Kisah Petani Jahe Gajah Kecamatan Gantung, Memet Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar

by -
Kisah Petani Jahe Gajah Kecamatan Gantung, Memet Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar
Memet menunjukkan bibit jahe Gajah yang akan ditanam.

Pasokan 1,5 Ton Per Minggu Masih Kurang

belitongekspres.co.id, GANTUNG – Salah satu potensi pertanian di Belitung Timur (Beltim) yang belum dikelola dengan maksimal adalah tanaman rempah. Padahal, pulau Belitung khususnya wilayah Kabupaten Beltim merupakan jalur perdagangan rempah nusantara sejak zaman dahulu.

Adalah Mohammad Made, petani rempah asal Jawa Timur yang mengungkapkan hal tersebut ketika wartawan Belitong Ekspres mengunjungi lahan pertanian sekaligus tempat tinggalnya, di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, pekan lalu.

Ketika ditemui, Memet sedang bersantai dan memang sedari awal menunggu kedatangan Belitong Ekspres setelah sebelumnya menjalin komunikasi lewat pesan aplikasi WhatsApp.

Berperawakan sedang, rambut panjang dan kulit agak gelap, Memet menyambut dengan senyuman saat wartawan Belitong Ekspres datang. Siapa sangka, pria yang akrab disapa Memet itu telah mengelola lahan seluas 2 hektar menjadi lahan produktif dengan tanaman jahe Gajah.

Singkat cerita, Memet menyebut jahe Gajah sebenarnya adalah jahe putih yang banyak digunakan untuk kebutuhan dapur. Kenapa disebut jahe Gajah, karena memang bentuknya lumayan besar seperti besarnya potensi penghasilan dari jenis tanaman ini.

Datang ke Desa Gantung pada awal tahun 2020 lalu, Memet sejatinya sudah lama berkebun jahe di Bangka Barat. Berkat tawaran seorang koleganya, Memet rela memboyong keluarganya pindah ke Desa Gantung tepatnya di lokasi pertanian saat ini. “Saya sudah 7 tahun tinggal di Bangka, dan ada tawaran ke Belitung dari kawan. Lalu saya coba ke sini, survei dan merasa cocok,” ungkap Memet bercerita.

Perlahan tapi pasti, saat ini Memet telah membuka lahan seluas 2 hektar dengan 1,5 hektar diantaranya sudah ditanami dengan jahe. Meski mengkhususkan tanaman jahe di lokasi tersebut, Memet juga menyandingkan tanaman cabe, kacang tanah, semangka dan jenis rempah lainnya sebagai tumpang sari.  “Awalnya disini hutan semak belukar, lalu saya buka perlahan-lahan. Saya olah lahannya dan mulai ditanami,” kata Memet.

Menurut Memet, lahannya sudah pernah dikunjungi Gubernur Bangka Belitung dan menjadi salah satu kebun percontohan jahe di Beltim Ia bertanam jahe secara bertahap agar masyarakat yang ingin belajar atau berwisata kebun dapat melihat dan mengetahui perkembangan jahe Gajah. “Ada yang berumur satu bulan, dua bulan dan lima bulan,” ujarnya sambil mengarahkan pandangannya ke lahan yang terpisah.

Memet menjelaskan, jahe Gajah sangat menjanjikan apabila menjadi salah satu komoditas unggulan di Beltim Jika selama ini hanya mengenal jahe Merah sebagai komoditas yang ekonomis tinggi maka jahe Gajah pun tak kalah menguntungkan. “Satu rumpun jahe Gajah bisa menghasilkan 2 kilogram dengan harga mencapai Rp 28 ribu di pasaran lokal,” ungkap Memet.

Permintaan jahe Gajah juga cukup tinggi, bahkan untuk sekedar memenuhi permintaan pasar lokal pun masih jauh kurang. Dari 3 lapak pedagang saja, Memet harus memasok 1,5 ton perminggu yang artinya sekitar 500 kilogram/pedagang. “Itupun saya masih kewalahan memenuhi permintaan pasar. Sekedar informasi saja, pulau Belitung yang bisa dikatakan wilayah pesisir sangat tinggi permintaan rempah khususnya jahe,” ujar Memet.

