Kasus Kematian Ibu Melahirkan di Beltim Tertinggi di Babel

by -
Kasus Kematian Ibu Melahirkan di Beltim Tertinggi di Babel
Kabid Kesehatan Masyarakat DKKBPP Beltim, Dianita Fitriani.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Angka kematian ibu melahirkan di Kabupaten Beltim menempati urutan tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Angka kematian ibu melahirkan paling banyak terjadi pada 2019 yaitu 9 orang. Sebagian besar diakibatkan terjadinya pendarahan dan hipertensi dalam kehamilan.

Tak hanya itu, kematian ibu melahirkan berdasarkan catatan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Belitung Timur (DKPPKB Beltim), diakibatkan adanya penyakit penyerta. Pada tahun 2018 terdapat 4 kematian, kemudian tahun 2019 meningkat signifikan dua kali lipat. Lalu, sampai dengan bulan Juli tahun 2020 sudah tercatat 3 kasus kematian ibu melahirkan.

“Bahkan di tahun kemarin ada yang kematian dimasa nifaz, pas mau selamatan. Jadi kalau melihat dari trendnya, kematian ini ada yang kehamilan remaja. Seperti tahun ini (2020) ada yang meninggal (akibat melahirkan) usia 14 tahun. Itu kasusnya hipertensi dalam kehamilan remaja kita,” ungkap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat DKPPKB Beltim Dianita Fitriani kepada Belitong Ekspres, Rabu (5/8).

Terkait hal ini, Dian menerangkan bahwa kehamilan sehat adalah ibu yang siap untuk hamil. Yang siap untuk hamil yaitu dilihat dari 4T. Yakni tidak terlalu muda (tidak kurang 20 tahun), tidak terlalu tua, (tidak lebih dari 35 tahun/ kehamilan pertama), tidak terlalu dekat jaraknya (setiap tahun), tidak terllau banyak (lebih dari 4 anak).

“Itu salah satu penyumbang ibu hamil menjadi beresiko. Selain 4T, ada lagi penyumbang lain. Misalnya, Ibu hamil mengalami permasalahan gizi kronis, kurus. Penyebabnya, bisa jadi karena asupannya jelek. Maklumlah kadang-kadang ibu hamil sulit makannya. Selain itu, karena penyakit penyerta, penyakit kronis, atau penyakit bawaan lainnya,” ulas Dian.

Dian menambahkan, ibu-ibu yang dengan 4T itu, dengan penyakit kronis dikatakan sebenarnya kehamilan beresiko jika mereka hamil. Seharusnya, kata Dian, kalau bisa ditunda dulu sampai sehat. Tapi kan tidak bisa mengendalikan faktor itu, untuk menunda orang untuk hamil.

“Upaya kita sejauh ini tetap penguatan dijajaran kami di kesehatan. Berbagai macam lah, kebijakan, prosedur dari mulai penanganan, persyaratan dan sebagainya. Tetapi ingat, bahwa pengendalian ibu hamil ini, kematian ibu ini tidak hanya berada di tangan jajaran kesehatan. Banyak kontribusi lain. Seperti, terlalu muda itu beresiko, tetapi ternyata banyak sekarang itu kehamilan remaja itu angkanya tinggi setiap tahunnya,” katanya.

“Sampai ratusan orang yang hamil remaja setiap tahunnya. Jadi itu sudah jadi kontributor. Di bawah 20 tahun itu adalah kehamilan remaja. Ini harus jadi perhatian penting. Karena pernikahan pasangan muda tinggi. Dan kita ingin ada upaya (pihak lain) tidak hanya dari dinas kesehatan,” pungkas Dian. (dny)