banner 728x90

Kisah Guru dan Murid SDN Simbarlor Siswa SD Belajar sambil Momong Adik

Life at ease with amazing nature| Leebong island

Lokasinya di pelosok. Harus melalui medan yang sulit. Tahun ajaran baru ini mereka hanya bisa mendapatkan tiga orang siswa. Namun, semangat para guru dan murid di sekolah ini sangat luar biasa.

MOH. FIKRI ZULFIKAR  

siswa-sd-belajar-sambil-momong-adik_m_2218

TETAP CERIA: Bupati Kediri Haryanti (tengah) bersama siswa dan guru SDN Simbarlor. (M FIKRI ZULFIKAR – RadarKediri/JawaPos.com)

belitongekspres.co.id, Jalanan berbatu dan berdebu. Kondisi seperti itu yang harus dilalui bila ingin mencapai lokasi SD Negeri Simbarlor. Sekolah dasar yang berada di tengah-tengah area perkebunan Margomulyo.

Jaraknya pun tak dekat. Dari jalan utama, yang menghubungkan Pare – Wates, jarak yang harus ditempuh sejauh lima kilometer. Itupun jalanannya menanjak. Jangan kaget bila jarak lima kilometer itu harus ditempuh dalam tempo 30 menit.

Sekolah ini berada di perkampungan para pekerja perkebunan. Masuk wilayah Dusun Simbarlor, Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten. Jumlah rumahnya tak terlalu banyak. Hanya sekitar 20-an rumah. Wajar bila murid di sekolah ini tergolong sedikit. Dari kelas 1 hingga 6, hanya 26 siswa. Bahkan, murid baru tahun ajaran ini hanya tiga orang.

Di masing-masing tingkatan, jumlah rombelnya masih dalam hitungan jari. Kelas 2 berisi empat murid, kelas 3 ada tiga murid, kelas 4 punya lima murid, kelas 5 berisi lima murid, dan kelas 6 terisi enam siswa.

Penyebabnya, sekolah ini jauh dari perkampungan lain. Sedangkan warga Simbarlor mayoritas adalah pendatang. Mereka bekerja di perkebunan. Jumlahnya pun sangat sedikit.

“Dusun ini hanya ada tiga blok saja di tengah perkebunan,” terang Khoirudin, salah seorang guru di SDN Simbarlor.

Beberapa tahun lalu sekolah ini bahkan pernah tak mendapatkan murid sama sekali. Khoirudin ingat, tahun itu adalah 2007 dan 2008. Dua tahun berturut-turut tak ada siswa baru yang mendaftar.

Selain minim siswa, sekolah ini juga minimal dalam fasilitas. Listrik dari PLN pun baru tersambung beberapa tahun lalu. Sebelumnya, warga dusun pernah mendapat bantuan pemerintah berupa panel listrik tenaga surya. Atau, sebelumnya lagi mereka mengandalkan aliran listrik dari generator disel.

“Sekarang Alhamdulillah sudah lancar. Setelah disaluri kabel (listrik) dari Desa Trisulo (Kecamatan Plosoklaten),” terang guru yang rambutnya mulai memutih ini.

Yang harus dicatat, semangat belajar bocah-bocah dusun ini sangatlah luar biasa. Mereka sudah dituntut mandiri sejak kecil. Orang tua mereka sudah harus bekerja sejak pukul 05.00. Jadi, soal urusan mandi, mempersiapkan peralatan sekolah, dan persiapan lain harus dilakukan para bocah itu.

“Makanan sudah siap langsung ditinggal (oleh orang tuanya). Kadang kalau ada yang malas bangun jadi bangkong (kesiangan, Red) sekolahnya,” terang Khoirudin.

Uniknya, seringkali para bocah itu ke sekolah sembari membawa adiknya yang masih kecil. Sebab, para orang tua yang punya anak belum sekolah memasrahkan pengawasannya pada anak mereka yang lebih besar. Jadinya, mereka bersekolah sembari momong sang adik. “Alasannya tidak ada orang di rumah. Ya itu kami maklumim” jelasnya.

Perjuangan para siswa tak hanya sampai di situ. Sepulang sekolah mereka langsung ambil sabit. Ngarit. Mencari rumput untuk pakan ternak milik orang tuanya. Selain pekerja perkebunan, para orang tua di dusun ini sebagian besar juga memelihara sapi.

Perjuangan berat juga harus diemban oleh para guru. Apalagi, tujuh guru yang dimiliki sekolah ini semuanya berasal dari luar dusun. Setiap hari mereka harus menempuh medan berat. “Rumah saya (dari Kecamatan) Gurah,” kata Khoirudin.

Sekolah ini memiliki tujuh orang guru. Empat di antaranya sudah berstatus PNS-termasuk sang kepala sekolah. Sedangkan tiga orang masih guru honorer.

Setiap hari Khoirudin dkk harus berjibaku dengan jalanan berdebu. Atau becek bila musim hujan. Harus ‘berhadapan’ dengan ratusan truk pasir yang lalu-lalang. Bila di tengah jalan motornya tiba-tiba ngadat, sudah tak mungkin lagi meminta pertolongan. Karena tak ada rumah di sepanjang perjalanan menuju tempat mengajar.

“Pernah pas pulang sekolah motor saya kempes. Mau tidak mau harus nuntun sekitar tiga kilometer,” kenangnya.

Ada lagi guru yang perjuangannya lebih berat lagi. Laily Nihyatun Ni’amah dan Sriwiningsih. Dua guru itu rumahnya berada di wilayah Jombang. Keduanya harus menempuh jalanan berpasir dan berbatuan dari arah utara. Dari Desa Trisulo, perkampungan terakhir, jauhnya masih lima kilometer.

“Kalau Ibu Sri pernah kehabisan bensin di tengah perkebunan,” terang Khoirudin.

Perjuangan berat para guru itu tak sebatas pada medan tempuh saja. Tapi, mereka harus mendapatkan siswa yang benar-benar ‘baru’. Belum mengenal baca-tulis. Sebab, di Dusun Simbarlor tak ada TK, apalai PAUD. Semua siswanya baru merasakan bangku sekolah ketika masuk SD. Tentu saja semuanya belum bisa membaca maupun menulis.

Kondisi itu mengundang keprihatinan Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri. Kepala Dinas Pendidikan Subur Widiono berencana membangun TK di sekitar SDN Simbarlor. “Setelah kami tinjau tadi, ini akan kami kaji terlebih dahulu rencana pembangunan TK,” ungkap kepala dinas asal Kecamatan Badas ini.(rk/fiz/die/JPR)

Tags:
author

Author: