Kepsek SDN 38 Bantah Ancam Siswa

by -

*Ada Siswa Diancam Hukuman Jemur hingga Tak Naik Kelas

foto A- sdn 38 tanjungpandan - Copy

Foto A: ainul yakin/be
Suasana pertemuan dihadiri Sekdin Dikbud Belitung Paryanta (paling kiri), Hasandi (tengah) Kepsek Agustiningsih (paling kanan) di SDN 38 Tanjungpandan, kemarin.

TANJUNGPANDAN-SDN 38 Tanjungpandan di Jalan Depati Gegedek sempat diterpa isu tak sedap. Isu itu menyangkut kebijakan Kepala Sekolah yang dinilai tak tepat diterapkan, mulai dari masalah kantin hingga iuran “infak”. Bahkan, ada sejumlah siswa kabarnya juga sampai mendapatkan ancaman hukuman tertentu hingga ancaman tak naik kelas. Kabar ini pun juga sampai ke telinga beberapa orang tua siswa yang tentunya membuat ortu meradang.
Atas kabar tak sedap tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Belitung, Kepala Sekolah, perwakilan orang tua siswa dan pengelola kantin mengadakan pertemuan.  Pertemuan terbuka ini dilaksanakan di SDN 38 Tanjungpandan Jalan Depati Gegedek, Jumat (11/9) kemarin. Pertemuan dihadiri Sekertaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung Parianta, Kasi Kurikulum dan Ketenagaan Hasandi, Kepala Sekolah SDN 38 Tanjungpandan Agustiningsih, pengelola kantin EN (inisial) dan perwakilan ortu AB (inisial).
Dalam pertemuan, perwakilan ortu dan pengelola kantin mengungkapkan sejumlah kabar dan isu yang diterima. Di antaranya, kepala sekolah melarang siswa-siswi membeli makanan ke kantin lama yang berada ujung kawasan sekolah yang  dekat dengan Museum Tanjungpandan ini. Siswa-siswi diingatkan untuk membeli makanan di kantin baru yang dibangun oleh sekolah.
Ada kabar,  siswa-siswi yang nekat beli makanan di warung milik EN tersebut, akan diberi hukuman, di antarnaya dijemur di depan sekolahan. Bahkan sang murid diancam tidak naik kelas apabila masih nekat membeli makanan di kantin yang bukan dibuat oleh sekolah.
Selain itu, masalah lain yang diungkap dalam pertemuan adalan soal infak. Para siswa ini diminta membayar infak tiap minggu dengan nominal yang ditentukan sebesar Rp 5 ribu per siswa. Berdasarkan informasi yang dihimpun, uang tersebut digunakan untuk membangun masjid. Tapi, sekolah mengambil keputusan untuk membangun pagar.
Kepala Sekolah SD Negeri 38 Tanjungpandan Agustiningsih mengatakan, ia membatah telah melakukan tindak diskriminasi para siswanya untuk tidak membeli di kantin “ujung” milik AN. Menurutnya, dia hanya mempromosikan kantinya kepada anak-anak agar membeli makanan di tempat yang dikelola oleh guru-guru.
“Saya tidak pernah mengancam siswa, atau juga menghukumnya jika membeli makanan di kantin “ujung”. Kami hanya mempromosikan. Kami juga punya hak untuk berjualan, sebab dari keuntungan tersebut, uangnya kami gunakan untuk membangun pagar sekolah,” ujar Agustiningsih.
Dirinya membenarkan meminta infaq sebesar Rp 5 ribu kepada para siswa. Dijelaskan Agustiningsih, uang dari hasil infaq tersebut digunakan untuk membangun pagar di sekolahan yang ia pimpin. Sebab, kondisi sekolahannya saat ini rawan kejahatan.
“Alasan kami memintai infaq ke siswa-siswi lantaran kami ingin cepat-cepat membangun pagar. Sebab, sekolahan kami sudah tidak aman. Pasalnya, tiap malam ada orang masuk ke ruangan. Mereka, mengunakan komputer untuk internetan,” katanya.
“Lebih parah lagi, komputer yang digunakan oknum-oknum tak bertanggung jawab ini, banyak foto-foto hasil dowload yang sangat tidak layak untuk dilihat oleh para murid, maka dari itu kami menginginkan sekolahan dibuat pagar,” pungkasnya.

Usai mendengarkan penjelasan Kepala Sekolah SD Negeri 38 Tanjungpandan, Sekertaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung Parianta memberikan keputusan mengenai masalah ini.
Parianta meminta kepala sekolah agar bersaing yang sehat dalam menjual makanan. Dia tetap memperbolehkan pemilik kantin “ujung” untuk menjual makanan di sekolahan tersebut. Tapi dengan syarat, mentaati aturan yang ditetapkan Dinas Pendidikan, dan Dinas Kesehatan.

“Yakni menjual makanan yang sehat. Tidak boleh menggunakan plastik. Melainkan menggunakan piring dan gelas. Selain itu, tidak boleh ada zat pewarna dalam makanan yang dijualnya,” katanya.
Mengenai infaq, Parianta meminta ke kepala sekolah untuk menghentikan dan tidak meminta uang ke siswa lagi.  Masalah pagar, dirinya akan mengusahakan untuk meminta bantuan ke Pemda Belitung melalui dana APBD.
“Masalah pagar itu urusan kami (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,Red). Tugas ibu tetap fokus untuk memimpin sekolah. Kita akan cari dan kawal mengenai masalah ini, kita akan carikan dana untuk pembangunan pagar sekolah ini,” pungkasnya.(kin)