Kek Akil: Urusan Duit Nomor 2, yang Penting Kepuasan Hati

by -

IMG_4947 - Copy

*Ketika Seniman, Budayawan dan Pelaku Wisata “Kelakar” Memajukan Pariwisata (2)

Masalah pengembangan pariwisata menjadi perhatian khusus para Seniman, Budayawan dan Pelaku Pariwisata Kabupaten Belitung. Mereka pun sengaja menggelar pertemuan untuk ngelakar (Berdiskusi), agar pariwisata menjadi masa depan masyarakat di Pulau Belitong.

Laporan: Yudiansyah Belitong Ekspres

Semangat warga Desa Terong, Kecamatan Sijuk, Akil (75) dalam mengembangkan seni dan budaya tradisional Belitong pantas mendapat apresiasi. Di usia senjanya, kek Akil masih sangat “bernafsu” menggeluti kesenian Hadra dan Gambus.

Setidaknya, jerih payahnya ini telah melahirkan ratusan orang generasi baru yang pandai bermain Hadra dan Gambus. Bisa menularkan ilmu ke anak didik, menjadi kepuasan tersendiri bagi kakek 15 cucu ini.

“Kalau soal urusan duit (honor) bagi saya nomor dua, yang penting saya mendapat kepuasan hati dalam berkesenian,” kata kek Akil, membuka kelakar bersama para seniman, budayawan dan pelaku wisata, di pondok Kampong Dedaun.

Kek Akil menggeluti kesenian Gambus dan Hadra ini sudah sejak puluhan tahun lalu. Namun ia fokus mengajar dua kesenian ini baru beberapa tahun ini. Namun hasil kerja kerasnya ini tak sia sia. Gambus dan Hadra kek Akil kini semakin eksis.

Bersama anak didiknya, ia sering diundang untuk tampil pada even-even baik di Pulau Belitung maupun Pulau Bangka. Teranyar, ia pernah tampil untuk menghibur tamu dari salah satu kementerian di Jakarta, saat berkunnjung ke rumah adat Belitong.

“Disamping aku memasarkan seni dan budaya, tapi aku juga mencari budaya-budaya asli belitong. Cuma sampai sekarang baru dua yang aku bisa aku geluti, pertama Hadra dan kedua Gambus. Tapi Alhamdulillah, itu sudah ada melahirkan generasi,” sebut kek Akil.

Menurut kek Akil, seni dan budaya saat ini memang sangat dibutuhkan untuk memajukan pariwisata Belitong. Ini seperti yang ia rasakan sendiri sering diminta untuk tampil dalam even pariwisata.

Karenanya, harus ada terobosan baru dalam mengembangkan seni dan budaya , agar menjadi daya tarik kunjungan wisatawan. Namun, untuk mengembangkannya seni dan budaya ini, ia sendiri mengaku mempunyai keterbatasan.

“Sebenarnya banyak seni dan budaya yang bisa digali. Tapi karena tangan gak dua, kaki gak dua, jadi aku baru bisa menggeluti Hadra dan Gambus,” ucap warga Desa Terong ini.

Selain itu, ia dalam mengembangkan seni dan budaya ini, ia juga terkendala dukungan alat musik dan sanggar latihan. “Saya ngajar Gambus dan Hadra ini, dengan peralatan seadanya. Dan sanggar untuk latihan juga gak ada,” akunya.

Ia berharap upaya pengembangan seni dan budaya ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah maupun pihak lain yang mau mensponsori. Sebab ia belum mempunyai tempat dan alat musik yang memadai untuk latihan. Selama ini ia menggelar latihan, hanya secara berpindah-pindah dari rumah ke rumah warga yang lain.

“Saya ini sudah menghibahkan lahan untuk pembangunan sanggar latihan. Ini juga pernah diusulkan sampai ke pak camat. Aku dengar Desa Terong dapat kucuran dana Rp 3 miliar, mudah-mudahan bisa untuk membantu bangun sanggar atau alat-alat musik gambus dan Hadra,” harapnya.

Kek Akil juga berpandangan, berkembangnya seni dan budaya merupakan tolak ukuran kemajuan sektor pariwisata di suatu daerah. Sebab, tanpa adanya kesenian dan kebudayaan, pariwisata akan jalan ditempat dan sulit maju.

“Ibarat kata, pariwisata tanpa seni dan budaya, ibarat gangan (kuliner belitong,red) tanpa garam, rasanya hambar, gak enak,” tandasnya mengakhiri kelakar. (bersambung)