banner 728x90

Kasus PPA di Beltim Kini Kian Meningkat

Life at ease with amazing nature| Leebong island
Kasus PPA di Beltim Kini Kian Meningkat

Kegiatan penyuluhan tentang PPA yang dilaksanakan di Aula Kantor Camat Manggar, Kamis (19/9) pagi kemarin.

Ogut : Orang Tua Jadi Faktor Utama

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Perilaku menyimpang dan kekerasan terhadap perempuan dan anak belakangan ini kian meningkat, bahkan menjadi perhatian serius berbagai pihak. Terhitung sejak Januari – Agustus 2019 telah terjadi 8 kasus terkait penanganan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Beltim. Angka tersebut meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, yakni tahun 2017 sebanyak 2 Kasus dan tahun 2018 terhitung 4 Kasus.

Data-data dan kasus di atas sebagaimana diungkapkan Kanit PPA Polres Beltim Bripka Agustiawan, seusai memberikan arahan penyuluhan tentang PPA yang dilaksanakan di Aula Kantor Camat Manggar, Kamis (19/9) kemarin.

Pria dengan sapaan akrab Ogut tersebut menyebutkan, penyebab terjadinya tindak pidana perlindungan terhadap anak karena kurangnya pengawasan dan kasih sayang orang tua terhadap anak.

“Dikarenakan kesibukan, orang tua tidak bisa memberikan bimbingan dan pembinaan dalam pengembangan sikap, perilaku, penyesuaian diri terhadap anak, sehingga anak merasa bebas,” ujar Ogut.

Selain itu, menurut Anggota Satres Polres Beltim tersebut, pergaulan lingkungan tempat tinggal/teman sekolah yang kurang sehat sehingga memudahkan anak untuk berbuat tindak pidana.

“Pergaulan bebas, faktor hubungan di dalam keluarga yaitu orang tua, ibu dan bapak pisah cerai, jadi sang anak merasa tidak ada yang mengawasinya lagi. Di situlah si anak mengikuti rekan-rekannya berperilaku di lingkungan. Misalnya melihat teman mempunyai handphone dan memang posisi anak minta kepada orang tua tidak diberikan, kemudian anak berpikir pendek dan melakukan pencurian,” paparnya.

Camat Manggar Amirudin menyambut baik hal-hal yang mengenai pencegahan, pengawasan terhadap perilaku anak. “Kami mengapresiasi kegiatan ini, karena merupakan salah satu edukasi tentang pemahaman perlindungan perempuan dan anak di kecamatan Manggar. Hal ini kita harapkan tidak sampai di sini, nanti dibentuk forum-forum pada tatanan bawah, forum yang lebih kecil. Agar lebih mudah untuk mengawasi, mengendalikan permasalahan perlindungan perempuan dan anak di Belitung Timur khususnya di Kecamatan Manggar,” terang Amirudin kepada Belitong Ekspres, Kamis (19/9) kemarin.

Dikatakan Amir, penyuluhan PPA ini sangat penting sekali dipahami oleh semua masyarakat terhadap pelanggaran atau pun sikap-sikap yang bertentangan dengan hukum.

“Saya lebih menekankan kepada ranah yang lebih luas. Karena penyuluhan ini tidak sekedar penyuluhan saja, tetapi ada action-nya, harus ada regulasi tatanan level bawah yang menyambut kegiatan penyuluhan yang sangat positif ini. Sehingga warga masyarakat memahami dan kita semua memahami terhadap pentingnya perlindungan perempuan dan anak,” tukasnya.

Di tempat yang berbeda, Kepala Dinas Pendidikan Beltim, Amrizal, saat dihubungi Belitong Ekspres terkait hal ini mengatakan, pihaknya terus menghimbau kepada tenaga pendidik agar selalu memberikan pembinaan yang baik kepada anak didik.

“Saya terus melakukan dan memberikan himbauan kepada Kepala Sekolah, Guru-guru agar memberikan sikap yang baik dalam dunia pendidikan. Terutama menghindari tindakan kekerasan di lingkungan pendidikan,” terang Amrizal kepada Belitong Ekspres, Kamis (19/9) kemarin.

Karena itu, Amrizal berpesan kepada seluruh kepala sekolah dan guru-guru agar terus menjalin hubungan yang baik antara pihak sekolah dan paguyuban sekolah.

“Kita minta komite sekolah, paguyuban sekolah terus pererat silaturahmi, baik secara langsung maupun melalui komunikasi-komunikasi group. Mengajak paguyuban membahas bersama ketika adanya persoalan terkait anak didik, sehingga terjalin rasa nyaman di lingkungan pendidikan,” tandasnya.
Untuk diketahui, tercatat jumlah penanganan kasus PPA di Polres Beltim tahun 2017 sebanyak 2 kasus, yakni kasus pencabulan (melanggar pasal 82 ayat 1 UU Perlindungan anak) dan kasus KDRT (melanggar pasal 44 ayat ( 1 ) UU RI no 23 tahun 2004).

Kemudian di tahun 2018 terhitung 4 Kasus; yakni kasus Pencabulan melanggar pasal 82 ayat 1 UU no 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak, kasus penganiayaan (melanggar pasal 351 KUHPidana), kasus pencabulan (melanggar pasal 82 ayat 1 UU perlindungan anak) dan kasus KDRT melanggar pasal 44 ayat (1) UU RI no.23 th 2004 tentang KDRT.

Sementara di tahun 2019, dari Januari hingga Agustus 2019 tercatat sebanyak 8 Kasus. Terdiri dari 3 Kasus Pencabulan, 1 kasus KDRT, 1 kasus Penganiayaan dan 3 kasus pencurian.

(Danny Sugara | belitongekspres.co.id)

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply