Isyak Minta Saling Bisa Menjaga

by -

*Agung: Cap Go Meh Bukan Perayaan Agama Tertentu

TANJUNGPANDAN-Pendapat  lain tentang pemasangan ornamen memeriahkan Cap Go Meh berupa lampion di Bundaran Satam kali ini muncul dari kalangan politisi Belitong. Tanggapan ini muncul menyusul adanya permintaan sejumlah elemen masyarakat Bleitung yang meminta Bundaran Satam sebagai lokasi yang rapi dan bersih dari unsur-unsur dan simbol-simbol  yang mengarah pada kepentingan dan misi tertentu.
Politisi Nasdem yang juga Tokoh Tionghoa Belitung Isyak Meirobie mengatakan, perayaan Cap Go Meh 2566 adalah rangkaian dari perayaan Imlek. Ini merupakan tahun barunya masyarakat Tionghoa.  Jadi, sebenarnya ndak ada yang perlu dikhawatirkan dengan masalah ini.
“Suku Tionghoa di Belitung bukanlah tamu di negeri orang.  Sejak dahulu kala, suku Tionghoa telah ikut bersama membangun daerah Belitung. Jadi, kontribusinya cukup jelas,’’ ucapnya kepada Belitong Ekspres, kemarin.
Menurut Isyak, selama burung Garuda Pancasila adalah lambang Negara Kesatuan RI dan selama pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika masih dicengkeram sang Garuda, Maka, tidak ada alasan bagi kita sebagai anak bangsa hidup mengedepankan diskriminasi.
Ketua DPD Partai NasDem Belitung ini mengatakan, perbedaan itu seharusnya adalah kekayaan bagi bangsa. Bukan menjadi hambatan dalam pembangunan bangsa. “Selama ini,Belitung sejak dahulunya telah menjadi miniatur keberagaman Indonesia yang harmonis dan indah, masyarakatnya tulus ikhlas hidup berdampingan,” katanya.
Politisi berlatar belakang pengusaha ini menyebutkan, suku Tionghoa adalah salah satu warna dari keragaman warna di Pelangi negeri ini. “Jangan pernah kita sebut Belitung adalah negeri Laskar Pelangi. Jika kita tak pernah mau mengakui dan menjaga perbedaan yang ada sebagai sebuah kekayaan dan keindahan,” tuturnya.
Karena itulah, Isyak mengajak kepada suluruh warga masyarakat Belitung untuk senantiasa menjaga Belitung in iharmonis dan penuh toleransi. “Mari kita bergandengan tangan satu sama lain untuk menjaga kebersamaan kita di tengah keberagaman,”ajaknya.
Ia menambahkan, bukankah budaya yang kuat akan menjadi perekat dan nilai tambah bagi wisata.  Dan pada akhirnya dari semua lapisan akan merasakan manfaatnya.
Sementara Politisi Nasdem lainnya Agung Matreyawira berpendapat, di Belitung sendiri masih banyak budaya yang perlu ditunjukkan kepada para wisatawan. Sebab, tidak semua wisatawan itu maunya hanya ke pantai saja. “Ada juga yang lebih tertarik pada situs sejarah bahkan seni budaya. Budaya yang baru saja kita sambut. Masa budaya yang lama kita tidak pertahankan,” katanya.
Dikatakan, yang perlu diketahui bahwa acara perayaan Cap Go Meh itu sama sekali tidak ada nuansa politisnya. Apalagi menyangkut agama tertentu. “Itu (Perayaan Cap Go Meh,red) murni Budaya Tionghoa yang ada di Belitong  bahkan sejak ratusan tahun yang lalu,” tandas Politikus Partai NasDem yang juga anggota DPRD Belitung.(mg2)