Kasus PHK Lourensus Belum? Temui Titik Terang

by -

PANGKALPINANG – Kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melibatkan manajemen PT Telkom Akses Babel dan mantan karyawannya yakni Lourensus belum juga menemui titik terang, setelah Selasa (1/11) kedua pihak dipertemukan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Pangkalpinang untuk menjalani masa mediasi.

Mediasi tersebut berjalan alot, karena pihak Lourensus tetap bersikukuh agar pembayaran pesangon dan hak lainnya sesuai dengan aturan UU ketenagakerjaan segera dilakukan perusahaan dan menolak tawaran yang disodorkan perusahaan pada pertemuan pertama. “Sekarang ini kami tengah bernegosiasi terkait permasalahan yang ada antara Telkom Akses dengan Lourensus, jadi sekarang ini tinggal menunggu keputusan dari pihak Lourensus dan Disnaker,” ujar Herman, HRD PT Telkom Akses Wilayah Sumbagsel.

“Namun dalam sidang mediasi kedua ini, sepertinya pihak Lourensus belum setuju terhadap kompensasi yang kami tawarkan sehingga masih harus digodok kembali,” ungkap Herman.

Sementara Manajer Komplain PT Telkom Akses Jakarta, Parja yang sempat hadir dalam sidang mediasi tersebut menambahkan, ?dalam mediasi tersebut ada 2 orang mantan karyawan yang dibahas masalah pesangonnya yakni Eko? yang siap dibayarkan pesangonnya. Kemudian Lorensus, namun pihaknya tidak mengetahui pasti apa alasannya hingga saat ini belum bersedia menerima usulan pesangon yang ditawarkan. “Untuk Eko, kita bayar pesangonnya. Sementara Lourensus, kami tidak tahu apa alasannya belum mau menerima. Sehingga, kami akan berusaha untuk mencari solusi terbaik karena masih ada sekali mediasi lagi dalam sepekan depan kemudian baru disimpulkan oleh pihak Disnaker nantinya,” ungkapnya.

Sementara menurut Kabid Ketenagakerjaan, Amrah Sakti saat dikonfirmasi RB di ruang kerjanya menegaskan, bahwa ?pada 2015 lalu, pihak Disnaker telah memberikan teguran kepada pihak menejemen PT Telkom Akses wilayah Babel terkait masalah peraturan perusahaan dan permasalahan lainnya juga termasuk kasus kecelakaan kerja yang menewaskan 4 karyawan sebelumnya. “Akan tetapi, nyatanya dengan mencuatnya permasalahan Lourensus ini artinya manajemen PT Telkom Akses ini masih membandel. Kalau hal ini dibiarkan berlarut oleh pihak manajemen, maka tidak menutup kemungkinan perijinan PT Telkom Akses tersebut akan ditinjau ulang kembali,” tegas Amrah.

Sementara Lourensus kepada RB mengungkapkan, pasca mediasi pertama pekan kemarin dirinya sempat menerima usulan pembayaran pesangon dari PT Telkom Akses sebesar Rp 5juta dikalikan 15 persen yang dinilainya tidak sesuai dengan peraturan UU Ketenagakerjaan. “Dalam hal ini, bukan semata-mata permasalahannya uang pak. Namun sedari awal dimanakan etika manajemen perusahaan, apakah sudah betul-betul tunduk kepada aturan UU Ketenagakerjaan?,” ungkap Lourensus.

Lourensus menilai, manajer perusahaan ?ditempat dirinya bekerja selama ini terkesan semena-mena. “Saya di PHK yang terkesan hantam kromo dan penuh kejanggalan ini sudah setengah tahunan, namun tidak ada kejelasan, kemudian saya juga sempat mengadukan permasalahan ini kepada Ketua DPD KSPSI Babel, Darusman Aswan namun tidak membuahkan hasil. Sampai akhirnya, saya mengadukan permasalahan ini kepada Disnaker Pemko Pangkal Pinang barulah akhirnya ditanggapi dan saat ini memasuki sidang mediasi kedua. Intinya dalam hal ini, saya hanya menuntut hak saya sesuai dengan UU Ketenagakerjaan,” pungkas Lourensus.

Saat dikonfirmasi RB seusai gelaran sidang mediasi, Manajer PT Telkom Akses Wilayah Babel, Widarno tidak bersedia dikonfirmasi. “Saya tidak bisa memberikan keterangan, takutnya nanti salah ngomong,” ujar Widarno kepada RB seusai sidang mediasi tertutup di kantor Dinsosnaker Pemkot Pangkalpinang, Selasa (1/11) siang kemarin. (and)