KEMBALIKAN KEJAYAAN LADA PUTIH

by -

//ERZALDI AJAK MAHASISWA IPB TIDUR DI KEBUN LADA

Demi mengembalikan kejayaan lada putih khas pulau Bangka, gubernur Bangka Belitung DR Erzaldi Rosman Johan jalin kerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), (15/2). Jalinan kerjasama tersebut langsung ditandatangani oleh Erzaldi bersama rektor IPB Prof. DR Arif Satria di aula rektorat IPB.

Dalam waktu yang sama Erzaldi juga berkesempatan memberikan kuliah umum kepada ratusan mahasiswa program S1 dan pascasarjana fakultas ekonomi dan manajemen IPB.

Dalam kuliah di auditorium Andi Hakim Nasution, Erzaldi mengatakan salah satu kekayaan alam nusantara yang diperebutkan bangsa kolonial Portugis dan Belanda adalah sahang atau yang dikenal dengan lada putih Bangka. Bangsa kolonial mengenalnya dengan nama Muntok white pepper. Lada terkenal di dunia sejak dulu karena rasanya yang tiada dua yakni pedas dan tanpa kimia.

“Pesaing Lada di dunia ini ada dari Vietnam, tetapi masih kalah jauh kualitas dengan lada Bangka. Di sana (Vietnam.red) tidak sepedas Bangka dan ada pengawet, sedangkan negara-negara dunia inginkan tanpa pengawet,” terang Erzaldi.

Lada yang beredar dan dikonsumsi di dunia terutama di Eropa dikatakan orang nomor satu di pemerintahan provinsi Bangka Belitung, sudah tidak murni lagi. Karena sudah dicampur-campur dengan lada dari berbagai daerah seperti Sulawesi, Kalimantan hingga Vietnam. Makanya kini bangsa Eropa sudah sangat merindukan lada yang asli dari pulau Bangka ini.

“Lada yang beredar sekarang bukan lagi murni lada Bangka. Tetapi sudah dicampur-campur, padahal pasar di dunia tetutama Eropa sangat menginginkan lada Bangka, karena seperti Portugis dan Belanda tahu persis soal lada,” ungkap Erzaldi.

Kondisi lada Bangka saat ini sangat memprihatinkan mulai dari soal stok yang dari tahun ke tahun terus menurun hingga soal harga. Dimana dipaparkannya terakhir tercatat tahun 2012 ekspor hanya mencapai 7.291 ton. Di tahun 2017 untuk luas areal kebun lada hanya tercatat 48.695 atau tersisa 29.0%.

“Sedangkan untuk produksi hanya 32.352 (38.99 %) dengan jumlah petani 57.751. Petani yang ada juga tersisa hanya 21,12 % dan itu sudah banyak yang tua-tua,” ujarnya.

Kondisi komoditas dunia yang memprihatinkan ini kata Erzaldi harus menjadi perhatian serta konsen mahasiswa IPB sebagai garda terdepan pemikir pertanian di Indonesia. Jangan sampai lada khas Bangka ini ke depanya hanya tinggal nama alias sejarah saja.

“Makanya saya mengajak adek-adek mahasiswa semuanya KKN (kuliah kerja nyata.red) di Bangka, asal jangan cengeng. Mesti tidur di kebun bersama para petani, kalian berkolaborasi ilmu pertanian di sana, kita kembalikan kejayaan lada ini,” ajak Erzaldi, langsung disambut tawa dan tepuk tangan.

Usai KKN lanjut suami Melati Erzaldi sebagai wujud apresiasi pemerintah Bangka Belitung mahasiswa akan diajak plesir ke pulau-pulau di Bangka Belitung seperti laskar pelangi.

“Kapal-kapal pesiar” akan disediakan, sambil menikmati keindahan pantai hingga menikmati ikan laut. “Sebagai apresiasi saya sudah siapkan pulau-pulau cantik dan indah untuk refresing, ada laskar pelangi. Nanti makan ikan di kapal, tapi nangkap sendiri di laut, karena laut Bangka banyak ikannya tinggal nangkap saja,” goda Erzaldi yang langsung kembali tepuk tangan mahasiswa bergemuruh.

“Asyikkk… mau-mau pak,” sahut mahasiswa yang lagi-lagi disambut riuh tepuk tangan. (eza)