Jamro Mangkir dari Persidangan

by -

//Kejari: Tersangka Baru, Kenapa Tidak?

PANGKALPIPINANG – Bupati Bangka Selatan (Basel) H. Jamro mangkir dari persidangan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Bangka Belitung (Babel) pada Pengadilan Negeri (PN) Pangkalpinang, sebagai saksi dalam kasus pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Basel.
Padahal kehadiran Jamro yang dipanggil oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai saksi fakta terakhir dalam kasus yang diduga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 2,2 miliar tersebut sangat diperlukan. Namun alasan ketidakhadiran bupati karena pada waktu bersamaan, Selasa (8/4) kemarin, ia menghadiri rapat paripurna terkait penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPj) tahun 2014 bersama DPRD Basel.
Kepada wartawan usai persidangan, diungkapkan Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Basel, Eriyanto,SH, pihaknya telah menerima surat permohonan secara resmi dari bupati untuk dilakukannya penjadwalan ulang terhadap pemeriksaan dirinya sebagai saksi. “Beliau (Jamro,red) ada acara di DPRD dan meminta waktu agenda ulang minggu depan. Suratnya juga sudah kita serahkan ke majelis,” terangnya.
Dengan adanya surat tersebut, majelis yang dipimpin Sutaji,SH.MH akhirnya menunda persidangan hingga Selasa pekan depan. “Saksi tinggal Pak Jamro, dimana kapasitasnya sesuai dengan pemanggilan penyidik keKarin karena beliau selaku kepala daerah otomatis beliau dapat laporan dari pihak rumah sakit terkait proyek itu. Jadi apa yang diketahui dan apa yang didengar itu yang ingin diketahui dari kesaksiannya,” beber Eriyanto.
Ketika disinggung adanya kemungkinan hadirnya tersangka lain selain dua terdakwa yang saat ini disidangkan yakni Dokter Franseda, mantan Direktur RSUD Basel dan Yudistira selaku pemenang lelang, Eriyanto menegaskan tidak menutup kemungkinan akan adanya tersangka baru. Akan tetapi hal itu terlebih dulu dilihat dari perkembangan hasil pemeriksaan persidangan kedua terdakwa.
“Kalau ada alat bukti yang cukup kenapa tidak. Entah itu mengarah kemana apakah ke beliau (Jamro,red) atau ke yang lainnya akan kita ungkap di persidangan nantinya. Karena Pak Jamro untuk sampai saat ini berdasarkan BAP masih menjadi saksi. Kita bicara hukum, sepanjang ada 2 alat bukti tidak hanya bupati saja,” tegasnya.
Sementara Penasehat Hukum (PH) Yudistira, David Wijaya,SH mengomentari atas ketidakhadiran Jamro pada sidang kali itu. Ia mengaku menyesalkan ketidakhadiran tersebut karena menganggap kehadiran Jamro sangat penting bagi kliennya. “Penting, karena dugaan perkara ini belum jelas apakah gratifikasi atau tipikor. Tapi dari berita selama ini adanya dugaan aliran gratifikasi atau aliran uang. Kita kaji terus, apa nanti ada tindak pidana lain seperti pemerasan dan suap,” terang David.
Peran Yudistira sendiri hingga terseret dalam perkara ini dikatakan David karena kliennya merupakan pemenang lelang alat operasi RSUD Basel tahun anggaran 2013 dengan pagu anggaran Rp 11,900 miliar atas nama PT Dwi Alit Perkasa. Sebelumnya RSUD Basel mendapatkan anggaran DIPA sebesar Rp 14 miliar khusus paket alkes. “Harus jelas dulu, klien saya ini yang terkait pengadaan alat operasi, yang disitu ada 66 item seperti alat bedah, rontgen dan lainnya,” imbuhnya.
Terpisah saat dihubungi Radar Bangka, Ketua Laskar Pemuda Basel, Adi Abing mengharapkan agar Jamro tetap dilakukan pemeriksaan dalam perkara ini. “Sangat kita sesalkan Pak Jamro tidak datang. Harapan kita kasus ini tetap tuntas. Kalau sampai tetap tidak datang pada sidang selanjutnya, kalau perlu ada upaya paksa untuk mendatangkan dia,” tutupnya. (rga)