Jika Buka Lagi dan Game Zone Terindikasi Judi, Jangan Ada Toleransi

by -
Tare Optimis Perekonomian di Belitung 2020 Membaik
H Muchtar Mutong (Tare).

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Tokoh masyarakat, H. Muchtar Motong angkat bicara terkait tutupnya tempat permainan ketangkasan game zone di Kabupaten Belitung. Hal itu menyusul penggerebekan arena judi green Zone di Pangkpinang beberapa waktu lalu.

Menurut pria yang akrab disapa Haji Tare’ ini, aneh rasanya jika tempat-tempat indikasi judi tersebut baru ditutup sekarang. Sebab, selama dua tiga tahun ini tempat-tempat tersebut berjalan di wilyah Kecamatan Tanjungpandan, Belitung.

“Kenapa tiba-tiba tutup, jadi selama ini kenapa dilegalkan kalau memang itu adalah judi? kenapa baru sekarang? Jangan-jangan ada izinnya untuk permainan ketangkasan itu,” tegasnya kepada Belitong Ekspres, Rabu (19/2) kemarin.

Ia mempertanyakan lagi, kenapa game zone di Belitung baru ditutup setelah adanya tim dari Mabes Polri yang turun langsung untuk menutup game zone yang ada di Pangkalpinang beberapa waktu lalu. Sekali lagi ia menegaskan, kenapa tidak dari dulu.

Harusnya kata H Tare’, pihak yang berkepentingan dan pihak yang paling berwewenang serta yang paling berkompeten menghadapi maupun menanggapi permainan yang berbau judi ini. Seharusnya juga bukan karena hanya perintah atasan baru melaksanakan tugas namun bekerja berdasarkan undang-undang.

“Kalau memang itu judi kenapa tidak dari dulu gitu loh, kenapa baru sekarang, seharusnya mereka bekerja berdasarkan atas nama undang-undang,” tegasnya lagi.

Hal tersebut diutarakannya lantaran, ia selalu melihat perkembangan di media cetak dan media sosial beberapa hari belakangan ini mengenai banyaknya permainan ketangkasan yang berbau judi ini. Bahkan katanya, pada televisi pun ikut meramaikan akan penggrebekan permainan ketangkasan berbau judi ini.

Sementara itu, menurutnya, tutupnya tempat-tempat permainan ketangkasan di Belitung ini disebabkan dua faktor. Yang pertama, ada yang secara sadar yakni kesadarannya sendiri dari pemilik game zone itu karena ketakutan sehingga tutup. Kedua, Ada yang tutup tapi mungkin ada yang menggerakkan untuk ditutup.

“Ada secara sadar tutuk karena ketakutan dan bisa juga ditutup karena ada yang menggerakan untuk ditutup, ada yang memberi perintah secara diam-diam, tutup kau (game zone) untuk sementara misalnya, kan bisa seperti itu, pahami bahasa itu,” jelasnya.

Untuk itu, ia meminta kepada masyarakat Belitung untuk sama sama mengawasi dan menyadari ini, jika game zone ini buka lagi jangan ada toleransi lagi, kalau memang ini judi .

“Makanya saya minta juga masyarakat harus menyadari ini, jadi jelas kalau seandainya game zone ini buka lagi. Ini jelas kalau memang ini judi maka jangan ada lagi toleransi. Jangan ada lagi tokoh agama dan tokoh masyarakat yang kalah argumentatif, ini harus disikapi,” pungkasnya. (fg6)

Editor: Yudiansyah