Jaga Pangan Distanhut Beltim Cetak Sawah

by -

MANGGAR – Ketersediaan dan kecukupan pangan di daerah merupakan keharusan yang tidak bisa dikesampingkan. Untuk itu, diperlukan inventarisir permasalahan ketahanan pangan agar diselesaikan sesegera mungkin.

Kabupaten Belitung Timur (Beltim) termasuk salah satu Kabupaten pemekaran yang berada satu pulau dengan Kabupaten Belitung. Pasokan pangan di Kabupaten Beltim selama ini, masih bergantung pada distribusi dari Kabupaten Belitung sebagai wilayah yang memiliki pelabuhan.

Mengenyampingkan hal tersebut, Pemerintah daerah Kabupaten Beltim melalui Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) telah melakukan berbagai langkah konkret. Yakni melalui perluasan areal tanam sawah dengan mengupayakan cetak sawah di beberapa wilayah pertanian.

Tahun 2015, melibatkan TNI, kawasan persawahan di Danau Nujau dan Danau Meranteh difokuskan pada operasi khusus (Opsus). Sayangnya, kemarau panjang dan dampak El Nino membuat hasil panen belum maksimal. Namun demikian, perluasan lahan melalui program cetak sawah terus diperluas.

“Kalau diamati secara alami, khusus cetak sawah agak terganggu karena kemarau panjang atau El Nino. Realisasi land clearing yang ditargetkan 870 hektar, baru setengahnya terealisasi. Fokusnya di Danau Nujau I dan II, serta Danau Meranteh I dan II,” ungkap Kepala Distanhut Beltim melalui Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Supardi, kepada Belitong Ekspres, Senin (2/11) kemarin.

“Terkait opsus, kemarau panjang membuat keterlambatan musim taman. Sekarang harusnya sudah masuk musim tanam okmar (Oktober-Maret) tetapi kenyataannya belum maksimal,” sambungnya.

Menurut pria yang akrab disapa Pardi, sistem irigasi ke wilayah pertanian juga masih dalam tahap perbaikan. Jika selama ini saluran irigasi nyaris tidak berfungsi, tahun 2015 bertahap di bangun ulang.

“Irigasi sekarang mulai dari bendung utama Pice yang berkaitan dengan wilayah irigasi Selinsing (DI Selinsing, Danau Nujau-Meranteh, red) sudah diperbaiki. Secara keseluruhan sarana irigasi memang dibangun menggunakan ABPN dan APBD Provinsi. Yang selama ini terlihat asal-asalan, sekarang sedang direhab ulang,” terangnya.

Jika rehab saluran irigasi selesai, ditargetkan satu kawasan yang harus terairi irigasi di Danau Meranteh sekitar 1.500 hektar dari rencana seluas 3.000 hektar cetak sawah.

“Kita sudah ada RTRW pertanian, sejauh ini belum ada pengalih fungsian lahan,” tukasnya.

Di sisi lain, upaya mewujudkan ketahanan pangan dilakukan melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari dan Desa Mandiri Pangan Kawasan dan Non Kawasan.

“Untuk Program Kawasan Rumah Pangan Lestari sasarannya ibu-ibu untuk memanfaatkan lahan pekarangan bertanam sayuran dengan maksud mencapai Pola Pangan Harapan. Sedangkan Desa Mandiri Pangan Kawasan dan Non Kawasan adalah Desa dan Kecamatan yang memiliki kriteria 30 persen rumah tangga miskin. Saat ini sudah memasuki tahun ke-3 berjalan,” tandas Pardi. (feb)