Kesaksian 6 Anggota Satpol PP Babel, Sandi Perintahkan Bakar Ponton TI

by -
Kesaksian 6 Anggota Satpol PP Babel, Sandi Perintahkan Bakar Ponton TI
Anggota Satpol PP Provinsi Babel saat dimintai keterangan dalam sidang di PN Tanjungpandan, Kamis (7/1) kemarin.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Sebanyak 6 orang Anggota Satpol PP Provinsi Bangka Belitung (Babel) memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan kasus tragedi tambang ilegal Sijuk di Pengadilan Negeri (PN), Kamis (7/1) kemarin.

Para saksi tersebut menerangkan mereka diperintah Sandi selaku Kasi Ops Satpol PP Provinsi Babel, untuk membakar sejumlah ponton TI Rajuk saat penertiban tambang di Sungai Sengkelik, Tanjung Siantu, Sijuk, November 2019 silam.

Mereka yang diminta keterangan adalah Samsul, Kodir, Ahyar, Firmansyah, Hendrik, dan Purnomo. Di hadapan majelis hakim yang diketuai Anak Agung Niko Brama Putra, 6 orang anggota Satpol PP itu memberikan kesaksiannya.

Kata Kodir dkk, sebelum mereka melakukan razia anggota Satpol PP sempat mendapat arahan dari Wakil Gubernur Babel Abdul Fatah dan Kasatpol PP Provinsi Babel, Yamoa’a Harefa. Yakni melakukan penertiban tambang di lokasi.

Menurut Kodir, Wagub Babel meminta pada saat melakukan razia dengan cara humanis. Sedangkan Yamoa’a meminta untuk membuat dua tim sebelum berangkat ke lokasi. Yaitu tim angkut dan bongkar.

Setelah itu, ke-6 saksi ini menuju ke lokasi bersama ratusan personil Pol PP Babel lainnya. Setiba di lokasi suasan terlihat sepi. Hanya ada sekitar empat orang pekerja yang melakukan aktivitas pertambangan.

Kemudian, Anggota Satpol PP Babel menyebar menuju ke dalam hutan. Hingga akhirnya mereka menemukan puluhan ponton maupun mesin TI Rajuk. Lalu mereka sempat memikul peralatan tambang beberapa meter.

Selang berapa lama, Sandi yang merupakan Kasi Ops Satpol PP Provinsi Babel menyuruh sejumlah anggotanya untuk membakar ponton TI Rajuk tersebut. “Dia bilang suruh bakar. Asal jangan sampai kena hutan,” kata Kodir dalam persidangan dan diiyakan saksi lainnya.

Mendapatkan perintah membakar, lalu Anggota Satpol PP Provinsi Babel mengumpulkan ponton TI Tajuk yang terbuat dari kayu dan beberapa mesin. Lantas, mereka membakar dengan menggunakan solar milik penambang.

“Selang beberapa lama, warga atau pemilik tambang mendatangi lokasi. Hingga terjadilah kasus pengeroyokan maupun penganiayaan,” terangnya.

Menanggapi kesaksian itu, Sandi menyatakan keberatan. Pasalnya, ada beberapa hal yang tidak diungkapkan dalam kesaksian dari 6 anggota Satpol PP ini. Di antaranya peran Kasatpol PP Provinsi Babel Yamoa’a Harefa, dalam kasus pembakaran tersebut.

Di hadapan Majelis Hakim, Sandi menjelaskan, pada saat memberikan arahan, Yamoa’a menyuruh anggota yang bernama Rusmin untuk membuat tim. Yang namanya tim bakar. Hal itu disaksikan oleh Purnomo.

“Bapak kan (Purnomo) sudah disumpah sebelum memberikan kesaksiannya. Saya minta bapak jujur,” kata Sandi.

Sandi mengungkapkan, dalam sidang ini seluruh saksi tidak menjelaskan secara keseluruhan. Yakni pada saat sebelum melakukan penertiban, dia telah bertemu dengan staf ahli Gubernur Babel Erzaldi, di bidang hukum, yaitu Zaidan.

“Saat itu kita menanyakan, jika dalam penertiban nanti ditemukan adanya alat TI Rajuk (tambang) lalu apa yang harus dilakukan. Lalu, Pak Zaidan menjawab beberapa alat boleh diangkut. Sisanya boleh dibakar,” jelasnya.

“Lalu kenapa dalam sidang ini, kalian tidak mengungkapkan masalah ini,” sambung Sandi dengan nada tegas.

Usai mendengar keterangan Sandi, Hakim ketua Niko langsung menanyakan ke Purnomo mengenai ungkapan Sandi. Purnomo pun langsung menjelaskan hal tersebut. Dia tak menampik apa yang diungkapkan Sandi.

“Namun pada saat Kasat (Yamoa’a) menyebut membuat tim bakar, itu pada saat selesai memberikan arahan,” kata Purnomo. Sidang pun kembali dilanjutkan pekan depan dengan agenda masih pemeriksaan saksi. (kin)