Dukungan Pemerintah Daerah

Untuk menjadikan potensi jahe Gajah sebagai komoditas unggulan daerah, Memet menyarankan ada intervensi Pemerintah daerah melalui OPD teknis. Saat ini, salah satu kendala adalah pengolahan lahan secara manual.

Memet sendiri, pernah menyewa alat penggarap lahan dari Danau Nujau untuk membuka lahannya. Hal inilah menurut Memet perlu dibantu oleh Pemerintah agar lahan terbuka lebih cepat sehingga menghemat tenaga dan waktu. “Bagi masyarakat sekitar yang perlu pekerjaan, juga sering saya arahkan kesini. Tapi tidak dapat saya tampung semuanya, tapi bisalah membantu yang membutuhkan,” kata Memet.

Ia berharap dukungan Pemerintah Daerah akan merangsang masyarakat memanfaatkan lahan yang ada untuk bertanam jahe Gajah. Bahkan, ketersediaan bibit jahe Gajah bisa didatangkan Pemerintah dan menjadikan tanaman rempah khususnya jahe sebagai andalan Kabupaten Belitung Timur sebagai wilayah jalur rempah Nusantara.

Siap Berbagi Ilmu

Besarnya potensi tanaman rempah khususnya jahe Gajah tidak bisa dianggap remeh. Namun, potensi ini belum dimaksimalkan sebagai komoditas unggulan. Melihat kenyataan itu, Memet mengaku sangat terbuka kepada siapa saja yang hendak belajar tanaman jahe Gajah. Ia siap menjadi mentor bagi kelompok, pemuda Desa maupun mitra lainnya yang berkomitmen menjadikan tanaman rempah sebagai pilihan.

“Saya sudah diminta oleh pemuda Karang Taruna di Desa Gantung dan Desa Lenggang. Sekitar 1 ton bibit jahe Gajah akan mulai ditanami di lahan mereka. Saya bantu dari awal sampai benar-benar bisa menghasilkan,” ujar Memet.

Bagi Memet, dirinya tidak mau pelit ilmu apalagi potensi tanaman dan pangsa pasar jahe Gajah sangat terbuka luas. Ia ingin tanaman jahe Gajah maupun komoditas rempah lainnya dapat menjadi pemberdayaan ekonomi masyarakat selain sektor tambang yang kian hari semakin sulit.

“Lahan eks tambang pun bisa dikelola dan ditanami dengan jahe Gajah. Disini unik, karena lahan satu hamparan bisa beda-beda perlakuannya. Ada yang harus diolah dan dipupuk baru bisa ditanami tapi ada pula yang sama sekali tak perlu dipupuk,” kata Memet.

Menurutnya, bertanam di lahan pulau Belitung memiliki tantangan bagi setiap petani. Petani harus pandai melihat kondisi tanah dan memberikan perlakuan pada lahan. “Kalau sudah mampu bertani di sini (pulau Belitung), petani sudah bisa diakui,” jelas Memet yang juga merasakan hal serupa ketika baru mengolah lahan.

Saat ini, Memet juga membantu beberapa petani mitra jahe Gajah di Belitung Timur. Selain mengurus lahannya, Memet juga berkeliling ke lahan lain sambil memastikan perkembangan jahe Gajah yang diusahakan mitranya. “Di lahan Polres (Beltim) sudah panen dan kebetulan saya yang ikut membantu sampai panen,” ujarnya.

Kedepan, Memet berharap Pemerintah daerah melalui OPD teknisnya dapat membantu petani rempah seperti jahe Gajah agar mampu menjadi komoditas unggulan. Kalau soal pemasaran, Memet mengaku sangat terbuka lebar dikarenakan permintaan juga besar.

“Tetapi kebutuhan lokal saja masih jauh kurang. Selama ini didatangkan dari Kalimantan dan terkadang secara kualitas ada yang sudah rusak karena lamanya perjalanan. Nah kenapa kita tidak kembangkan potensi jahe Gajah di sini,” tukasnya.

1 Rumpun Hasilkan 2 Kg

Bicara potensi jahe Gajah tentu harus mengetahui berapa modal awal dan potensi keuntungan yang bakal diperoleh petani dalam luas tanam 1 hektar. Menurut petani jahe Gajah, Mohammad Made (Memet), sehektar lahan bisa ditanami 36.000 bibit dengan potensi menghasilkan 2 kilogram/rumpun bibit.

Ia mengkalkulasikan dengan modal kurang lebih Rp. 100 juta, petani bisa memulai usaha tanaman jahe Gajah sebanyak 36.000 bibit. Modal sebesar itu diperuntukkan untuk membeli bibit Rp. 55 ribu/kilogram dengan kebutuhan mencapai 800 kilogram/hektar. Selanjutnya, pupuk kompos dan persediaan obat-obatan terhadap penyakit tanaman jahe Gajah.

“Kalau untuk obat-obatan, jenisnya relatif sama kalau tanaman rempah. Jadi untuk tanaman cabe, kacang tanah sama saja (obatnya) karena jenis penyakit tanamannya juga sama,” ujar Memet kepada Belitong Ekspres.

Menurut Memet, petani pemula atau petani yang minim modal tetap bisa bertanam jahe Gajah. Sebab secara modal, bibit jahe Gajah lebih murah bila dibandingkan bibit jahe Merah yang mencapai Rp 90ribu/kilogram.

“Dengan modal Rp 10juta pun bisa menghasilkan jahe Gajah, jadi sesuai kemampuan. Bisa setengah hektar atau seperempat hektar dulu. Rinciannya tetap sama, membeli bibit, kompos dan obat-obatannya,” jelas Memet.

Soal bagaimana mendapatkan bibit, Memet siap membantu siapapun yang hendak mengembangkan tanaman jahe Gajah. Baginya, modal paling utama adalah kemauan dan kerja keras disertai tekun berusaha. Apalagi pangsa pasar lokal saja masih belum sepenuhnya terpenuhi dengan kebutuhan mencapai puluhan ton perbulan. “Usaha kita tidak akan mengkhianati hasil. Mulai dulu, saya akan bantu karena potensi ini sangat luar biasa,” ucap Memet.

Sebagai petani yang paham tentang jahe Gajah, Memet juga mempersilahkan petani menggunakan media tanam polibag. Untuk tanaman jahe Gajah, ukuran polibag yang disarankan adalah 50×55 cm.

“Kalau ukuran polibag dibawah itu, khawatir nanti akan sobek karena jahe Gajah memang relatif berukuran besar umbinya dengan jumlah tunas mencapai puluhan batang di setiap bibit yang ditanam,” jelas Memet.

Meski demikian, cara merawatnya tetap sama yakni dengan menggemburkan tanam dan menimbun umbi jahe Gajah yang muncul kepermukaan tanah. Sesekali gulma rumput juga dibersihkan agar tanaman jahe Gajah bisa tumbuh maksimal.

“Pada dasarnya umbi jahe Gajah akan membesar dan naik keatas, jadi dilakukan penimbunan (tanah) sesuai kebutuhan. Beda dengan jahe Merah yang umbinya melebar kesamping,” kata Memet.

Memet menambahkan, jahe Gajah sudah bisa dipanen pada saat usia 4 bulan masa tanam. Namun untuk kualitas jahe Gajah terbaik, panen ketika usia jahe Gajah 8 bulan. Saat ini harga pasar lokal jahe gajah mencapai Rp. 28 ribu/kilogram. “Kalau mau dijadikan bibit, panen harus dilakukan setelah jahe Gajah berusia 10 bulan keatas,” tandasnya. (msi)