Jurnalis Belitong Ekspres Mengalami dan Menceritakan Langsung Kronologis Anarkis Massa Penambang di HL Geosite Tanjung Siantu

by -
Begini Kronologis Anarkis Massa Penambang di HL Geosite Tanjung Siantu
Begini Kronologis Anarkis Massa Penambang di HL Geosite Tanjung Siantu
Situasi pasca kericuhan antara petugas dengan massa penambang di HL Geosite Tanjung Siantu, Sijuk, Belitung. (Foto: Muchlis/BE)

Muchlis Ilham | Jurnalis Belitong Ekspres

BELITONGEKSPRES.CO.ID – JUM’AT malam (1/11/2019), saya dihubungi Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Abdul Fatah. Beliau meminta pendampingan kegiatannya di Kabupaten Belitung. Permintaan beliau saya penuhi setelah berkoordinasi dengan Redaktur Pelaksana Belitong Ekspres, Yudiansyah, walaupun sebenarnya saya bertugas di wilayah Kabupaten Belitung Timur. Sebab, selama ini beliau selalu meminta dampingan liputan pada saya jika berkegiatan di Belitung Timur.

Sabtu pagi, sekitar pukul 06.00 WIB saya bergegas menuju Tanjungpandan. Tujuannya mess Bougenville, tempat Wagub menginap. Waktu menunjukkan pukul 07.23 WIB, ketika saya sampai di mess Bougenville yang berada di Tanjung Pendam. Kebetulan, ada penjaga mess yang menyambut saya dengan ramah.

Kemudian saya bertanya keberadaan Wagub dan dijawab bahwa beliau sudah keluar mess sejak pukul enam pagi. Lalu saya menunggu beliau di selasar mess sambil menyeruput kopi yang disediakan penjaga mess. Sembari kontak sana sini, saya akhirnya mendapat kepastian beliau akan secepatnya balik ke mess.

“Pak Muhlis dimane? Aku suat agik ke mess,” ucap Wagub melalui sambungan seluler sekitar pukul 10.01 WIB dan saya jawab sesuai arahan beliau.

Tak lama berselang, beliau pun datang dan langsung menghampiri saya yang duduk di selasar samping mess. Sempat membuka obrolan sekenanya, beliau menyempatkan diri membaca koran yang terbit Sabtu (2/11/2019).

Hampir satu jam duduk, beliau mengajak saya menuju ruang utama mess untuk istirahat sejenak. Kurang lebih setengah jam kemudian, suara adzan Dhuhur terdengar dari arah masjid dan saya pun meminta izin pada beliau untuk menunaikan sholat.

Arahan Pak Wagub

Selepas sholat, beberapa mobil sudah disiapkan menuju lokasi penertiban tambang rajuk di kawasan HL Geosite Tanjung Siantu, Kecamatan Sijuk. Saya kebetulan berada satu mobil dengan Wagub bersama ajudan. Mobil dinas Wagub kemudian meluncur ke kantor perwakilan PU Provinsi, depan kantor Bupati Belitung.

Di sana, puluhan anggota Satpol PP dan Polisi Kehutanan sudah berkumpul untuk mendengarkan arahan dari Wagub. Sekitar 10 menit, Wagub memberikan arahan didampingi Kasat Pol PP Provinsi, Yamoa Harefa dan ditutup dengan do’a bersama.

Satu komando, seluruh anggota Satpol PP langsung naik ke kendaraan angkut menuju lokasi penertiban. Selama perjalanan, saya melihat Wagub sempat terlelap. Beliau sepertinya lelah, apalagi sejak pagi sudah menghadiri kegiatan latihan perang TNI AL.

Saat kendaraan dinas yang ditumpangi Wagub melepas jalur aspal menuju jalan timbunan ke lokasi, beliau lalu terbangun. Saya perkirakan, sekitar 10 menit menikmati jalan bergelombang untuk sampai di lokasi terdepan. Kendaraan memang tidak bisa mencapai titik lokasi yang berada di mangrove sehingga mengharuskan berjalan kaki.

Saya melihat, Wagub begitu semangat turun dari mobil sambil memakai terindak (pelindung panas khas Belitong) dan langsung berjalan menuju jembatan kecil yang terhubung ke lokasi penambangan rajuk. Langkah kecil dan sedikit cepat, saya ikuti beliau dari belakang.

Beliau bahkan tanpa basa basi, langsung menyeburkan kaki ke dalam air setinggi lutut menyusuri jalur berpasir ke titik lokasi penertiban. Setibanya di lokasi, beliau mulai memperhatikan kondisi sekitar yang mulai rusak akibat penambangan.

Tak banyak bicara, mungkin prinsip menden nang njero benar-benar dipegang beliau. Kepada saya, beliau hanya berpesan agar tolong didokumentasikan dengan baik. Saya jawab, baik pak.

Suasana Mulai Berubah

Atas perintah Kasat Pol PP Provinsi Bangka Belitung, puluhan anggota Satpol PP mulai melakukan upaya penertiban dengan menyeberangi lumpur mangrove setinggi pinggang dan dada orang dewasa. Beberapa peralatan tambang diamankan ke daratan yang lebih kering sambil diinventarisir.

Saya memang tidak menghitung jumlahnya, tapi sepenglihatan peralatan yang sudah dikumpulkan berupa selang, pipa, mesin-mesin dan pompa mesin.

Suasana berubah dan agak mulai terasa aneh. Bolak balik ada laporan bahwa ada sekelompok massa mendekat ke lokasi. Selang beberapa menit kemudian, dari arah seberang terdengar teriakan-teriakan dari massa yang belakangan diketahui sudah terlebih dahulu menghancurkan kaca mobil Wagub dan tim penertiban.

Ada yang terluka, kabarnya demikian. Sopir Wagub dan sopir mobil lainnya mengalami kekerasan fisik dari massa yang sudah terlanjur emosi. Perintah pun berubah, seluruh anggota Satpol PP yang masih berada di dalam hutan mangrove segera diminta berkumpul sambil membuat perlindungan untuk Wagub.

Tiba-tiba massa sudah dekat sambil mengacungkan kayu dan parang ke arah Wagub yang sudah siap menyambut. Wagub terlihat tegar dan bersiap melakukan diplomasi. Sesaat kemudian, posisi Wagub dan massa hampir tak berjarak. Makian dan teriakan tak henti-hentinya diucapkan sehingga membuat Wagub memilih menenangkan massa.

Rupa-rupanya, upaya Wagub seperti tidak digubris massa. Justru pukulan kayu dilepaskan kearah anggota Satpol PP dan seketika membuat suasana di luar kendali. Anggota Satpol PP yang memang tidak dilengkapi pengaman diri, memilih kocar kacir karena aksi massa sudah membabi buta mengejar ke segala arah.

Saya pun turut menyelamatkan diri mengikuti arah lari sekelompok anggota Satpol PP. Saya pikir, ini konyol kalau tidak lari. Saya juga khawatir keselamatan jiwa yang mungkin tidak diambil pusing oleh amukan massa.

Massa sepertinya berhasil membakar tumpukan pakaian dinas Satpol PP, tas, dompet, uang dan dokumen seperti KTP, SIM dan kartu kepesertaan BPJS.

Selang beberapa menit, upaya negosiasi kembali dilakukan. Anggota Satpol PP diminta kembali mendekat, membuat perlindungan di sekitar Wagub. Saya pun mendekat, walau jarak saya tidak sedekat anggota Satpol PP. Lagi-lagi saya khawatir akan keselamatan jiwa.

Namun, saya tergerak mendekat karena ada salah seorang anggota Satpol PP yang sudah terbaring dan diduga menjadi sasaran pemukulan massa. Sepertinya, anggota tersebut mengalami patah di bagian badan. Saya tidak tahu apakah benar-benar patah. Tetapi saya melihat, nafasnya tersengal dan berteriak kecil saat tubuhnya dicoba untuk duduk.

Sambil memohon, beberapa anggota Satpol PP mencoba meminta pengertian kepada massa bahwa korban harus segera dibawa keluar kerumunan dan diarahkan ke rumah sakit. Sampai di sini, massa tak merespon walaupun akhirnya membiarkan beberapa anggota Satpol PP membopong korban patah menuju keluar kerumunan.

Massa Pinta Wagub

Di bagian depan, negosiasi tetap dilakukan Wagub. Saya tak melihat jelas, tapi beberapa anggota Satpol PP mengatakan bahwa Wagub sempat terkena pukulan. Tapi apa guna, massa tetap meminta Wagub turun mengarungi mangrove berlumpur setinggi dada.

“Ya Allah, apalagi yang terjadi selanjutnya,” saya membatin.

Diiringi sejumlah anggota Satpol PP, Wagub ikhlas menyusuri mangrove. Sementara saya dan beberapa anggota Satpol PP lainnya diminta massa memikul mesin-mesin tambang agar dikembalikan pada posisi semula. Tak berani melawan, saya hanya mengikuti.

Sekitar enam orang, termasuk saya akhirnya memikul mesin yang beratnya terasa berat karena di bawah ancaman. Perlahan, kami pun memikul mesin sambil harap-harap cemas dan mencoba menghubungi bantuan.

Saya akhirnya berhasil menjalin kontak dengan rekan kerja yang sedang berada di kantor belitongekspres.co.id dan meminta segera menghubungi pihak Polres Belitung. Saya kabarkan seperlunya via telepon karena kualitas jaringan seluler sangat buruk yang ditandai komunikasi terputus-putus.

Sekitar satu jam kemudian, dari sela-sela dedaunan mangrove saya melihat Wagub sudah balik arah ke daratan sambil dibantu anggota Satpol PP. Teriakan massa pun sudah mulai mereda, yang akhirnya kami merasa cukup aman keluar.

Berjalan keluar sambil tertunduk, agar jangan memicu emosi massa yang masih berada di sekitar lokasi. Saya melihat Wagub berada di barisan depan diikuti sebagian anggota Satpol PP menuju parkiran mobil. Semua terdiam, tak banyak bicara sambil mengamati situasi.

Sesampainya di parkiran mobil, pemandangan berupa kaca mobil pecah berserakan di mana-mana. Sempat mencari-cari keberadaan sopir, tapi rupa-rupanya mereka juga kabur menyelamatkan diri. Saya tidak tahu pasti kondisi mereka, tapi kabarnya juga mengalami memar akibat pukulan massa.

Sempat menenangkan diri, Wagub kemudian dievakuasi menuju kantor Kecamatan Sijuk. Kabarnya, mediasi akan dilakukan di sana. Sementara kami masih sedia di lokasi sambil mengamati kondisi sekitar. Wajar saja, rasa khawatir tetap saja terbayang.

Sekitar Dua Jam Kemudian

Sekitar pukul 16.30 WIB, barulah datang Babinsa dan ikut membantu mengumpulkan anggota Satpol PP yang masih kocar kacir di antara hutan mangrove. Mendekati petang, barulah semua anggota Satpol PP dan tim penertiban lainnya berkumpul.

Ada sebagian menahan sakit akibat pukulan. Sebagian lagi, mengumpulkan data kelengkapan anggota tim dan mendata kendaraan rusak. Sejauh itu, tidak ada yang menggeser kendaraan karena masih menunggu tim ident Reskrim Polres Belitung.

Hari sudah gelap, lelah badan juga masih belum lepas. Unit ident Reskrim Polres Belitung tiba di lokasi dan melakukan olah TKP. Satu persatu mobil diperiksa, total ada 7 kendaraan yang rusak dan satu sepeda motor.

Menyusul kemudian, tim penyelamat Brimob datang ke lokasi menggunakan bus untuk mengangkut anggota Satpol PP menuju Polsek Sijuk. Barulah sedikit merasa aman setelah keluar dari lokasi.

Di tempat lainnya, tepatnya kantor Kecamatan Sijuk, mediasi sedang berlangsung. Wagub didampingi Kapolres Belitung dan Dandim Belitung serta Kasat Pol PP Provinsi berbicara kepada sejumlah massa. Sampai tulisan ini saya buat, saya masih gagal paham kenapa mediasi berakhir damai begitu saja.

Bagaimanapun korban sudah berjatuhan. Harusnya, biarlah ada proses hukum bagi pelaku, sebab kerugian bukan hanya soal materi.

Saya masih salut dengan kekuatan dan keberanian Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Abdul Fatah, saat menghadapi tekanan. Semoga sehat selalu Wagub. Apapun yang telah beliau lakukan, tentunya demi kebaikan bersama. (*)