Kendalikan Inflasi melalui Pola Konsumsi

Oleh:
IRSYADINNAS
Statistisi Pemda Belitung Timur

iklan swissbell

belitongekspres.co.id, Kita sadari bersama bahwa meskipun telah gencar digalakkannya program Keluarga Berencana, namun secara agregat kampanye ini ternyata belum mampu secara optimal untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di dunia yang bahkan semakin tak terbendung dan tidak terkendali.

Pertumbuhan penduduk ibarat dua sisi mata uang, di satu sisi telah memberikan dampak positif yaitu sebagai potensi sumber daya tenaga kerja bagi aktivitas ekonomi yang kita kenal dewasa ini dengan skenario bonus demografi, namun di sisi lain juga telah menciptakan permasalah baru yang secara jangka panjang akan menjadi beban bila dikaitkan dengan kebutuhan pangan untuk memenuhi konsumsi penduduk tadi.

Mencermati data demografi yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui website resminya di kedua Kabupaten di Pulau Belitung ini, telah terjadi peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun.

Misalnya saja untuk Kabupaten Belitung, Jumlah Penduduk pada Tahun 2018 diproyeksikan sebesar 186.155 jiwa, bertumbuh sekitar 3,14 persen jika dibandingkan pada Tahun 2017 dengan jumlah penduduk sekitar 182.418 jiwa.

Tidak berbeda jauh dengan Kabupaten Belitung Timur, dimana jumlah penduduk pada Tahun 2018 lalu telah mencapai 127.064 jiwa, tumbuh sekitar 1,99%.

Meskipun Belitung Timur bisa dikatakan cukup berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk dibandingkan Kabupaten Belitung, namun jika diakumulasikan dengan seluruh daerah maka tentu saja akan menjadi angka yang signifikan jauh lebih besar.

Hal inilah yang sebenarnya cukup mengkhawatirkan jika secara global kita tidak mampu menyiapkan kebutuhan akan konsumsi pangan bagi penduduk tersebut.

Disarikan dari data yang dikeluarkan oleh Dinas Pangan Provinsi Babel bahwa pada Tahun 2017 lalu angka kebutuhan konsumsi beras masyarakat Babel mencapai sekitar 122ribu ton, mengalami pertambahan jika dibandingkan dengn kebutuuhan pada tahun sebelumnya 2016 yaitu sekitar 120ribu ton.

Mencermati bahwa Babel bukan daerah yang perekonomiannya tidak bertumpu penghasil beras sebagai produk utama, maka ketersediaan beras di Babel ini masih sangat tergantung pada pasokan dari luar.

Data yang diterbitkan oleh Dinas Pangan Babel menyebutkan bahwa ketersediaan beras di Babel sekitar 80-85 persen berasal dari luar, sisanya sekitar 15-20 persen adalah hasil produksi beras lokal daerah pertanian di Babel.

Jika kita lanjutkan diskusi ini dengan membahas komoditas pangan utama yaitu beras, maka arah ulasan ini akan berkaitan dengan salah satu indikator makro ekonomi yaitu inflasi.

Hukum Ekonomi menyebutkan bahwa tingginya angka permintaan yang belum didukung oleh kapasitas suplai yang memadai akan menyebabkan kenaikan harga terhadap komoditas bahan pangan terutama beras tadi sehingga kenaikan harga beras seringkali dibahas sebagai salah satu penyumbang terjadinya inflasi dari komoditas pangan.

Sampai dengan saat ini, beras masih menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi di beberapa daerah Indonesia.

Pemerintah Daerah mulai melihat ini sebagai isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian khusus dan prioritas untuk dipecahkan.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang dibentuk di berbagai daerah digerakkan agar mulai memperhatikan bagaimana permasalahan inflasi ini bisa dikendalikan, meskipun hasilnya belum cukup membantu secara maksimal dalam upaya pengendalian inflasi.

