Kasus Miras Oplosan Memprihatikan

by -

*RSUD Catat ada 9 Korban, 2 Di antaranya Meninggal Dunia

MANGGAR-Kasus minuman keras (Miras) yang dioplos dengan berbagai macam zat berbahaya di wilayah Kabupaten Belitung Timur (Beltim) cukup memprihatinkan. Berdasarkan data di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Beltim, hingga Agustus 2015 ini, tercatat ada sembilan kasus intoxikasi (keracunan) Miras oplosan tersebut.
Dari sembilan orang korban yang mendapat penanganan medis, dua di antaranya meninggal dunia. Sedangkan tujuh korban lainnya sempat dirawat secara intensif di RSUD Beltim.
Seperti empat kasus terakhir yang terjadi pada Rabu (5/8) pekan lalu. Dua korban pemuda asal Desa Bentaian meninggal dunia usai menenggak Miras oplosan. Pada hari yang sama, dua korban lainya dari desa berbeda harus masuk Unit Gawat Darurat (UGD).
Humas RSUD Beltim, Yetty Anggelina Senin (10/8) kemarin, menjelaskan, Intoksikasi adalah masuknya zat ke dalam tubuh yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan bahkan dapat menyebabkan kematian.
“Semua zat dapat menjadi racun bila diberikan dalam dosis yang tidak seharusnya. Berbeda dengan alergi, keracunan memiliki gejala yang bervariasi dan harus ditindaki dengan cepat dan tepat. Sebab, penanganan yang kurang tepat tidak menutup kemungkinan hanya akan memperparah keracunan yang dialami penderita,” ungkap Yetty.
Yetty mengakui meski Intoksikasi bukan kasus baru dan hampir tiap bulan terjadi, namun di tahun 2015 ini kasusnya dari bulan ada kecenderungan kian meningkat.
“Sebenarnya dari beberapa tahun sebelumnya ada beberapa, tapi memang belum ada yang sampai berujung maut. Kemungkinan data yang ada di kami tidak semua, karena bisa saja hanya ditangani sendiri, dan ini kalau salah bisa fatal,” jelas Yetty.
Sementara itu, Bupati Beltim, Basuri T Purnama mengaku prihatin dengan adanya kasus-kasus minuman oplosan yang berkibat fatal. Ia mengungkapkan meningkatnya kasus ini lebih diakibatkan karena kenakalan remaja.
“Mayoritas dari korban adalah anak muda, kecenderungan dari mereka selalu ingin coba-coba. Nyari minuman dak ada yang dijual bebas dan akhirnya mencari yang dak benar. Dengan kurangnya pengetahuan akhirnya mereka terjerumus kenakalan remaja,” ujar Basuri.
Dokter lulusan Universitas Atmajaya ini, menilai kunci dari permasalahan ini adalah kurangnya keimanan dan perhatian keluarga. Untuk itu, Ia mengajak agar masyarakat kembali memupuk kepedulian dan kebersamaan dalam keluarga sehingga lingkungan akan terjaga.
“Sumbernya adalah bagaimana mempererat kehangatan dalam keluarga. Orang tua menjadi imam panutan, sembahyang, doa, dan kumpul bersama. Tidak bisa semuanya menyalahkan pemerintah, yang utama adalah keluarganya. Orang tua harus peduli dengan anaknya, kita selaku orang tua tidak bisa cuek lagi. Jangan sampai keluarga kita atau orang terdekat kita jadi korban. Oleh sebab itu maka itu marilah kita sama-sama menjaga keluarga kita,” ajaknya.
D isisi lain, Wakil Bupati Beltim, Zarkani Mukri lebih melihat masalah ini karena kurangnya dukungan dan pengawasan dari masyarakat. Ia menganggap razia yang dilakukan tidak akan efektif jika tidak mendapat dukungan dari masyarakat. Jadi wajar selama ini penertiban alkohol yang dilakukan belum dapat maksimal.
“Jumlah pihak keamanan kita terbatas, kita tidak mungkin kita akan razia setiap saat dan ke setiap tempat. Oleh sebab itu kita mohon dukungan dari masyarakat, baik itu di tingkat RT, Dusun maupun Desa. Tegur jika ada yang mabuk-mabukan, kalau tidak berani laporkan dengan pihak keamanan atau sms ke Bupati dan Wakil Bupati,” pinta Zarkani.
Zarkani, berharap kasus minuman oplosan yang berakibat hilangnya nyawa akan menjadi kasus pertama dan terakhir di Kabupaten Beltim. Untuk itu Ia ingin kasus ini jadi pembelajaran bagi seluruh pihak.
“Kepada para penjual saya ingatkan jangan lagi menjual minuman keras, komik, lem aibon dan lain sebagainya kepada anak-anak. Tolonglah lebih selektif, kan tidak rugi juga kalau ada orang yang mencurigakan kita tolak untuk belanja di toko kita,” tandasnya. (feb/hms)

Data Kasus Intoksikasi yang Ditangani RSUD Beltim Tahun 2015

Bulan    Jumlah Kasus    Tindakan    Keterangan
Januari    –
Februari    –
Maret    –
April    1    Rawat Jalan
Mei    1    Rawat Jalan
Juni    1    Rawat Jalan
Juli    2    Rawat Inap
Agustus    4    Rawat Inap    2 korban meninggal dunia
Sumber Humas RSUD Beltim