Isyak Sayangkan Sikap Ketua DPRD

by -
Isyak Meirobie DPRD Belitung

*Yang jadi Penjamin Tersangka Penyalahgunaan BBM

TANJUNGPANDAN-Sejumlah pihak mempertanyakan alasan Ketua DPRD Kabupaten Belitung Taufik Rizani, yang menjadi penjamin penangguhan penahanan tersangka dugaan kasus penyalagunaan bahan bakar minyak (BBM) solar bersubsidi, Iwan. Iwan sendiri sebelumnya diamankan usai Jajaran Resmob dan Ditkrimsus Polda Babel menggrebek SPDN miliknya di Dusun Telok Dalam, Desa Juru Seberang, Sabtu 10 Desember 2016 lalu.

Salah satu pihak yang mempertanyakan sekaligus menyayangkan sikap Ketua DPRD Belitung tersebut adalah Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Belitung Isyak Meirobie. Isyak menilai, Iwan tidak layak untuk dibebaskan. Sebab, statusnya sudah jelas tersangka, penyalagunaan BBM. Menurutnya, saat hendak menjamin seseorang apalagi mengatasnamakan DPRD, harus berkoordinasi dan dirapatkan.

Isyak mempertanyakan hal tersebut, atas dasar apa Taufik Rizani menjamin Iwan. Apakah kepentingan rakyat, sehingga DPRD Kabupaten Belitung menjamin agar Stasiun Pengisian Diesel Nelayan (SPBN) tetap berjalan. Atau juga kepentingan pribadi?

“Kalau kepentingan rakyat, seharusnya, dirapatkan, sehingga seluruh anggota dewan dapat menentukan. Setuju atau tidak para anggota DPRD untuk menjamin Iwan,” kata Isyak kepada Belitong Ekspres, Kamis (19/1) kemarin.

Dalam waktu dekat ini, Isyak juga akan menanyakan langsung kepada Taufik Rizani, apa alasan dia menangguhkan penahanan Iwan. “Saya tetap berpihak ke kepolisian dalam hal ini. Siapapun yang bersalah harus ditindak,” pungkasnya.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama Iwan dalam tahan luar seperti melarikan diri, polisi meminta tersangka untuk wajib lapor tiap hari. Kapolres Belitung AKBP Sunandar mengatakan, wajib lapor merupakan prosedur tiap tahanan yang mengajukan penangguhan.

Ketika disinggung mengenai adanya pengawasan khusus terhadap Iwan agar tidak melarikan diri, AKBP Sunandar mengaku tidak ada. Sebab, saat ini Iwan sudah ada yang menjamin yakni Ketua DPRD Taufik Rizani.

“Jika Iwan Kabur, maka kita akan tuntut sang penangung jawab (Taufik Rizani, red). Sebab dia yang menjamin penangguhan tahanan Iwan,” ungkap AKBP Sunandar. Dalam waktu dekat ini, Polres Belitung akan mengirim tersangka beserta berkas P21 dan barang bukti ke Kejaksaan Negeri Belitung.

Diberitakan sebelumnya, aparat kepolisian dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Belitung menegaskan, proses hukum terhadap pemilik Stasiun Pengisian Diesel Nelayan (SPDN) Telok Dalam Iwan, tetap berjalan. Proses hukum terhadap tersangka penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar ini, tidak akan terpengaruh dengan aksi demo puluhan masyarakat di DPRD Belitung, Senin (16/1) lalu.

“Demo mereka (Pendukung Iwan,red) tidak mempengaruhi proses hukum yang saat ini terus berjalan,” ujar Kapolres Belitung AKBP Sunandar, kepada Belitong Ekspres, di Mapolres Belitung, Selasa (17/1).

Sebagaimana dalam aksi demo, puluhan masyarakat Tanjung Tinggi dan Juru Sebrang, meminta keputusan serta sikap Pemerintah Daerah (Pemda) untuk menyikapi persoalan SPDN di Dusun Telok Dalam dan Desa Tanjung Tinggi.

Pasalnya, sejak tersandung masalah hukum SPDN tersebut sudah cukup lama tidak beroperasi dan melayani kebutuhan masyarakat. Pemilik SPDN iwan, ditetapkan sebagai tersangka, karena dugaan menjual solar tidak cukup takaran dan di atas harga eceran tertinggi (HET).

Namun dalam audiensi di DPRD perwakilan masyarakat Boni Fahriansyah mengungkapkan, Iwan hanya menjadi korban kriminalisasi dan dizholimi rekan bisnisnya. Penggrebekan oleh polisi di SPDN juga berasal dari laporan oknum rekan bisnisnya tersebut. Lantas, itu berdampak pada penutupan SPDN milik tersangka.

Kapolres Belitung menyatakan saat ini berkas dan pelaku siap dilimpahkan ke Kejari Belitung. Sebab, beberapa waktu lalu Penyidik Polres Belitung sudah mengirim berkas P21 ke Kejari Belitung.

Dalam kasus ini, polisi menjerat tersangka dengan Pasal 55 Undang-undang nomor 22 tahun 2001 Tentang Mineral dan Gas (Migas), ancaman hukuman enam tahun penjara. “Unsur-unsur itu sudah dipenuhi,” ujar AKBP Sunandar.

Dijelaskan AKBP Sunandar, unsur itu di antara lain, pelaku menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar tak sesuai dengan takaran. Misalnya, pembeli membeli solar sebanyak 20 liter, namun di dalam isi jerigen itu tidak sampai 20 liter, yakni 19.

Selain itu, unsur lainnya pelaku menjual BBM jenis solar itu melebihi harga HET yakni Rp 5250 per liter kepada pengerit. Sedangkan dijual kepada nelayan Rp 5150 per liter.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, polisi melakukan penahanan terhadap Iwan. Namun, setelah beberapa hari menjalani kehidupan di sel, Iwan mengajukan penangguhan tahanan (Tahanan luar).

Awalnya Polres Belitung menolak, namun akhirnya penangguhan itu disetujui lantaran Ketua DPRD Kabupaten Belitung Taufik Rizani, menjamin penangguhan tahanan tersebut.

Sementera itu, hingga berita ini diturunkan ketua DPRD Belitung Taufik Rizani belum dapat diminta tanggapan terkait selaku penjamin penangguhan penahanan tersangka Iwan. (kin)