banner 728x90

Kasatpol PP Babel Jadi Tersangka Dugaan Penipuan

Life at ease with amazing nature| Leebong island
Kepala Satpol PP Babel Yamoa

Kepala Satpol PP Pemrov Bangka Belitung, Yamowa’a Harefa. (Foto Twitter Dewan Pers).

Hutang ‘Dugem’ di Global Club?

belitongekspres.co.id, PANGKALPINANG – Setelah sekian lama penyidikan berlangsung, akhirnya Direktorat Reskrimum Polda Bangka Belitung (Bael), menetapkan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemrov Babel, Yamowa’a Harefa, sebagai tersangka dugaan penipuan.

Namun sebelum menyandang status tersangka penyidik telah terlebih dahulu memeriksa Yamoa sebanyak 2 kali. “Penetapan tersangka ini setelah kita lakukan dua kali pemeriksaan terhadap yang bersangkutan. Saat awal diperiksa dulu, statusnya sebagai terlapor. Baru yang kedua sebagai tersangka,” kata Kasubdit Jatanras AKBP Wahyudi.

Dalam kasus ini dikatakan Wahyudi, Sekjen Pemuda Pancasila itu dikenakan pasal 378 tentang penipuan. Adapun ancaman hukuman yang akan diterima Yamoa maksimal 7 tahun hotel prodeo. “Dia sudah kita periksa selaku tersangka namun tidak ditahan. Kita menilai tersangka masih kooperatif, tidak melarikan diri serta tidak menghilangkan barang bukti,” ucap perwira dengan 2 melati di pundak.

Pelaporan Polisi sendiri bermula dipicu oleh Manajer Global Executive Club, Fahrizal Noviansyah, menyatakan Yamoa’a Harefa diduga telah melakukan tindak pidana penipuan, penggelapan dan atau pemerasan uang sebesar Rp 21.725.000, lantaran tidak berniat baik dalam menyelesaikan pembayaran bill makan minum di tempat hiburan malam beberapa kali.

“Tagihan yang harus dibayar oleh Yamoa merupakan bill setelah beberapa kali berkunjung bersama beberapa orang. Pada bulan April, Juni dan terakhir pada tanggal 13 Juli 2019,” kata Fahrizal.

Pihak Global Club sudah berupaya melakukan berbagai cara penagihan. Mulai dari menghubungi lewat telepon, WA maupun datang langsung ke kantor. “Tetapi, ada saja alasannya,” ungkap Fahrizal Noviansyah.

Tidak cukup di situ, Fahrizal Noviansyah mengungkapkan terkait masalah tersebut bukan pembayaran yang diterima melainkan justru ancaman. Dimana Yamoa mengatakan akan mengerahkan anggota Sat Pol PP untuk merazia. Dan ternyata ancaman itu memang dilakukan pada Jumat malam (19/7).

“Saya memiliki tanggungjawab dan laporan, maka jalan terbaik saya laporkan ke Polisi. Biarlah diselesaikan penegak hukum,” ujarnya gamlang.

Sebelumnya, laporan Polisi membuat Yamowa’a Harefa, meradang karena tidak terima dipolisikan itu. Dia mengklaim pihaknya sudah memiliki niat baik untuk membayar walau baru dilakukan pada Selasa sore (23/7) persisnya sekitar pukul 16.30 WIB.

Akhirnya dia melapor balik ke Polda Bangka Belitung, namun naas laporan tersebut ditolak. Dia melaporkan balik tersebut siang kemarin dengan didampingi oleh pengurus Pemuda Pancasila seperti Ansori dan Fahrizan als Buntuk.

“(Setelah ditolak) makanya saya bilang tadi (ke penyidik) oke besok saya akan datang ke Polda pakai baju Pol PP. Alasan mereka (penyidik) belum mau menerima laporan karena menunggu gelar kasus, mereka berjanji akan secepatnya memberikan hasilnya, itu dari pak penyidiknya tadi. Pokoknya (baginya) secepatnya. Kalau bisa malam ini saya mau bikin laporan balik,” ucap Yamoa saat keluar dari ruangan SPKT Polda.

Yamoa juga merasa keberatan dalam kasus ini institusi Satpol PP terseret. Baginya ini semua merupakan 2 institusi berbeda. “Kenapa harus dibawa Kasat Pol PP (dalam kasus ini), karena kita institusi berbeda dengan Pemuda Pancasila. Makanya organisasi Pemuda Pancasila juga akan melaporkan secara organisasi,” tuturnya.

Dicecar benar tidaknya soal laporan polisi yang dimuat pihak “club dugem” itu Yamoa tidak mau merinci jelas. Dia berdalih semua sudah diselesaikan. “Saya juga tidak tahu, soalnya sampai setengah 5 sudah dibayar. Sudah sampai setengah 5 juga masih komunikasi,” elaknya. Apakah Pak Gubernur sudah tahu persoalan ini. ”Ya pastilah,” tukasnya.

Apa pesan Gubernur? dia aku memonitor saja. “Ya orang sebesar itu tahulah, monitor pasti. Tapi tidak semuanya saya ceritakan (kepada wartawan.red),” elaknya lagi.

Namun sayangnya, ketika Babel Pos kembali beberapa kali berupaya menghubungi Yamoa, tidak membuahkan hasil. Bahkan hingga tadi malam belum didapat jawaban dari yang bersangkutan.

Sementara itu Kabid Humas Polda Bangka Belitung, AKBP Maladi, membenarkan pihaknya telah menerima laporan Global Club dan menolak sementara terkait pelaporan Yamoa. Pasalnya penyidik harus terlebih dahulu mempelajari laporan yang dimuat pihak pelapor yakni Global Club. “Masak usai dilapor langsung melapor balik, nanti dulu. Penyidik mempelajari dulu laporan awal yang masuk,” kata Maladi.

Menurut Maladi saat ini penyidik sedang mempelajari terkait dari pihak Global Club. “Nanti saksi-saksi diperiksa dulu, betul tidak kenyataan seperti yang dilaporkan. Yang jelas penyidik sedang mempelajari dan mendalami kasus ini,” tandasnya.

Di tempat terpisah Komandan Koti Mahatidana, Pemuda Pancasila Kota Pangkalpinang, Deki Kurniawan angkat bicara terkait kisruh laporan manajemen salah satu tempat hiburan dengan Kasat Pol PP Babel, sekaligus petinggi PP.

Menurut Deki, laporan yang dibuat Fahrizal manajer tempat hiburan tersebut kepada Yamoa’a tidak tepat sasaran. ”Yang berhutang itu kami, tidak ada kaitannya dengan Pak Yamoa,” tegas Deki.
Dijelaskannya, alasan berhutang itu lantaran MPC Pemuda Pancasila kota Pangkalpinang menggelar Musyawarah Cabang Pemuda Pancasila kota Pangkalpinang 13 April 2019 lalu.

”Kami berhutang itu, setelah acara pemilihan ketua MPC PP kota Pangkalpinang, kami bermaksud merayarakan kemenangan dan mengajak tamu dari pusat untuk entertaint. Tapi kami kekurangan dana, makanya kami berhutang. Tapi itu sudah dilunasi,” jelas Deki.

Dijelaskannya lebih lanjut, persoalan laporan utang yang dialamatkan ke Kasatpol PP Provinsi itu jelas salah alamat dan salah sasaran.(eza)

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply