Ketua Koperasi Plasma Sejahtera Bersama Air Selumar Tersangka, Tilep Duit Rp 800 Juta

by -
Ketua Koperasi Plasma Sejahtera Bersama Air Selumar Tersangka, Tilep Duit Rp 800 Juta
(kiri) Tersangka Ketua Koperasi Plasma Sejahtera Bersama Air Selumar, Evan Sonata.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Ketua Koperasi Plasma Sejahtera Bersama di Air Selumar, Evan Sonata (41) kini jadi tersangka dan sudah mendekam di sel tahanan Polres Belitung. Tersangka diduga menggelapkan uang sisa pembayaran pajak koperasi kurang lebih Rp 800 juta.

Kasatreskrim Polres Belitung AKP Chandra Satria Pradana mengatakan, penetapan tersangka setelah pihaknya melakukan gelar perkara, Senin, (3/8) lalu. Untuk sementara polisi masih menetapkan satu orang tersangka. Yakni ketua koperasi. Penetapan tersangka ini berdasarkan bukti-bukti yang ada.

Seperti berkas-berkas dokumen perpajakan, dan juga keterangan dari saksi-saksi. Selain itu, tersangka juga mengakui perbuatannya. Dijelaskan pria asal Jawa Timur itu, kasus ini berawal dari laporan masyarakat Desa Air Selumar, Kecamatan Sijuk.

Saat itu, mereka tidak menerima uang dari koperasi tersebut pada tahun 2019. Sedangkan dari pihak perusahaan kelapa sawit di desa tersebut telah memberikan uang ke koperasi. Lantas, warga mempertanyakannya kepada ketua koperasi Koperasi Plasma Sejahtera Bersama.

Hingga akhirnya sang ketua koperasi mengakui uang ratusan juta ini telah digunakannya. Usai mendengar pengakuan dari tersangka, masyarakat terlihat geram. Lalu, sejumlah perwakilan warga yang merasa dirugikan melaporkan ke Polres Belitung.

“Mereka melapor pada awal Januari 2020 lalu. Setelah itu kami melakukan penyelidikan. Hingga ketua koperasi Evan kita ditetapkan sebagai tersangka,” kata AKP Chandra kepada Belitong Ekspres, Kamis (6/8) kemarin.

Namun, sebelum polisi menetapkan sebagai tersangka, warga Air Selumar yang merasa dirugikan sempat mendatangi Polres Belitung bulan Juli lalu. Kedatangan mereka untuk menanyakan sejauh mana perkembangan proses hukum kasus yang dilaporkan. Bahkan mereka juga mempertanyakan, kenapa penanganan kasus ini berjalan lama hingga tujuh bulan.

Menanggapi hal itu AKP Chandra menerangkan, lamanya proses hukum ini lantaran ada beberapa kendala. “Seperti pengumpulan barang bukti dan juga kendala antar instansi. Hal itu yang membuat penanganan kasus ini berjalan lambat,” katanya.

Dalam kasus ini, polisi menjerat tersangka dengan Pasal 372 dan 374 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Tentang Penggelapan. Ancaman hukuman lima tahun penjara.”Tersangka mengakui perbuatannya. Uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhannya uang yang digunakan tersangka sebanyak kurang lebih Rp 800 juta,” pungkasnya. (kin)