Kisah Banjir Terparah Sepanjang Sejarah di Belitong Tangis Pengungsi Pecah, Sedih Jauh dari Masjid

by -2 views

DATANGNYA musibah sering tidak kita duga-duga. Sekuat tenaga membangun kebahagiaan keluarga, hilang sekejab saat banjir melanda. Itulah yang dirasakan warga yang menjadi korban banjir di Kabupaten Belitung Timur sejak 5 hari terakhir.

Laporan: Muchlis Ilham Belitong Ekspres

Jalima
Jalima (67)

belitongekspres.co.id, Suara tangis memecah ruang aula Kantor Kecamatan Gantung oleh salah seorang warga yang mengungsi akibat banjir terparah sepanjang sejarah di pulau Belitong.

Saat wartawan Belitong Ekspres berusaha mencari tahu alasannya, Jalima (67) warga Dusun Seberang Desa Selinsing Kecamatan Gantung mengaku jika dirinya hanya meratapi nasib yang dialaminya. Cobaan hidup yang dirasakan sepertinya belum cukup berganti dengan kebahagiaan.

Setelah diajak bercerita, perlahan air mata dan ratapan Jalima berubah dengan wajah keceriaan. Ia pun mulai menyusuri jalan cerita lama yang membuatnya harus menangis.

“Biarlah nak saya nangis, bukan saya menyesali apa yang sudah terjadi tetapi hanya ingin menumpahkan perasaan kesedihan yang saya dan keluarga alami,” ujar Jalima memulai pembicaraan.

Lebih sudah 30 tahun ia menempati rumah yang diperuntukkan bagi karyawan PT Timah. Itupun perolehan suami Jalima yang mengabdi puluhan tahun di perusahaan yang berjaya pada tahun 60an hingga 90an.

Sampai waktu pensiun tiba, Jalima dan suaminya Daud Payong (80) betah mempertahankan rumah yang mereka tempati. Hanya memiliki seorang anak yang berusia separuh usia Jalima, hingga kini pun tetap berteduh satu atap dengan dirinya.

Jalima tidak pernah menyesali jalan hidup yang dijalaninya. Sempat beberapa kali diusir karena tak punya bukti apapun atas kepemilikan rumah. Tiga kali, ya tiga kali didatangi orang yang berniat mengusirnya sebelum ia mengangsur cicilan hingga lunas.

Kenyataannya, ia hanya sedih saat banjir tiba karena jauh dari masjid yang biasanya rutin didatangi untuk urusan akhirat. Masjid merupakan rumah kedua bagi Jalima, tempat mengadukan keluh kesah sebagai mahluk ciptaan Yang Maha Kuasa.

“Sedih nak, waktu banjir baru terjadi, kami sekeluarga mengungsi ke masjid di depan rumah. Karena ketinggian air semakin tinggi kami diungsikan kesini (Kantor Kecamatan, red). Padahal kalau masih disana, saya dekat rumah dan bisa baca yasin terus,” kata Jalima.

Jalima mengatakan bahwa rumah yang dia tempati hanya harta satu-satunya paling berharga. Ia pun sekuat tenaga mempertahankan rumah walau harus pinjam uang ke Bank untuk membayar ganti rugi atas rumah.

Tak banyak memang, hanya Rp. 400ribu dan dipotong langsung setiap menerima uang pensiun suaminya sebesar Rp. 395ribu/bulan. Dengan potongan sebesar Rp. 35ribu/bulan, Jalima membawa sisa uang pensiun untuk diserahkan pada suami.

“Sisanya setelah dipotong angsuran rumah saya berikan ke suami. Kan ndak enak kalau orang laki dak megang duit walaupun tidak dia belanjakan,” ucap Jalima.

Meski demikian, uang yang didapat selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga walaupun makan seadanya. Buktinya, Jalima merasa do’anya terkabul saat bermunajat memanjatkan permintaan diberi kemudahan rezeki.

“Rumah yang kami tempati sebenarnya sudah tidak layak terutama pada bagian atap yang bocor. Alhamdulillah sikit-sikit saya nyimpan uang untuk mengganti atap seng,” sebut Jalima.

Kondisi suami yang sudah cukup renta untuk bekerja memaksa Jalima mengambil peran mencari nafkah. Meski umurnya pun sudah menua, sisa tenaga yang ia miliki membuatnya tetap semangat agar dapur rumah ngebul setiap hari.

“Buat bantu suami, saya kerja sama orang mengupas bawang. Upahnya Rp.500/kilo. Gajiannya seminggu sekali, kalau sebulan bisa dapat sekitar Rp. 400ribuan lah,” kata Jalima.

Sebagai orang tua, Jalima juga terus menerus memikirkan anak dan cucunya. Penghasilan pas-pasan anak menantunya membuat Jalima tak menyarankan berpisah jauh darinya.

“Daripada anak harus banyak keluar uang buat nyewa rumah, biarlah tinggal dengan saya. Uangnya biarlah untuk keperluan lain. Menantu saya hanya seorang honorer di Pemda, gajinya hanya cukup untuk menghidupi istri dan tiga anaknya yang masih kecil,” ujarnya lagi.

Setelah bercerita panjang, Jalima seperti kembali bersemangat. Ia hanya ingin cepat kembali ke rumah yang menurutnya surga terindah. Walau harus tinggal di pengungsian selama beberapa hari, Jalima juga terus menerus memikirkan pekerjaannya.

“Sampai sekarang saya belum bisa menghubungi pak Wahyu (tempat Jalima bekerja, red) paling nunggu banjir surut dan bisa pulang kerumah,” ujar Jalima sambil berlalu untuk sarapan mie instan bersama suami.

Posko pengungsian Aula Kantor Kecamatan Gantung kebanyakan dihuni warga Dusun Seberang. Total jumlah pengungsi mencapai 273 orang yang kebanyakan berasal dari suku Sawang dan sisanya warga sekitar.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, posko pengungsian menyiapkan dapur darurat dengan mengandalkan bantuan pihak-pihak terkait. (**)