Kepala PT Akui Pegawai Terlibat Dugaan Penggelapan

OYO 399 Kelayang Beach Hotel

PANGKALPINANG – Kepala Pengadilan Tinggi (PT) Bangka Belitung (Babel), Zaid Umar Bobsaid mengakui salah satu oknum pegawainya yang berinisial JBA terlibat kasus dugaan penggelapan dan sudah dilaporkan oleh pihak korban ke SPK Polres Pangkalpinang.
“Kasus yang dialami salah satu oknum ini tidak hanya sebagai penggelapan saja, tetapi sudah bisa dimasukkan dalam kategori makelar kasus. Kasus ini sendiri sudah ditangani oleh pihak Kepolisian dan kami menyerahkan sepenuhnya sesuai dengan proses hukum,” ujarnya, Kamis (19/2).
Menurutnya, praktek makelar kasus yang dilakukan salah satu oknum pegawainya merupakan tindakan orang-orang nakal yang bisa merusak institusi Pengadilan. Pihaknya tidak akan mentolerir kalau ada pegawainya yang terlibat jadi makelar kasus.
Ia mengatakan, siapapun pegawainya yang terlibat sebagai makelar kasus untuk membebaskan perkara tindak pidana narkoba tidak boleh diampuni dan harus ditindak tegas.
“Sebelum ramai diberitakan, saya sudah mendapat laporan terlebih dulu dari Kepala Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Sutaji. Namun untuk saat ini saya belum bisa memutuskan hukuman tegas apa yang akan diberikan sebelum ada hasil penyidikan dari Kepolisian,” ungkapnya.
Kepala Pengadilan Negeri Pangkalpinang Sutaji membenarkan kalau dirinya yang paling pertama melaporkan kepada pimpinannya soal dugaan makelar kasus yang menimpa anak buahnya.

Baca Juga:  Dugaan Pemalsuan Dokumen Anggota KPU Basel Bergulir

Menurutnya, Laporan tersebut sangat penting supaya menjadi pembelajaran bagi anak buahnya yang selama ini sering bermain perkara terutama narkoba.

“Saya berkewajiban melapor kepada pimpinan di Pengadilan Tinggi. Apalagi ini menyangkut soal ancaman pidana dan citra buruk peradilan kita. Institusi sangat tegas melarang adanya perilaku markus kepada pegawai Pengadilan. Tetapi Bonar kalau terbukti tanggung sendiri resikonya,” ujarnya.
Kasus ini bermula ketika korban Yun Kiun melalui pengacaranya Ikhwan Fahroji membuat laporan penggelapan ke Polres Pangkalpinang pada Rabu (11/2) yang melibatkan seorang pegawai Pengadilan Negeri Pangkalpinang, James Bonar Aristoleles Silalahi (42).
Dalam laporan tersebut Ikhwan menyebut dugaan penggelapan itu terjadi pada Kamis 27 Februari 2014. Sewaktu itu Bo dan Ir menemui terpidana Yun Kiun di Lapas Tuatunu. Maksud tujuan pertemuan tersebut guna mengurus peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung namun dibutuhkan uang senilai Rp 650 Juta.
Namun setelah menyerahkan sejumlah uang, ternyata PK kliennya tidak dikabulkan oleh MA. Yun Kiun kemudian meminta uang tersebut dikembalikan namun tak kunjung terwujud. Maka dari itulah kemudian pihak Yun Kiun memilih jalan proses hukum ini. (ant/rb)

Tags:
author

Author: