Junaidi Derani Menuju Pemulihan, Perbedaan Hasil Tes PCR Itu Wajar

by -
Junaidi Derani Menuju Pemulihan, Perbedaan Hasil Tes PCR Itu Wajar
Jumpa pers terkait perbedaan hasil tes Swab terhadap pasien JD (Junaini Derani), anggota DPRD Belitung, Rabu (5/8).

belitongkekspres.co.id, PANGKALPINANG – Tim medis Lab PCR Balai Labkesda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) akhirnya angkat bicara terkait perbedaan hasil tes Swab terhadap pasien JD (Junaini Derani), anggota DPRD Belitung, antara di Belitung dengan di Provinsi.

Dalam jumpa pers, Rabu (5/8) terkait hal tersebut, Spesialis Patalogi Klinis yang juga petugas di lab PCR Balai Labkesda Babel, Egha Zainur menjelaskan semuanya. Bahwa pihaknya sudah mendapatkan informasi dari RSUD dr. H. Marsidi Judono Belitung bahwa ternyata angka yang didapat pada uji PCR pihak RSUD menunjukkan yang bersangkutan memang sudah cenderung menuju pemulihan.

“Berdasarkan informasi dari sejawat spesialis patalogi klinis di RSUD Marsidi Judono angka yang didapat saat tes uji yang mereka lakukan cenderung menjelang ke arah pemulihan. Sehingga ini perlu dilakukan konfirmasi/tes Swab sebanyak dua kali lagi,” ujarnya.

Untuk hasil pertama, pihaknya mendapat hasil negatif namun belum hasil konklusif. “Belum bisa disimpulkan. Untuk itu kita diskusi bersama baik dengan dokter yang menangani dan dengan seiizin pimpinan serta tim ahli kami minta beliau agar jelas statusnya. Dilakukan tes Swab kedua, karena beberapa orang itu berbeda ada yang masa penyembuhannya lama sekali ada yang cepat. Jadi perlu dilakukan tes Swab sekali lagi sebagai bahan kesimpulan untuk menetapkan statusnya,” jelas Egha.

Hanya saja, sambung Egha, yang bersangkutan tidak berkenan dilakukan Swab kedua dan memilih untuk melakukan Isolasi di wisma karantina selama 10 hari. Jadi sesuai protokol dalam pedoman ke-5 Kementerian Kesehatan terkait dengan Covid-19 ada dua pilihan yang bisa dilakukan pertama isolasi selama 10 hari tanpa follow Up PCR. Bisa saja dengan syarat tanpa gejala, jika ada gejala ditambah 3 hari. Yang ke-2 dilakukan Swab minimal 2 kali dan kedua hasilnya harus negatif.

“Perbedaan hasil seperti ini adalah suatu yang wajar, karena sekali lagi kita ini mengecek kondisi virusnya sedang dalam saluran pernapasan kah atau sudah turun kah ini lah yang perlu kita pahami bersama sehingga secara kondisi tidak ada perlakuan yang berbeda dengan kita dan Belitung,” imbuhnya.

“Kami sangat menghargai hasil yang ada di Belitung kami terima hasilnya valid, karena kami juga sudah berkoordinasi dengan intens dan untuk update kondisi yang bersangkutan secara umum hasil komunikasi kami secara daring, kami dapati kondisi beliau baik,” imbuhnya.

Lebuh jauh, ia menerangkan, secara prinsip virus ini menyerang dan masuk dari saluran pernapasan sehingga akan ada perbedaan antara kondisi awal, kondisi tengah dan kondisi akhir.

“Dari kondisi tersebut, yang paling mudah didapat diagnostiknya yakni pada saat di kondisi tengah saat puncak-puncak virusnya, sementara pada kondisi awal potensi negatif palsu masih tinggi begitu juga dengan kondisi akhir,” jelasnya yang didampingi Kalakhar BPBD Babel Mikron Antariksa dan Kepala Dinas Kesehatan drg. Mulyono Susanto.

Egha melanjutkan, untuk meminimalkan potensi negatif palsu tersebut perlu dilakukan swab sebanyak dua kali, sebab itu jika hasilnya negatif sekali belum bisa menjadi jaminan dipastikan negatif.

“Sampling atau swab sudah dilakukan oleh petugas yang berpengalaman tetapi mesti demikian tetap saja potensi perbedaan, semisal adanya pergerakan yang dilakukan pasien saat diambil Swab, karena Swab harus benar diambil hingga bagian hidung belakang kemudian diputar jika virusnya cukup tinggi akan lebih mudah,” ungkapnya. (jua)