Kisah Riduan “Pembersih” Sampah di Pantai Tanjungtinggi

by -
Riduan sedang berkelakar dengan Belitong Ekspres di salah satu sudut Pantai Bilik Tanjungtinggi.

*Tak Dibayar, Lakukan Pekerjaan dengan Senang Hati\

Riduan sedang berkelakar dengan Belitong Ekspres di salah satu sudut Pantai Bilik Tanjungtinggi.

Keindahan Pantai Bilik Desa Tanjung Tinggi banyak dipuji wisatawan. Keindahan alam pemberian Tuhan ini harus dijaga. Hal itulah yang menjadi alasan Riduan, (46) warga Desa Tanjung Tinggi sering bersih-bersih di pantai Tanjung Tinggi.
Ade Saputra, Belitong Ekspres

Ditemui Selasa (19/4) kemarin di pantai Tanjung Tinggi, Riduan terlihat memunguti beberapa bekas botol minuman plastik. Hal itu ia lakukan tanpa bayaran. “Semua bersih-bersih di sini. Ada juga petugas dari Ranati. Saya beginilah tiap hari. Sampah, tamu-tamu kadang-kadang maaflah habis minum dibuang, kita ambil,”kata Riduan.

Ia juga sempat ditanya oleh wisatawan. Saat itu ditanya berapa bayaran yang diterimanya dari pemerintah. Namun dengan tegas dia menjawab tidak pernah dibayar. Ia bekerja menjaga pantai. “Saya katakan saya bukan bekerja pada pemerintah, saya tidak dibayar, saya senang saja kerja ini, tapi bukan tidak berharap,” kata dia.

Tidak hanya itu, di pantai Bilik Desa Tanjung Tinggi ia juga menyewakan payung. Payung ini disewakan untuk wisatawan yang kepanasan. Ia selalu menawarkan jasanya kepada setiap wisatawan yang datang. Uniknya lagi sewa payung tidak dipatok biaya. Harga sewanya tergantung pemberian dari wisatawan. “Kita tidak membebankan itu sukarela, Terserah dikasih, itu tidak tentulah. Tidak mengejar uang banyak sih, tergantung diberi,” kata dia.

Kemarin ia banyak mendapat rezeki. Pasalnya beberapa orang rombongan fotografer Belitong menyewa payungnya. Ia terlihat sangat senang dan bersedia diwawancara wartawan. Payung yang dia sediakan semuanya habis disewa. Biasanya kata dia, uang yang diterima dari sewa payung beragam. Ada yang memberi seribu, dua ribu, lima ribu, dan paling besar sepuluh ribu rupiah. Karena sewa payungnya tidak memakai waktu. Sudah puas kembalikan.

Setelah didalami, ternyata ia memiliki profesi lain. Rupanya di sebuah tas kecil yang ia bawah disediakan kelengkapan P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan). Mulai dari plester, perban, betadine dia sediakan. Gunanya, misalkan ada wisatawan yang terluka dia bisa langsung membantu. Sekali lagi pertolongan ini tidak ada tarif. Jika diberi ia terima, jika tidakpun tidak masalah. “Sampai saat ini tidak pernag maksa bayar,” ujarnya.

Sebelumnya. Profesi Riduan melaut. Namun dua tahun belakangan ini, profesi sewa payung dan P3K ia jalani. Kondisinya yang mulai tua membuatnya alih profesi. “Alhamdulilah kalau untuk makan, cukup,” tukasnya.

Profesi yang unik ini dijalani dengan enjoy. Menurutnya sangat menyenangkan. Ia telah banyak kenal dengan supir bus pariwisata, menolong wisatawan, serta pernah dimarahi wisatawan. “Saya senang bergaul dan cari teman-teman baru. Saya tidak tahu mereka, tapi mereka tahu saya,” ujarnya.

Kepada wartawan ia bercerita. Dalam hatinya ia berharap tidak terusir oleh PT Ranati. Pasalnya tidak seperti warung-warung, profesinya tidak mengganggu pembangunan.

Tidak berapa jauh dari Riduan beraktivitas, terdapat dua orang warga setempat yang berjualan es kelapa. Mereka berjualan tanpa lapak. Kelapa ditaruh di atas batu, jika ada pesanan baru dibuka. (***)