Kisah Satria Tama, Penjaga Mistar Garuda Muda Awalnya Takut Bola, Tangguh di Bawah Mistar Berkat Polesan Sang Ayah

by -

Nama Satria Tama Hardiyanto menggaung di pentas Sea Games ke-29, Kuala Lumpur, Malaysia. Penampilannya menjaga gawang Timnas U-22 begitu tangguh, heroik, dan dielu-elukan suporter Garuda membuatnya sempat masuk trending topic Twitter worldwide. Kiper yang dijuluki si tangan malaikat itu memulai karir sepak bolanya dari nol.

DIDA TENOLA-SURABAYA

Tidak sulit untuk menemukan kediaman Satria Tama di Sepanjang, Sidoarjo. Meskipun harus masuk ke gang sempit nan berliku, warga sudah mengenal sosok kiper bertinggi 184 cm tersebut. Rumah sederhana tersebut terletak di belakang Balai Desa Sepanjang, Sidoarjo.

Begitu masuk ke dalam garasi rumah berpagar hitam itu, terpajang beberapa memori foto perjalanan Satria Tama di belantika sepak bola nasional. Satria Tama merupakan putra bungsu pasangan Aiptu Bambang Hardiyanto dan Naning. Ayah Satria merupakan polisi yang sehari-hari berdinas di Mapolsek Bubutan, Surabaya.
Foto repro Satria Tama sewaktu kecil. Saat kelas VI SD, Satria mengikuti seleksi di SSB Surabaya Muda.

Foto repro Satria Tama sewaktu kecil. Saat kelas VI SD, Satria mengikuti seleksi di SSB Surabaya Muda. (DIDA TENOLA/JAWA POS)

“Saya itu nggak kepikiran kalau anak saya (Satria, Red) jadi kiper seperti sekarang. Mikirnya dulu bagaimana agar dia punya kesibukan, menghindari dari kenakalan remaja,” cerita Bambang, mengawali pembicaraan dengan JawaPos.com.

Kebetulan Bambang dinas malam. Saat menemui JawaPos.com, dia tidak memakai seragam cokelatnya. Pengabdiannya sebagai polisi, tak lantas membuatnya kehilangan waktu untuk ketiga buah hatinya. Termasuk kepada Satria Tama sendiri.

Rabu siang (30/8), Bambang dan Naning sepertinya harus menunda untuk melepaskan rasa rindunya terhadap Satria. Saat JawaPos.com ke sana, mereka menerima telepon dari Satria. “Katanya langsung gabung latihan sama Timnas Senior. Persiapan lawan Fiji,” tambah Bambang.

Kehebatan Satria sebagai kiper, tak lepas dari peran sang ayah. Sebagai polisi, dia tahu betul anak-anaknya harus punya banyak kegiatan agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan. Bambang ingin anak-anaknya punya ketrampilan.

“Jadi bukan cuma Satria saja. Kakaknya yang pertama itu juga bisa main bola, kalau kakaknya yang perempuan bisa menari. Selain sepak bola, Satria sebenarnya juga sering badminton sama saya,” kata pria asli Surabaya tersebut.

Khusus untuk Satria Tama, Bambang malah tidak pernah punya mimpi untuk menjadikannya sebagai salah seorang punggawa Timnas. Dia bercerita, Satria kecil belajar bermain bola sejak kelas IV SD. Melatih anak seusia itu menjadi pemain pro, bisa dibilang terlambat. Biasanya para orang tua yang bermimpi anaknya menjadi pemain sepak bola, sudah mendaftarkan ke akademi atau sekolah sepak bola (SSB) sejak kelas I SD.

Tapi Bambang punya pemikiran sendiri. Dia tidak ingin anaknya masuk SSB tanpa punya ketrampilan yang matang. “Kalau keburu masuk SSB nggak bisa apa-apa nanti nggak dilihat sama pelatih. Makanya saya latih dulu, minimal dia (Satria) punya teknik dasarnya,” lanjutnya.

Latihan keras dari Bambang itulah yang jadi salah satu kunci kesuksesan Satria Tama sejauh ini. Bambang memanfaatkan waktu luangnya untuk Satria kecil. Setiap sore, mulai Ashar hingga Maghrib, Satria diajak latihan di lapangan sekitaran Kebonsari, Surabaya. Sekitar 2 km dari rumahya di Sepanjang.

Bambang ingat betul saat pertama kali putra kebanggannya itu bersentuhan dengan si kulit bundar. Satria nampak kikuk, bahkan takut dengan bola. “Dia nggak bisa nendang bola. Karena nggak bisa nendang, saya suruh jadi kiper saja,” kelakar Bambang kemudian tertawa.

Ternyata, insting Bambang terbukti. Perlahan, bakat terpendam Satria muncul. Bak kalimat yang sering terlontar dalam anime sepak bola asal Jepang, Captain Tsubasa, “Bola adalah teman” Satria Tama seolah berkawan akrab dengan si kulit bundar. Dia tidak takut! “Dia selalu minta saya untuk nendang sekeras-kerasnya. Dia bilang pasti bisa menangkapnya, dia punya motivasi yang kuat,” ucap polisi berusia 51 tahun tersebut.

Terkadang, Bambang malah capek sendiri saat men-drill skill Satria. Kalau sudah begitu, Bambang meminta bantuan anak-anak lain yang sedang berlatih di lapangan Kebonsari. Biasanya tiga sampai empat anak yang diminta menendang bola sekencang-kencangnya ke arah Satria. Sebagai upah lelah anak-anak itu, Bambang biasa membayarnya dengan air mineral.

Sebagai polisi, Bambang paham betul bagaimana caranya menjaga fisik. Itu pula yang diterapkannya kepada Satria. Biasanya Satria diminta lari dari rumahnya ke lapangan Kebonsari, sedangkan Bambang membuntutinya dari belakang dengan menunggangi sepeda motor.

Ketelatenan dan kesabaran Bambang melatih Satria memang total. Saat kelas VI SD, Satria mengikuti seleksi di SSB Surabaya Muda. Kala itu usianya 12 tahun. Dari situlah, Satria menapak karir secara bertahap.

Satria sempat bergabung dengan SSB Indonesia Muda, lantas melanjutkan petualangannya ke Wahana Citra Pesepakbola (WCP) Gresik. Sebuah akademi sepak bola milik mantan pemain Timnas Indonesia era 90an, Widodo Cahyono Putro. Di situlah, bakatnya terendus yang mengantarnya berlabuh ke Persegres Gresik United.

Kepiawaian Satria mengawal mistar gawang, terlihat oleh pemandu bakat Timnas saat timnya mampu menahan imbang 1-1 Persipura kala melawat ke Jayapura. Berkali-kali gawangnya digempur, namun hanya satu gol saja yang mampu diceploskan pemain Persipura ke dalam gawangnya.

Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya. Bambang sadar betul anaknya kini menjadi salah satu idola penggemar sepak bola tanah air. Namun dia yakin, bahwa Satria tidak akan goyah dan cepat puas. Sebuah medali perunggu menjadi persembahan Satria bagi keluarganya, serta seluruh rakyat Indonesia.

“Dia kalau kalah (di pertandingan) pasti menyesal betul. Tapi dia selalu termotivasi untuk belajar dari kekalahan itu,” sebut Bambang. (*)

Caption F boks

Orang tua Satria Tama, Naning dan Aiptu Bambang Hardiyanto. Mereka tidak menyangka, Satria yang dulu takut dengan bola kini menjadi kiper tim nasional Indonesia. (DIDA TENOLA/JAWA POS)