Perlu keterlibatan berbagai pihak misalnya pihak akademisi, pihak swasta, terutama yang tidak kalah penting adalah peran dari masyarakat dengan cara mengatur pola konsumsi sesuai kebutuhan agar inflasi bisa terkendali, karena inflasi dalam pembangunan ekonomi merupakan suatu keniscayaan, maka tujuan sebenarnya bukan menurunkan angka inflasi sampai ke titik nol, tapi memastikan bahwa angka inflasi terjaga pada kondisi ideal.

Baca Juga:  Mewujudkan Belitung Bebas Sampah

Peran masyarakat melalui pola konsumsi yang baik sangat diperlukan, karena dalam konsep pelaksanaan pembangunan dewasa ini telah ada pergeseran paradigma bahwa entitas masyarakat tidak hanya sekedar sebagai sasaran (objek) pembangunan saja, namun juga ikut berperan serta sebagai pelaku (subjek) pembangunan, sehingga masyarakat cenderung dituntut lebih pro aktif untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

Ada sebuah ungkapan yang sering kita dengar, dan disampaikan pertama kali oleh Hippocrates seorang filsuf dari Yunani yaitu “you are what you eat”, kamu adalah apa yang kamu makan.

Kalau melihat pola konsumsi mayoritas masyarakat kita dewasa ini, kuantitas kerapkali dijadikan tolok ukur dalam memilih sebuah makanan, semakin banyak semakin menggiurkan. Setelah diperhatikan lebih lanjut, terdapat hal unik yang terjadi dalam dinamika konsumsi masyarakat kita.

Masyarakat kita tampak tidak terpengaruh oleh banyaknya program televisi yang memaparkan tentang bahaya pola konsumsi makanan yang bertumpu pada aspek kuantitas saja (yang penting jumlah konsumsinya banyak), ataupun jajanan yang kurang bergizi, karena penekanannya hanya pada sisi kuantitas dan harga yang relatif murah.

Padahal sejatinya, apapun yang kita makan mencerminkan akan menjadi seperti apa kita, dan memahami apa tujuan kita makan juga merefleksikan jenis pangan sehat yang kita konsumsi.

Pangan sehat merupakan makanan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang dalam tubuh. Gizi seimbang dimaksud mampu mencukupi kebutuhan makro nutrien tubuh meliputi karbohidrat, protein, dan lemak.

Lantas pertanyaannya bagaimana pola diet sehat yang dibutuhkan tubuh? Memang kebutuhan konsumsi ini berbeda-beda setiap orang, namun secara umum kebutuhan ini bisa disamakan, sehingga World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia megeluarkan panduan pola konsumsi yang ideal yaitu 50 persen buah dan sayur, 25 persen karbohidrat, serta 25 persen protein.

Nah, tentu pertanyaan selanjutnya adalah darimana mendapatkan seluruh kebutuhan sesuai porsi ideal tersebut? Sebenarnya, semua pangan sehat itu ada disekitar kita dan mudah dijangkau.

Kualitas dan kuantitas konsusmsi pangan semakin beragam, bergizi seimbang dan aman ditunjukkan dengan peningkatan Skor Pola Pangan Harapan (PPH).

Food Agriculture Organization (FAO) mendefinisikan PPH sebagai komposisi kelompok pangan utama yang bila dikonsumsi dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya.

Sebagaimana yang dijelaskan di atas, bahwa sebenarnya merujuk kepada panduan yang telah diterbitkan WHO di atas, konsumsi karbohidrat yang dibutuhkan oleh tubuh hanya 25 persen saja dari total makanan yang kita konsumsi, namun pola konsumsi masyarakat kita yang masih tergantung pada salah satu komoditas yaitu beras seringkali menjadi pokok persoalan ketersediaan pangan, karena ketergantungan ini menyebabkan negara perlu usaha lebih besar untuk mencukupkan kebutuhan akan karbohidrat yang jauh di atas kebutuhan normal (25 persen), bahkan akhirnya pemerintah mengatasinya dengan membuka keran impor terhadap komoditas beras.

