

GANTUNG – Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok di pasar, membuat konsumen mengeluh. Terutama Ibu Rumah Tangga (IRT) yang keseharian harus mengatur biaya kebutuhan keluarga.

Yani (35), warga Gantung menuturkan, beberapa minggu terakhir harga kebutuhan pokok belum mengalami penurunan sejak lebaran idul fitri. Bahkan kebalikannya, harga cenderung baik antara Rp.1000,- hingga Rp. 2000,- untuk komoditas tertentu.

“Naik semua bang, terpaksa pandai-pandailah mengatur keuangan. Ekonomi lagi lesu, uang belanja justru berkurang,” ujar Yani saat sedang berbelanja di pasar tradisional Gantung, Minggu (16/8) pagi pekan lalu.

Menurut Yani, keluhan dirinya juga dirasakan ibu rumah tangga lainnya. Untuk menyiasatinya, Yani terpaksa mengurangi daftar belanja dan membatasi jumlah uang yang dikeluarkan tiap jenis kebutuhan.

“Paling caranya membatasi pembelian. Bila biasanya membeli tanpa banyak nawar, sekarang kita nentukan harganya. Misalnya beli cabai cukup Rp. 10ribu berapapun dapatnya (berat timbangannya-red),” sebut Yani.

Pantauan harian ini, kebiasaan masyarakat berbelanja setiap hari libur juga terlihat jauh berkurang. Jika sebelumnya pasar ramai di hari Sabtu dan Minggu, kini jauh terlihat sepi dan lengang.

Jupri (39) salah seorang pedagang ikan di Pasar Tradisional Gantung juga mengeluhkan sepinya pembeli. Meski mengakui harga ikan mahal, tetapi sepi pembeli menjadi masalah tersendiri.

“Ikan mahal karena cuaca di laut cukup ekstrim sehingga nelayan tak banyak yang melaut. Tapi, pembeli sepi juga masalah karena ikan kurang laku terjual,” keluhnya.

Bagi Jupri, turunnya daya beli masyarakat sangat berimbas pada sektor non formal termasuk pedagang. Tentunya, perputaran uang menjadi keharusan jika tidak ingin kehabisan modal.

“Kalau kondisi begini terus, bisa makan (habis-red) modal. Yang dibeli belum tentu terjual, sementara modal sudah keluar,” cetusnya.

Jupri berharap, Pemerintah daerah melakukan upaya nyata agar kondisi perekonomian bisa membaik. Menurutnya, meski tidak secara langsung, Pemerintah daerah harus bertanggungjawab terhadap persoalan keterpurukan ekonomi yang dirasakan masyarakat. (feb)