Kasus Tragedi Sijuk: 8 Terdakwa Divonis 3 Bulan, 1 Terdakwa 4,5 Bulan

by -
Kasus Tragedi Sijuk: 8 Terdakwa Divonis 3 Bulan, 1 Terdakwa 4,5 Bulan
Sembilan terdakwa tragedi Sijuk saat menjalani sidang putusan di PN Tanjungpandan Jumat pekan lalu.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Sembilan orang terdakwa perkara kericuhan saat penertiban tambang ilegal di kawasan Sungai Sengkelik, Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk, diadili Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpandan, Jumat (5/3).

Mereka masing-masing terdakwa tragedi Sijuk itu dikenakan hukuman berbeda. Vonis, dibacakan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungpandan yang dipimpin oleh Anak Agung Niko Brama Putra, secara bergantian.

Martani, Hendra, Indra, Raden Sandi Aji, Angga, Galuh, Nurdin, Iskandar, mereka divonis hakim dengan dengan penjara selama tiga bulan dipotong masa tahanan. Sedangkan, Wendri divonis empat bulan setengah.

Sebab, Wendri terbukti melakukan pengerusakan dan penganiayaan dalam perkara tersebut. Sedangkan Hendra, Indra, Angga, Galuh, Nurdin, Iskandar terbukti melakukan pengerusakan.

Lalu, Kasi Ops Satpol PP Pemprov Babel Raden Sandi Aji terbukti memerintah anggotanya untuk melakukan pembakaran. Kesembilan tersangka dinilai bersalah melanggar Pasal 170 Ayat 1 KUHP sebagai mana dakwaan tunggal alternatif.

Dalam amar putusannya, Majelis Hakim PN Tanjungpandan berpendapat mereka terbukti bersalah. Yakni berdasarkan hasil keterangan saksi, serta alat bukti yang dihadirkan selama persidangan.

“Hal-hal yang memberatkan perbuatan para terdakwa menimbulkan kerugian bagi daerah, perbuatan terdakwa menimbulkan kerusakan bagi pemilik mobil, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat,” kata AA Niko.

Sedangkan hal-hal yang meringankan para terdakwa menyesali perbuatannya. Selain itu, mereka bersikap sopan selama persidangan dan terdakwa belum pernah dihukum. Serta antara kedua belah pihak, telah damai.

Mendengarkan vonis tersebut, para terdakwa langsung menerima. Sedangkan empat orang jaksa dari Kejari Belitung yakni Dwiyana, Sanggam C Aritonang, M.Aulia Perdana, dan, Tri Agung Santoso menyatakan fikir-fikir. “Kami memilih pikir-pikir,” kata Jaksa Tri Agung diiyakan oleh ketiga jaksa lainnya. (kin)