Kejati Babel Bikin Sejarah, 1 Kasus KMK BRI Jerat 20 Tersangka

by -
Kejati Babel Bikin Sejarah, 1 Kasus KMK BRI Jerat 20 Tersangka
Ilustrasi

belitongekspres.co.id, PANGKALPINANG – Pengusutan kasus dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) Kredit Modal Kerja (KMK) di PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk Pangkalpinang, adalah menjadi catatan sejarah tersendiri bagi pihak Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung (Kejati Babel).

Catatan sejarah itu, baik dari jumlah dugaan kerugian negara yang mencapai Rp 40,5 miliar (akan lebih jika ditambah dengan yang tengah diusut di Kejari Pangkalpinang saat ini yang mencapai Rp 3 miiar.red), maupun dari jumlah tersangka yang hingga saat ini sudah 20 orang (yang menurut Asistel Kejati Babel, Johnny W Pardede masih ada kemungkian bertambah lagi.red).

Mengapa kasus ini bisa menjadi Tipikor? Bukankah dalam kasus KMK (Kredit Modal Usaha) semestinya terjerat dalam Perdata? ”Karena dalam kasus ini kerugian negara itu adalah akibat banyaknya gelontoran uang yang berbau kecurangan,” demikian dikemukakan Pengacara Senior Babel, Dharma Sutomo kepada Babel Pos, kemarin.

Kredit macet sebenarnya adalah hal biasa dalam dunia perbankkan. ”Apalagi dalam situasi seperti pandemi corona sekarang ini. Itu sebabnya pemerintah sampai meminta pihak bank memberi kelonggaran bagi dunia usaha untuk membantu meringankan beban debiturnya,” lanjut pria yang akrab disapa Momok itu lagi.

Dalam kasus yang melanda BRI Cabang Pangkalpinang ini menurut Momok, logikanya, jika terjadi kredit macet, maka bank akan menyita harta atau barang milik debitur yang dijadikan agunan.

”Dan nilai agunan itu semestinya lebih tinggi dari jumlah pinjaman yang diajukan debitur. Sementara dalam kasus yang melanda BRI Pangkalpinang ini tidak seperti itu,” ujarnya lagi.

Nilai agunan kadang justru jauh di bawah pinjaman. Dan tidak semua debitur itu tahu soal kasus yang membelit mereka akibat adanya oknum yang bermain. Apakah semua debitur yang 46 orang itu bisa terjerat dengan melihat sudah ada 10 debitur yang jadi tersangka?

”Pihak Kejati tentu mengusut ini dengan melihat peran dan keterlibatan masing-masing debitur. Bukan pukul rata. Jika debitur misalnya tidak tahu menahu atau merasa tertipu, bisa lepas dari jerat hukum. Karena dia berarti korban. Namun jika ternyata tahu dan malah ikut menikmati uang kredit yang kemudian macet, yang tentu ikut terjerat,” imbuh Momok. Berarti posisi debitur belum tentu aman? ”Belum tentu. Bisa saja dinilai ikut serta,” ucap Momok mengakhiri.

Untuk diketahui, jika sebelumnya penyidik di Pidsus Kejati Babel telah menjerat dari internal Pimpinan dan account officer (AO) BRI Pangkalpinang serta pengusaha, maka kini giliran debitur atau nasabah macet yang kena sasar. Pun yang terjerat tahap awal ini terbilang banyak, yakni 10 debitur. Jadi dari 20 tersangka, 10 diantaranya adalah debitur.

Asintel Kejati Babel, Johnny W Pardede, sebelumnya menyatakan peran para tersangka itu sebagai debitur dari kantor cabang Pembantu BRI Depati Amir telah bekerjasama dengan Sugianto als Aloy untuk melakukan pinjaman kredit KMK tanpa didukung dengan kegiatan usaha yang jelas dan nilai agunan yang mencukupi.

”Jadi penetapan tersangka dari debitur ini tahap pertama 10 orang dari 46 debitur. Seiring dengan perkembangan penyidikan bukan tidak mungkin akan terus bertambah,” katanya.

Nah, dari sini berarti masih ada 26 debitur lagi yang hingga saat ini masih berstatus saksi. Bukan tidak mungkin dari hasil pemeriksaan dan pengembangan nantinya akan naik status jadi tersangka pula. Kalau sudah begini, makan tak enak, tidur pun tentu tak nyenyak? (red)