Jadi Saksi Kasus Tragedi Sijuk, Begini Keterangan Wagub Dalam Persidangan

by -
Jadi Saksi Kasus Tragedi Sijuk, Begini Keterangan Wagub Dalam Persidangan
Wagub Babel Abdul Fatah usai menjalani sidang pemeriksaan saksi di PN Tanjungpandan, Selasa (5/1) kemarin.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Wakil Gubernur (Wagub) Bangka Belitung (Babel) Abdul Fatah dan Kasatpol PP Provinsi Babel Yamoa’a Harefa, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan kasus tragedi Sijuk di Pengadilan Negeri Tanjungpandan, Selasa (5/1) kemarin.

Keduanya memberikan keterangan terkait peristiwa pengeroyokan, penganiyaan dan pengerusakan dalam kasus kericuhan penertiban tambang ilegal di kawasan Sijuk tersebut. Selain itu, juga sejumlah saksi dari Satpol PP Provinsi Babel, juga dihadirkan. Mereka adalah Feri, Foreman, Rullah dan Nurul.

Di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Anak Agung Niko Brama Putra didampingi Hakim Anggota Rino Adrian dan Andri, keenam saksi ini menjelaskan peristiwa yang diketahuinya. Wagub menjelaskan, dia sudah mengetahui adanya razia yang dilakukan Satpol PP. Yakni di Kabupaten Belitung dan Beltim.

Setelah itu, dia mendapat informasi untuk razia di Kabupaten Beltim dibatalkan. Sebab, diduga bocor. Pada saat dilakukan pengecekan di lokasi yang ada di Beltim tidak ada aktivitas penambangan.

Mengetahui hal tersebut, akhirnya Wagub langsung memutuskan untuk melakukan razia di kawasan Tanjung Siantu Sijuk, Kabupaten Belitung. Pasalnya, dia sering mendapatkan laporan di kawasan Hutan Lindung itu marak aktivitas pertambangan.

Pada saat hendak berangkat ke Tanjung Siantu, Sijuk tepatnya pada awal November 2019, dia memberikan arahan kepada ratusan anggota Satpol PP yang akan berangkat menuju ke lokasi penambangan tersebut.

“Saat itu kami memberikan arahan, agar melakukan razia dengan cara yang bermartabat. Bahkan saat mendatangi lokasi, Satpol PP tidak membawa senjata apapun,” terang Wagub Babel di hadapan Majelis Hakim.

Wagub yang rencananya tidak ikut dalam kegiatan penertiban ini akhirnya memilih untuk bergabung. Sebab, ia ingin memantau secara langsung kondisi di lapangan. Dia berangkat dengan menggunakan mobil dinasnya menuju ke lokasi. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki, karena titik lokasi tambang harus ditempuh beberapa Km.

Ditambah lagi, akses jalan menuju tempat penambangan timah ilegal itu tidak memadai. Sebelum memasuki titik lokasi, Fatah melihat adanya dua mesin beroperasi. Lalu dia mendatangi tempat tersebut bersama Yamoa’a.

Sedangkan, para anggota bersama Kasi Ops Satpol PP Provinsi Bangka Belitung Sandi menuju ke titik lokasi tambang. Selang beberapa lama, dia melihat adanya kepulan asap tebal di tempat yang cukup jauh dari dia berhenti.

Melihat itu, dia bersama Satpol PP lainnya langsung menuju ke lokasi. Setiba di tempat terjadinya kebakaran tersebut, Fatah melihat massa yang cukup banyak. Massa lalu mempertanyakan “kenapa dibakar,” kata Fatah.

Lantas, massa dan Satpol PP sempat berdialog. Namun warga yang sudah emosi akhirnya melakukan penyerangan terhadap Anggota Pol PP. Fatah menyaksikan warga ada yang membawa senjata tajam jenis parang. Lalu menyerang anggota Satpol PP.

“Lalu kami berusaha untuk berunding. Akhirnya para penambang meminta ganti rugi. Serta meminta anggota Satpol PP untuk mengembalikan alat yang diangkut ke tempat semula,” ungkapnya.

Kemudian, warga meminta ganti rugi, namun kesepakatan dilakukan di Kantor Camat Sijuk. Tak selang beberapa lama akhirnya datang Tim Pengamanan dari TNI maupun Polres Belitung. “Pada saat kita menuju ke lokasi, kami melihat mobil dinas dan kendaraan lain juga mengalami kerusakan cukup berat,” pungkasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Yamoa’a beserta saksi dari Satpol PP Provinsi Babel lainnya. Akan tetapi kata Yamoa’a, dia tidak tahu adanya peristiwa pembakaran terhadap alat TI milik penambang tersebut.

Bahkan pada saat melakukan razia, dia tidak pernah memerintahkan anak buah untuk melakukan pembakaran terhadap ponton tersebut. “Saat itu kami bersama wagub. Tepatnya cukup jauh dari lokasi,” ucapnya. (kin)