Kejari Bidik 2 Kasus

by -

*Rumpin SKB dan Hibah Rumah Dinas Kodim

TANJUNGPANDAN-Kejaksaan Negeri Tanjungpandan mengeluarkan empat sprindik untuk dua kasus yang kini tengah ditangani. Dua kasus yang jadi focus Kejari Tanjungpandan itu yakni Kasus Rumah Pintar di Sanggar Kegiatan Bersama (SKB) Perawas dan penyalahgunaan uang Rumah Dinas Kodim 0414..

Usai melakukan peringatan Hari Adhiyaksa ke-55, rombongan dari Kejaksaan Negeri Tanjungpandan mendatangi Sanggar Kegiatan Bersama (SKB) Kabupaten Belitung di Jalan Jendral Sudirman Desa Perawas, Rabu (22/7) kemarin.

Kejaksaan memeriksa semua surat masuk dan keluar tahun 2011 serta menyita beberapa dokumen dan sebuah CPU. Sejauh ini kejaksaan sudah menetapkan empat tersangka dalam kasus ini. Dua dari SKB dan dua lainnya dari rekanan. “H dan S mantan pejabat SKB tahun 2011 dan duanya dari rekanan,” ujar Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Tanjungpandan Khristiya Lutfiasandhi.

Kasus ini bermula ketika SKB mendapat batuan dari Dirjen PAUDNI sebanyak Rp 200 juta untuk pembangunan rumah pintar (rumpin). Diduga ada perbuatan melawan hukum dari sejumlah . Dalam pelaksanaannya semuanya tidak memiliki pertanggungjawaban yang sesuai prosdur.

Menurut penjelasan Kejari Tanjungpandan Nova Elida Seragih, awalnya SKB menerima bantuan dari Serikat Istri-Istri Kabinet Indonesia Bersatu. “Dalam kegiatan ini, kami tidak menerima alat bukti atau surat-surat tentang bantuan itu. Yang mereka laporkan adalah fisik-fisik yang sudah diberikan oleh serikat istri-istri kabinet Indonesia bersatu,” kata Nova.

Sementara untuk kasus dana hibah dari Provinsi Bangka Belitung untuk pembangunan rumah dinas Kodim 0414 Belitung juga menjadi fokus kejaksaan. Dua tersangka sudah ditetapkan Kejari dalam kasus ini. Dua tersangka itu yakni dari salah satu pegawai Bank di Tanjungpandan.

“Baru dua, kita butuh alat bukti lagi karena masih ada saksi berpotensi. Ini terkait hibah dari provinsi ke Kodim sebanyak 800 juta yang akan digunakan renovasi rumah dinas kodim,” sambung Nova.

Kasus ini bermuda saat uang Rp 800 juta dicairkan oleh bendahara Kodim 0414 Belitung tanpa sepengetahuan atasannya (Dandim, red). Uang Rp 800 juta itu dicairkan sebanyak enam kali dalam kurun waktu tiga hari. “Dia (bendahara, red) mencairkan dengan memalsukan tanda tangan Dandim,” tukasnya.

Namun Kejaksaan baru menetapkan dua tersangka dari Bank. Pihak Bnak disebutkan tidak mematuhi SOP yang ditetapkan oleh manajemen bank. “Tidak ada surat kuasa uang itu dicairkan begitu saja,” pungkasnya. (ade)