Kejari Belitung Bongkar Kasus Dugaan Korupsi APBdes Selat Nasik

by -
Kejari Belitung Bongkar Kasus Dugaan Korupsi di Selat Nasik
Kajari Belitung Ali Nurudin.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Kejaksaan Negeri (Kejari) Belitung, akan memberikan kejutan di Hari Ulang Tahun ke 60 Adhyaksa minggu ini. Yakni membongkar kasus dugaan korupsi penyalahgunaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBdes) Desa Selat Nasik, tahun anggaran 2019.

Atas perbuatannya yang dilakukan oknum aparatur desa tersebut, negara dirugikan sebesar kurang lebih Rp 300 juta. Saat ini Jajaran Pidana Khusus Kejari Belitung menaikan kasus tersebut ke tingkat penyidikan (dik).

Kepala Kejari (Kajari) Belitung Ali Nurudin mengatakan, saat ini anggotanya masih melakukan penyidikan bersifat umum (dikmum). Yakni melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan barang bukti, terkait kasus ini.

“Ada sebanyak sepuluh orang saksi yang sudah kita lakukan pemeriksaan terkait dugaan korupsi ini,” kata pria asal Cirebon, Jawa Barat kepada Belitong Ekspres, Senin (20/7) kemarin.

Berdasarkan dikmum yang dilakukan Jajaran Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Belitung, untuk kerugian yang ditimbulkannya dalam kasus ini sebanyak kurang lebih Rp 300 juta yang diselewengkan.

Namun untuk pagu anggaran belum dirincikan. Setelah dilakukan dikmum, dalam waktu dekat kejaksaan akan menaikan ke penyidikan kasus (diksus). Yaitu, menetapkan siapa tersangka dalam kasus Tipikor ini.

“Kemungkinan masih satu tersangkanya. Tapi kami tidak tahu, kalau nantinya calon tersangka juga mau mengungkap adanya pelaku lain yang juga turut menikmati hasil korupsi tersebut,” jelasnya.

Ali menambahkan, awal mula terbongkarnya kasus ini berawal dari laporan yang disembunyikan namanya. Saat itu dia melakukan pemeriksaan laporan keuangan desa. Namun, ada kejanggalan.

“Hingga akhirnya orang ini melaporkan. Selain itu juga ada laporan dari salah satu LSM di Belitung. Dan kita tindak lanjuti dugaan indikasi kasus korupsi,” kata Ali Nurudin.

“Laporan tersebut masuk sekitar awal Juni 2020. Lalu kita lakukan penyelidikan. Setelah kita ketahui kerugiannya. Oknum tersebut mengembalikan sekitar Rp 60 juta,”sambungnya. (kin)