Kasus Perceraian, Erat Kaitannya Dengan KDRT

by -

MANGGAR – Tingginya kasus perceraian di Kabupaten Beltim dari tahun ke tahun ternyata berkaitan erat dengan faktor kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan ini bukan hanya fisik tetapi juga non fisik melalui sikap dan pola komunikasi.

“Tingkat kekerasan terhadap perempuan diukur dengan tingkat perceraian pada tahun 2011-2012 lalu, memang sebagian besar diawali KDRT,” ungkap Ketua LSM P2H2P, Siti Khodijah kepada Belitong Ekspres, Selasa (2/1) kemarin.

Bahkan, perceraian umumnya dilakukan perempuan sebagai penggungat karena merasa tidak tahan terhadap perlakuan yang diterimanya. Rumah tangga di Kabupaten Beltim cenderung lebih mendominasi perceraian dibandingkan dengan Kabupaten Belitung meski berada dalam satu pulau Belitong.

“Banyak gugat perempuan. Pada saat itu (2011-2012) bahkan mencapai 1000 kasus. Tahun 2016, ada 900 lebih kasus perceraian yang didominasi Beltim. Dalam sehari pernah ada 14 pendaftaran perceraian, bahkan ada 16 KDRT dilaporkan ke kami dalam bulan puasa,” ungkap Siti.

Ia mengakui, kasus perceraian di Beltim justru diawali adanya peningkatan ekonomi keluarga. Suami sebagai kepala keluarga sering memilih mencari kesenangan dengan orang ketiga. Sementara, saat berada dirumah bersikap dingin dan cenderung temperamen.

“Dari kebanyakan adalah KDRT. Beberapa faktor penyebab KDRT ada peningkatan ekonomi, penurunan ekonomi, kurang komunikasi dan pihak ketiga,” sebut Siti.

Karenanya, Siti mengharapkan ada kesadaran dalam setiap keluarga agar kemungkinan perpecahan yang bisa berlanjut pada KDRT harus diatasi sejak awal. Sehingga ada perbaikan dari suami maupun istri agar tujuan berkeluarga tercapai.

“Ketika ada permasalahan yang seharusnya duduk bersama, justru dibahas dengan yang lain. Akibatnya anak menjadi korban perceraian orang tua. Kedekatan dengan tuhan paling awal. Artinya ketika punya basic kuat ketuhanan paling tidak ada rem,” tukasnya. (msi)