Baca Juga:  Menyelamatkan Generasi Muda dari Bahaya Narkoba

Memang menjadi capaian yang baik jika kita tinjau dari Skor PPH, hal ini dibuktikan dari Konsumsi tahun 2017 kelompok pangan padi-padian telah mencapai angka jauh di atas 25 persen.

Namun sebenarnya beras putih yang menjadi pangan utama yang mendominasi pola konsumsi masyarakat kita ternyata mengandung glikemik tinggi yang cepat menjadi gula darah, dan jika terjadi penimbunan berpotensi mengakibatkan penyakit mematikan seperti diabetes.

Masih sedikit masyarakat kita yang mengetahui bahwa buah dan sayur pun juga bisa menjadi sumber karbohidrat yang cukup dibutuhkan oleh tubuh, hal ini mengakibatkan belum beragamnya pola konsumsi pangan masyarakat, dan akhirnya sangat tergantung kepada sumber karbohidrat utama yaitu nasi yang mengandung glikemik tinggi.

Terbukti bahwa tahun 2017 Skor PPH Konsumsi Bangka Belitung untuk kelompok pangan buah dan sayur baru hanya sekitar 20 persen, angka ini masih jauh di bawah angka ideal sebesar  50 persen.

Oleh karena itu, mulai saat ini mindset pola konsumsi pangan masyarakat hendaknya harus mulai diubah ke arah yang lebih ideal.

Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan suatu hal yang mutlak harus terpenuhi, sehingga tidak salah bahwa masalah pangan harus menjadi prioritas pembangunan nasional dan daerah.

Setiap rumah tangga diharapkan dapat mengoptimalisasi sumber daya yang dimiliki termasuk pekarangan dalam menyediakan kecukupan pangan bagi keluarga.

Sejak tahun 2011 Kementerian Pertanian Republik Indonesia telah mengkampanyekan agar Rumah Tangga perlu mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan melalui konsep Rumah Pangan Lestari (RPL).

RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam.

Manfaat program ini selain menciptakan efesiensi pengeluaran, juga bisa meningkatkan derajat kualitas kesehatan masyarakat karena mengkonsumsi makanan dengan bahan-bahan pangan yang alami dan dirawat sendiri.

Komoditas tanaman yang bisa digunakan dalam program RPL meliputi umbi-umbian, sayur-sayuran, buah-buahan, ikan, ternak unggas, serta tanaman obat keluarga (toga).

Selama ini program RPL telah diimplementasikan oleh masyarakat kita, namun masih bersifat sementara dan belum berkelanjutan serta belum optimal dalam pemanfaatan lahan dan pekarangan untuk menghasilkan berbagai kebutuhan pangan yang bisa dikonsumsi.

Terlebih lagi karena keterbatasan lahan, banyak pekarangan yang dikoversi menjadi pengembangan hunian baru. Hal ini menjadi bahan evaluasi bersama dan catatan penting dalam melakukan terobosan, perbaikan, advokasi serta pendampingan dalam memperkuat pembangunan melalui ketersediaan pangan, sehingga inflasi daerah tetap terkendali.

Sebagai simpulan dari ulasan ini, maka penulis berharap, penjelasan di atas bisa membuka pikiran kita bersama, bahwa dari sisi masyarakat, upaya untuk memastikan inflasi terkendali salah satunya melalui penerapan pola konsumsi yang ideal.

Perlu diupayakan bersama kolaborasi dan sinergitas semua pihak secara berkelanjutan. Mari kita perjuangkan bersama untuk mengubah pola konsumsi dengan tidak bergantung secara berlebihan kepada satu komoditas pangan saja yaitu beras, dan mulai menerapkan pola konsumsi yang wajar sesuai kebutuhan nutrisi yang diperlukan tubuh, yang pada akhirnya bisa mencegah terjadinya inflasi yang tak terkendali akibat konsumsi yang berlebihan tadi. Aamiiin.***

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply