Kembangkan Halaman Sempit Jadi Bermanfaat, Rumah Hidroponik ala Faurizka

by -
Kembangkan Halaman Sempit Jadi Bermanfaat, Rumah Hidroponik ala Faurizka
Faurizka Izma Hasmita di rumah hidroponik miliknya.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Berikan edukasi pemanfaatan lahan sempit jadi penghasil, Faurizka Izma Hasmita warga Desa Padang Kecamatan Manggar membangun pekarangan sempit menjadi rumah hidroponik atau green house.

Usaha yang dirintis Alumni mahasiswa Fakultas Pertanian UBB Tahun 2019 ini patut menjadi contoh. Betapa tidak, dengan dengan modal nekad, dirinya menabung sedikit demi sedikit untuk membangun green house.

“Saya merintis ini dengan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, mulai dari instalasi hingga pembuatan rumah greenhouse sekitar 17 juta rupiah. Dirangkai selama 2 bulan. Saya membuat hidroponik ini sendiri, terkadang dibantu bapak,” ungkap Faurizka, saat ditemui Belitong Ekspres, Senin (24/8).

Dari hasil pertaniannya itu, Faurizka menjual seharga Rp 25 ribu per kilogram, baik sayur kangkung maupun sayur sawi. Menurutnya, menjual tanaman hidropinik ini lebih asik, pembeli dapat memilih langsung sayuran pada media tanam (netpot). Satu kilogram mencapai 10 netpot sayuran. Selain itu, biar terbebas dari pestisida, Faurizka mencegah hama tanaman dengan membuat perangkap hama.

“Hama itu lebih suka terhadap warna orange, menarik perhatian dia agar tidak lari ke tanaman, sehingga dipasanglah botol itu dengan dicat warna orange. Ketika dipasang perangkap hama warna itu dia akan mandatangi dan terperangkap. Karena saya tidak mau menggunakan pestisida. Dengan sistem itu, tanaman terjamin aman dari pestisida,” ulasnya.

Begitu juga untuk menghindari pancaran sinar matahari secara berlebihan, Faurizka memasang jaring hitam yang bisa diatur buka tutup. Dan mengenai cara penjualan, dirinya memberikan kemasan yang rapi terhadap pembeli, biar lebih fresh dan higienis. “Memang targetnya untuk dipasarkan ke swalayan-swalayan, namun disini belum ada swalayan yang menyetok dan menjual sayuran segar seperti di mall-mall besar,” ujar dia.

Lebih jauh Faurizka menerangkan, beda keunggulan dengan pertanian dilahan perkebunan itu sangat banyak, misal pertanian tanah itu biasanya menggunakan pupuk kandang, misalnya kotoran sapi, ayam, sehingga menurutnya kurang higienis. Kalau dengan tehnik hidroponik, kata dia hanya menggunakan sirkulasi air, sehingga kebutuhan air dan oksigen stabil, dan ini lebih terjaga.

“Selain itu, ketika panen itu kontinyu (terus menerus), tidak melakukan pengolahan tanah ulang. Tidak perlu mencangkul. Palingan hanya ngecek air. Pertumbuhan lebih stabil. Bahkan pertumbuhan umur tanaman lebih terkontrol. Sehingga dapat dihitung,” terang Faurizka.

Sistem hidroponik yang dia gunakan memakai sistem Deef Flow Technique (DFT). Menurutnya, sistem DFT cenderung lebih aman pemeliharaannya. DFT ini adanya genangan air, sehingga ketika listrik padam kondisi air tetap stabil.

“Namun kalau sistem NFT itu lebih khawatir. Itu memggunakan aliran air yang sangat tipis, sehingga ketika mati listrik beresiko kekeringan sirkulasi air. Rencana pengembangan Insya Allah ada, saat ini fokus kepada edukasi kepada masyarakat. Karena hidroponik ini tidak memerlukan lahan luas, tidak perlu kerja keras mencangkul lahan, dan bisa kontinyu. Enak ketika masyarakat setelah paham sistem pertanian hidroponik nanti,” tandasnya. (dny)