Jika Ditambang Terus Belitung Bisa Tenggelam

Sanem menjadi inspektur upacara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) dan Hari Lingkungan Nasional ke 26 di Halaman Kantor Bupati Belitung, Senin (24/6).

Sanem menjadi inspektur upacara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) dan Hari Lingkungan Nasional ke 26 di Halaman Kantor Bupati Belitung, Senin (24/6).

Pengiriman Mineral Tambang Dibatasi Sampai Tahun 2022

RajaBackLink.com

belitongekpres.co.id, TANJUNGPANDAN – Bupati Belitung Sahani Saleh (Sanem) menyoroti beberapa dampak terkait persoalan tambang. Sebab, dampak dari kegiatan pertambangan itu dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menurutnya, aktivitas tambang yang ada di Belitung ini cukup banyak. Ada tambang kaolin, tambang pasir kuarsa, dan pasir bangunan. Namun, jika dikelola secara proposional maka tidak akan berdampak langsung.

Hal itu disampaikan Sanem kepada Belitong Ekspres usai menjadi inspektur upacara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) dan Hari Lingkungan Nasional ke 26 di Halaman Kantor Bupati Belitung, Senin (24/6) kemarin.

“Kalau sekarang dampak lingkungannya, di bagian darat ini sudah terasa, dan itu bisa dilihat sendiri. Lihat sendiri saja, buaya sudah makanek urang (memangsa manusia), dan di Belitung ini sudah banyak kejadiannya. Ini yang kami sayangkan, kurangnya kesadaran dari penambang,” kata Sanem.

Baca Juga:  Fordas Beltim Hijaukan Tebat Gadong dengan Pohon Buah

Sanem juga mencontohkan, aktivitas tambang ini bukan hanya memberikan dampak kepada satu atau dua orang saja. Misalnya aktivitas tambang di seputaran kolong PDAM di Air Serkuk, beberapa waktu lalu dinilai sangat merugikan orang banyak.

“Itukan sumber air PDAM, masih juga di tambang, itukan merugikan orang banyak. Kami inginnya tidak ada lagi istilah harus mengerahkan Satpol PP dan aparat untuk membangun kesadaran penambang ini, kami ingin tangkap tindak sesuai dengan UUD Lingkungan Hidup,” tegas Sanem.

Oleh karena itu, kedepan dia berharap penataan lingkungan di Kabupaten Belitung harus lebih dilakukan secara profesional pengelolaannya. Sehingga kerusakan lingkungan di Kabupaten Belitung tidak semakin para dari sebelumnya.

Maka dari itu, pemerintah kini juga sudah mencanangkan sampai pada tahun 2022 mendatang, tidak ada lagi bahan baku mineral berupa hasil tambang beserta ikutannya keluar dari Pulau Belitung.

Baca Juga:  Fordas Beltim Hijaukan Tebat Gadong dengan Pohon Buah

“Kami batasi seperti itu caranya adalah mungkin dari segi pelabuhan. Sebab kalau tidak dibatasi seperti itu, lama ke lamaan bisa tenggelam pulau ini. Nah itu banyak sekali yang mengajukan nambang, tapi yang sudah-sudah kalau urusan reklamasi ini yang tidak ada, apalagi yang ilegal,” papar Sanem.

“Nah itulah yang merusak lingkungan. Sedangkan kami sendiri sudah berupaya, untuk pemanfaatan betul-betul untuk mensejahterakan rakyat kita mengembangkan untuk kawasan indusri, sudah ada pabrik keramik dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Sementara itu Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Belitung Edi Usdianto mengapresiasi HLHS sebagai suatu langkah momentum untuk melakukan pembenahan, pembaharuan terutama persoalan kebersihan di Kabupaten Belitung.

“Kita melihat, permasalahan yang paling krusial adalah kesadaran masyarakat. Ini juga sudah menjadi tugas kami untuk melakukan upaya sosialisasi dan edukasi kepada masyarkat kita terkait persoalan tambang,” katanya. (dod)

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply