Kapal Wisata Mewah Beltim Terbakar

by -
PTT Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Beltim, yang bekerja sebagai penjaga malam, Riswan (64) saat menunjukan posisi bagian belakang kapal yang terbakar, di pelabuhan ASDP Manggar, Kamis (14/7) kemarin.

 

PTT Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Beltim, yang bekerja sebagai penjaga malam, Riswan (64) saat menunjukan posisi bagian belakang kapal yang terbakar, di pelabuhan ASDP Manggar, Kamis (14/7) kemarin.

* Beruntung Tidak Semua Badan Kapal yang Dilahap Api

MANGGAR-Kapal mewah milik Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) yang bernamakan KM.Cahaya Pelangi terbakar saat bersandar di pelabuhan ASDP Manggar, Rabu (13/7) malam sekira pukul 21.10 WIB.

Terbakarnya kapal wisata mewah tipe azimut ini diketahui berawal dari adanya gumpalan asap tebal di bagian belakang kapal tersebut. Beruntung kapal wisata bernilai miliaran rupiah ini tidak sampai dilahap habis si jago merah. Api hanya melahap bagian belakang dan ruang tamu kapal itu.

Menurut PTT Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Beltim, yang bekerja sebagai penjaga malam kapal, Riswan (64) mengatakan sekira pukul 20.45 WIB dirinya hendak masuk kamar jaga untuk tidur. Namun saat baru merebahkan badan ia mencium adanya bau asap disertai belerang.

“Pas mencium bau asap yang disertai belerang, langsung saya bangun dan melihat adanya gumpalan asap di bagian plapon belakang. Dan, barulah saya sadar jika ada api membakar yang kapal tersebut,” aku Riswan kepada Belitong Ekspres, Kamis (14/7) kemarin.

Atas kejadian kebakaran itu, Riswan dengan segera memberitahukan kepada rekannya Tito. Kemudian mereka langsung bergegas melaporkan ke pihak Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP Beltim. Ia pun masih bingung dan tidak bisa memastikan penyebab kapal itu tersulut api. Sebab, sebelumnya tidak ada percikan api rokok dan lain sebagainya.

“Jika dikatakan karena api rokok, jelas saya sendiri tidak merokok, dan pada saat itu pula semua mesin tidak ada yang dihidupkan. Bahkan lampu pun hanya mengambil aliran listrik dari darat, dan memang pada malam itu juga sekitar lokasi dalam keadaan sepi,” ungkap Riswan.

Namun demikian, ia tidak menampik kemungkinan jika ada kabel-kabel kecil yang rusak. Api pada saat itu sempat membesar namun berkat bantuan tim Pemadam kebakaran Satpol PP Beltim akhirnya bisa dijinakan dan tidak sempat menghanguskan semua badan kapal.

“Kapal masih bisa jalan, karena mesin juga masih bisa dijalankan, bahkan dibagian lain masih utuh. Dan yang dilahap api hanya di bagian belakang di ruang tamu kapal tersebut. Itupun memang ada kursi sofa yang terbuat dari busa, dan banyaknya triplek yang mudah terbakar,” terang Riswan.

Riswan yang bertugas sebagai penjaga malam mengaku sudah dimintai keterangan terkait terbakarnya kapal KM.Cahaya Pelangi tersebut. Selain itu, 2 orang rekannya PTT Dishub Beltim juga sudah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

Sementara itu, Kepala Dishub Beltim, Kusumajaya melalui Kasie ASDP yang mengelola kapal, Setiawan Indrajaya membenarkan adanya kebakaran pada kapal KM.Cahaya Pelangi. Namun ia juga mengungkapkan tidak semua kondisi kapal rusak semua. Sebab yang terbakar hanya di bagian belakang dan ruang tengah/tamu kapal.

“Mesin dan bagian depan kapal masih baik, jadi tidak semua kondisi kapal hangus dan terbakar,” jelas pria yang akrab disapa Tio ini.

Di sisi lain Kasat Pol PP Beltim, Sudiono, melalui Kasi Damkar, Heriono mengatakan, pada kejadian kebakaran itu, pihaknya sempat menurunkan 3 unit mobil damkar dengan unit 01, 03 dan 04.

“Mendapat laporan ada kebakaran pada KM.Cahaya Pelangi, kami langsung menurunkan 3 unit mobil damkar. Api baru bisa dipadamkan beberapa waktu kemudian dan sampai melaha

p seluruh badan kapal,” ujarnya.

Kapal wisata mewah milik Pemkab Beltim ini, diketahui memiliki kapasitas 610 power horse double mesin dan menggunakan BBM jenis solar daya jelajah 25 knot. Kapal ini mampu membawa penupang 30 orang ini, memiliki panjang 18 meter lebar 4,5 meter, body kapal terbuat dari fiber glas, draf 8,9 meter. Kapal mewah yang dibeli seharga Rp.3,9 miliar ini, terakhir digunakan pada satu bulan Mei lalu sebelum memasuki Ramadan 1437 H. (feb)