Isyak Nilai Raperda Pariwisata Mendesak

OYO 399 Kelayang Beach Hotel

*Diprediksi Mampu Tarik Minat Investor Masuk Belitung

foto A- museum maritim

Foto A: ilustrasi
Kawasan Museum Maritim di Pantai Pendaunan Sijuk yang ke depan diharapkan menjadi salah satu lokasi pariwisata favorit di Belitung.

TANJUNGPANDAN-Wakil Ketua DPRD Belitung Isyak Meirobie mengatakan, usulan tentang adanya sebuah produk hukum daerah berupa rancangan peraturan daerah (raperda) pariwisata dan rencana induk pembangunan pariwisata (Rippar) di Kabupaten Belitung, menjadi sangat penting dilakukan oleh pihak eksekutif Pemerintah Kabupaten Belitung. Selain, menarik minat para investor di Belitung, juga bentuk keseriusan dan komitmen atas kebijakan pemerintah daerah.
“Komisi III DPRD Belitung juga sudah melaksanakan rapat internal, menyetujui dan mengusulkan raperda pariwisata ini kepada pimpinan DPRD Belitung. Agar segera didisposisikan kembali kepada balegda untuk dibicarakan dengan pihak pemerintah terkait,” ujar Isyak Selasa (7/4) siang kemarin, di ruang kerjanya.
Politisi terkenal vokal ini menyatakan, program legislasi daerah (prolegda) adalah sebuah program berupa produk hukum daerah. Misalnya, perda kepariwisataan masuk dalam perda nomor tujuh. “Jadi, kita ingin menjadikan perda urutan nomor tujuh ini, bisa masuk menjadi perda nomor lima,” terangnya.
Lanjut, Politikus Partai NasDem itu menuturkan, DPRD Kabupaten Belitung berharap adanya perda pariwisata dan perda rencana induk pembangunan pariwisata (Rippar) di Kabupaten Belitung ini. “Kedua Perda itu memiliki sisi perbedaan. Namun, tentu tidak bisa dipisahkan. Sebab, keduanya harus sejalan,” jelasnya.
Cak Robie, sapaan akrab Isyak Meirobie menjelaskan, urgensi dan perbedaan atas kedua perda tersebut. Ia menerangkan, Perda Rippar, itu lebih banyak mengatur soal masterplannya.
“Apa saja yang mau ingin dikerjakan oleh pemerintah daerah bersama masyarakat dalam beberapa tahun mendatang. Karena itu, pentingnya suatu rencana induk pembangunan (RIP),” jelasnya.
Sedangkan, Perda kepariwisataan, lanjut dia, itu lebih mengarah kepada insentifnya, pelaku pariwisatanya serta lebih pada tataran praksisnya. “Jadi, dua Perda itu (Pariwisata dan Rippar,red) harus sejalan. Sebab, jika kita hanya menyepakati satu perda pariwisata saja. Namun, perda Rippar-nya tidak jalan, itu percuma saja. Karena, dia harus satu paket,” paparnya.
CEO Media Sosial Kiape.comini menyakini, jika kedua perda itu sudah ada, maka, para investor dari luar daerah bakal banyak berdatangan di Belitung. “Dan kerjaan promosi daerah bukan lagi hanya urusan pemerintah semata, tapi semua pelaku pariwisata juga akan ikut berkoar,” yakinnya.
Alasannya, lannjut Isyak, apalagi para investor telah memberikan investasi dengan nilai puluhan miliar misalnya. “Otomatis, dia (investor,red) tidak ingin uangnya mati. Dia pasti akan berinvestasi di bidang promosi pariwisata di Belitung,” katanya.
Menurut founder Kiape.com ini, hingga saat ini kebanyakan pihak investor belum terlalu “bernapsu” untuk berinvestasi di bidang pariwisata di Belitung.  “Itu karena disebabkan dua hal. Pertama dari sisi ekonomi dan kedua dari sisi legalitasnya, nilainya.
Bahkan, kata Isyak, mereka para investor, tidak melihat adanya keseriusan pemerintah daerah Belitung menyusun sebuah kebijakan hukum yang melindungi dan memberikan kepastian bagi investor dalam berinvestasi. “Kalau ada dua raperda itu, berarti komitmen pemerintah daerah dinilai sangat serius,” ungkapnya.
Ia menambahkan, meski Perdanya sudah dibuat. Namun, insentif atau kemudahan diberikan kepada pihak investor juga harus diatur dalam perda tersebut. “Misalnya, pembebesan pajak bumi dan bangunan kepada pelaku pariwisata selama tiga tahun pertama yang membangun hotel dan restoran. Kalau tidak membangun, maka tahun keempat pajaknya bisa naik,” tambahnya.
Termasuk misalnya, membebesakan IMB 50 persen. Jadi, ada diskon. Artinya, semua ini bertujuan untuk merangsang mereka agar mau berinvestasi. Itu yang disebut sebagai karpet merah. “Jadi, kalau daerah lain melakukan yang serupa, sementara di Belitung sendiri tidak. Kenapa mereka harus pilih Belitung?
Mungkin saja, soal keindahan alamnya sama. Namun, orang pasti akan berpikir kapan agar bisa balik modal atau Return of Investment (ROI),” pungkasnya. (mg2)

Baca Juga:  Masyarakat Badau Kembali Tegaskan Tolak Rencana Aksi People Power
Tags:
author

Author: