Kemarau, Awas Karhutla!

by -
Kemarau, Awas Karhutla!
Ilustrasi Jawa Pos

Dua Kebakaran Hutan Karena Puntung Rokok

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Polres Belitung warning masyarakat tidak membakar hutan dan lahan, di musim kemarau tahun ini. Peringatan itu agar peristiwa kebakaran dahsyat seperti tahun-tahun sebelumnya tidak terjadi kembali.

Kasatreskrim Polres Belitung AKP Chandra Satria Adi Pradana mengatakan, jajarannya mendapat atensi khusus dari Kapolri Jenderal Idham Azis untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Khususnya di daerah kepulauan.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada saat memasuki musim kemarau banyak terjadi kebakaran hutan. Khususnya di Kabupaten Belitung,” kata AKP Chandra, kepada Belitong Ekspres, Selasa (11/8) kemarin.

Dijelaskan AKP Chandra, untuk di Belitung saat ini sudah dua kali terjadi kebakaran hutan di tempat berbeda. Pertama di kawasan Membalong. Kedua di kawasan Badau. Peristiwa tersebut terjadi Minggu, lalu.

“Kedua kasus kebakaran tersebut diduga disebabkan oleh puntung rokok. Misalnya, seseorang lewat hutan lalu membuang puntung rokok, sehingga terjadilah kebakaran hutan,” ungkap AKP Chandra.

Setelah terjadinya beberapa kali kebakaran di Belitung, polisi akan terus melakukan pemantauan melalui aplikasi Kapan Fire Hotspot. Di aplikasi ini, dapat dilacak lokasi mana saja yang terjadi kebakaran.

Selain itu, Polres Belitung akan membuat posko karhutla dalam waktu dekat ini. Untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, Bhabinkamtibmas akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

“Namun setelah disosialisasikan mereka tetap bandel, kita akan lakukan tindakan tegas. Yakni menangkapnya dan menjerat pelaku dengan proses hukum,” ungkap pria jebolan AKPOL 2012 ini.

Dalam hal ini, pelaku pembakaran hutan bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ancaman hukumannya sepuluh tahun penjara. Serta denda Rp 10 miliar.

“Sebab adanya kesengajaan membakar hutan dapat menimbulkan kerugian dan kerusakan. Khususnya pada ekosistem yang ada di dalam hutan. Serta asap yang ditimbulkan dapat menganggu masyarakat di daerah lain,” pungkasnya. (kin)