Kepala BKP Dituding Gunakan Uang Negara

by -

// Rofiko : Ada Provokator

PANGKALPINANG – Puluhan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas di Badan Ketahanan Pangan (BKP) Bangka Belitung (Babel) menuding Kepala BKP Babel Rofiko telah menyalahgunakan wewenangnya sebagai kepala BKP Babel. Hal ini disampaikan staf BKP didepan Wakil Gubernur (Wagub) Babel Hidayat Arsani, Sekda Babel Syahrudin dan Kepala BKD Babel Tarmin AB, kemarin (28/4).
Bendahara BKP Yahudi menjelaskan, penyalahgunaan wewenang tersebut antara lain Rofiko menggunakan uang negara untuk keperluan pribadi berupa pembelian peralatan rumah tangga. Hal ini dibuktikan dari kuitansi yang sudah dikeluarkan bendahara. “Kami mengadukan kepala BKP karena sering menggunakan uang negara untuk membeli keperluan pribadi, dan ini dibuktikan dengan kuitansi pembelian barang-barang pribadi itu,” kata Bendahara BKP, Yahudi.
Tidak hanya itu, kata Yahudi, Kepala BKP juga sering dinas luar dengan menggunakan hampir nama seluruh staf di BKP. “Setiap minggu surat tugas keluar atas nama staf. Nama staf sudah hampir sering kali dipakai untuk dinas dan sementara uang dinas diambil dan digunakan untuk kepentingan pribadi,” katanya. Untuk itu, kata dia, ia berharap wagub untuk mengambil tindakan, karena mempengaruhi kinerja staf di lingkungan BKP Babel. “Selain itu, prilaku kepala badan juga berdampak terhadap mental para staf, karena mereka takut untuk menolak perintah pimpinan yang dinilai melanggar aturan berlaku. Kami berharap pendapat dan solusi wagub untuk mengatasi masalah ini, jangan sampai berlarut-larut yang berdampak terhadap kinerja pegawai,” harapnya.
Menanggapi itu, Wagub Babel Hidayat Arsani berjanji akan mencopot Rofiko karena diduga menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi. “Jika benar laporan Kepala BKP Kepulauan Babel, Rofiko menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi, maka besok (29/4) kami akan copot jabatannya sebagai kepala badan,” kata Dayat.
Berdasarkan laporan yang diterima, kata dia, kepala badan di instansi tersebut sering menggunakan uang negara untuk membeli keperluan pribadi seperti peralatan rumah tangga. Kepala badan terkait sering dinas luar menggunakan nama staf dan uang dinas luar itu diambil dan digunakan untuk kepentingan pribadinya. “Ini sudah tidak benar lagi dan harus ditindak sesuai peraturan yang berlaku,” ujarnya. Untuk itu, kata dia, pihaknya menyarankan puluhan staf yang mengadu ini untuk melaporkan hal ini kepada Polda untuk ditindaklanjuti. Setelah itu, pihaknya akan mengeluarkan surat pencopotan jabatan kepala BKP itu.
“Seharusnya, menanggani masalah ini pihak inspektorat, namun kami mengkuatirkan proses penindakan berjalan lambat dan masalah ini bisa ‘masuk angin’,” ujarnya. Untuk itu, kata dia, diharapkan staf yang melaporkan kepalanya untuk melengkapi dengan bukti-bukti yang kuat, agar penyelidikan masalah bisa dilakukan baik dan cepat. “Ini merupakan komitmen kita untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN. Untuk itu, kami ingatkan seluruh kepala SKPD, PNS tidak melakukan hal-hal yang merugikan negara. Tidak ada ampunan bagi PNS yang menggunakan uang negara, meski Rp5.000 tetap ditindak sesuai aturan berlaku,” katanya
Terpilihnya Rofiko menjadi Kepala BKP Babel, menurut Dayat karena proses baperjakat, bukan usulan pribadi, dan dengan gelar dokternya itulah Ia bisa menempati jabatan strategis di BKP Babel. “Gelar dokter itu tidak sembarang, dengan latar belakang itulah kita tempati dia, ternyata amanah ini tidak Ia jalankan dengan baik, dan ini menjadi contoh untuk semua SKPD,” tandasnya.
Sementara, terkait tudingan tersebut, Rofiko yang sedang mengikuti diklat revolusi mental di Subang, Jawa Barat, menyangkal apa yang dilaporkan stafnya. “Palsu itu, dan saya tidak tau. Saya baru dua bulan menjabat, saya hanya meneruskan apa yang dari Pak Toni dulu, tudingan itu tidak benar, ada provokator dibalik semuanya,” ungkap Rofiko via ponsel.  Lebih lanjut Ia menambahkan, selain ada provokator dibalik semuanya, menurut Rofiko beberapa stafnyalah yang sebenarnya banyak menggunakan uang negara, dan ini sudah terjadi sebelum Ia menjabat.
“Mereka menuding saya. Padahal utang-utang mereka yang banyak sekali, ada seratusan juta, sebelum saya menjabat juga sudah banyak hutang mereka, mereka juga melakukan pengrusakan barang negara, dan ini akan saya laporkan,” ujarnya. Ketidakharmonisan Rofiko bersama para staffnya, menurut Rofiko karena ada beberapa staffnya juga sering mengambil tindakan sendiri tanpa Ia ketahui. Sedangkan ia sudah berusaha bekerja semaksimal mungkin. “Saya yang instruktur, ya saya tidak mau ikuti mereka. Proyek yang seharusnya dilelang, banyak gak dilelang, dan proyek yang tidak saya tau, malah dilelang mereka, itu saya tidak ta. Saya hanya kerja sesuai prosedur,” tandasnya.(eza/ant/rb)