Kecil Tahan Lama, Sumur Ini Kuat Ladeni Orang se Kampung

OYO 399 Kelayang Beach Hotel
Kecil Tahan Lama, Sumur Ini Kuat Ladeni Orang se Kampung

Firdaus, sedang menimba air di Sumur X Lapangan Golf Dusun Bebute, Desa Terong, Minggu (8/9). Foto : Faizal/BE

belitongekspres.co.id, SIJUK – Kecil namun tahan lama, begitulah perumpamaan untuk sebuah sumur yang berada di X Lapangan Golf Dusun Bebute, Desa Terong ini. Setiap musim kemarau panjang tiba, sumur tersebut merupakan salah satu ‘penyelamat’ masyarakat setempat.

Sumur atau yang biasa disebut oleh masyarakat dengan sebutan ‘perigi’ itu ke dalamannya tidak lebih dari 2,5 meter. Setiap harinya, mulai dari subuh pukul 05.00 WIB puluhan warga silih berganti mengambil air, namun sumur ini tidak pernah kering.

Salah satu warga Zulpani mengatakan, ia sudah sedari subuh ambil air di sumur itu dengan menggunakan 2 gerigen dan satu galon. Dan, Setidaknya dia setiap Minggu mengambil 10 gerigen di sumur itu.

“Walau setiap hari puluhan orang ngambil air di sini (sumur,red), tapi alhamdulillah tidak pernah kering di musim kemarau tahun ini,” kata pria setengah baya itu kepada Belitong Ekspres, Minggu (8/9) kemarin.

Meski demikian kata Zulpani sumur ini hanya pernah kering sekitar tahun 2015. Namun, hal itu tidak begitu menggelisahkan masyarakat yang membutuhkan air. Sebab, tidak jauh dari sumur ini terdapat pula satu sumur lain yang lokasinya bersebelahan. “Cukuplah kedua sumur di X Golf ini untuk mengatasi kebutuhan air hingga musim penghujan tiba,” katanya.

Baca Juga:  Tahun 2019, Ada 174 Kasus Kebakaran di Belitung

Senada diungkapkan warga Bebute lainnya Firdaus. Dia mengatakan, hampir seluruh sumur di kawasan Terong mengalami kekeringan, termasuk sumur di rumahnya. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih ia terpaksa mengambil air pakai jerigen di Sumur X Lapangan Golf.

Setidaknya sumur ini dari rumah Firdaus berjarak sekitar 1 Km. Ia memanfaatkan beberapa jeringen yang disusun dalam keranjang sepeda motornya. Itu dilakukan demi memenuhi kebutuhan air bersih di musim kemarau panjang saat ini.

“Perigi ini la yang bersih untuk memasak. Kalau mandi banyak di aik arongan (sungai, red). Hebatnya sumur ini tidak mengalami kekeringan walaupun hampir satu kampung yang memakainya,” kata Firdaus kepada Belitong Ekspres, Minggu (8/9) sambil menimbah air.

Musim kemarau panjang memang membuat masyarakat setempat harus meluangkan waktu untuk mengambil air bersih. Terkadang mereka juga terpaksa membeli air jika sedang sibuk kerja setiap hari.

Di Desa Terong memang ada tabung air bersih berukuran besar. Letaknya persis di sebelah kantor desa. Akan tetapi selama ini tabung air tersebut tidak pernah berfungsi sejak awal dibangun. Hal menjadi tanda tanya warga sekitar, termasuk Firdaus.

Baca Juga:  DLH Beltim Tak Punya Data Kerawanan Kebakaran

“Kami berharap pemerintah desa bisa menyediakan stok air bersih untuk masyarakat. Setidaknya tabung air bersih yang sudah ada ini bisa digunakan saat musim kemarau seperti sekarang,” Firdaus.

Sementara itu, musim kemarau panjang biasanya membawa rejeki lebih bagi pedagang air dadakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tetapi, hal ini tidak membuat semua pedagang air bersih mendapat keuntungan yang signifikan.

Sopiah misalnya, penjual air bersih di seputaran kawasan Pasar Tanjungpandan. Selama 20 tahun lebih lelaki ini berbisnis air. Begitu banyak orang yang memesan air saat musim kemarau tiba, namun ia tidak bisa meladeni para pelanggannya tersebut.

Bukannya dia tidak mau memanfaatkan peluang bisnis itu, tapi karena Sumur di depan Museum Tanjungpandan sudah tidak mencukupi. Mengingat, sumur itu sudah banyak dipakai warga lainnya.

“Sebenarnya banyak orang yang memesan, namun airnya juga susah. Jadi, penghasilan saya di musim kemarau tidak meningkat, sama saja seperti biasanya,” kata pria lanjut usia ini sembari mengelap keringat di keningnya.

Dia menjelaskan dalam satu hari pada musim kemarau saat ini hanya mengantar sekitar 50 gerigen saja kepada para pelanggannya dengan harga yang sama. Demikian juga di musim penghujan. “Musim panas dan musim hujan sama, Rp 2.500 per jerigen,” katanya. (mg1)

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply