Kisah Veri Yadi Wujudkan Mimpi Sejak Kecil, Agar Belitung Menuju Geopark Dunia

Konsultan Geopark Belitong Veri Yadi, Msc, MCSM.

Pulau Belitung atau yang dikenal dengan sebutan Negeri Laskar Pelangi, kini sedang melangkah menuju Unesco Global Geopark (UGGp). Upaya untuk meraih status kawasan Taman Bumi Kelas Dunia itu, ternyata tak terlepas dari perjuangan putra daerah Belitung, Veri Yadi. Bagaimana kisahnya, berikut hasil perbincangan dengan Belitong Ekspres Jawa Pos Grup.

RajaBackLink.com

Yudiansyah: Belitong Ekspres

TAMPAKNYA tak ada pilihan lain bagi Belitung jika ingin menjadi destinasi kelas dunia. Belitung harus meraih label UGGp, sebagai kunci sukses dari poin utama pembangunan pariwisata yakni Atraksi, Akses, dan Amenitas (3A).

Namun, untuk proses mendapatkan brand UGGp bukanlah perkara mudah. Upaya untuk mengenalkan potensi warisan geologi di Pulau Belitung mulai tahun 2016 lalu. Butuh seorang ahli untuk menggali dan mengenalkan potensi tersebut.

Gayung bersambut. Pulau Belitung ternyata punya putra daerah, yang memiliki latarbelakang tambang dan ahli di bidang geologi. Ia adalah Veri Yadi Msc, MCSM, yang kini menjadi Konsultan Geopark Belitong.

Semangat Veri tergugah untuk pengabdian terhadap Pulau Belitong tercinta. Hal itu didasari melihat semakin menipisnya cadangan timah di Belitong yang sangat kental dengan kehidupan masyarakat dan merupakan prime mover ekonomi setempat. Maka dari itu, menurut Veri diperlukan alternatif baru dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat Belitong.

Peluang ekonomi yang sedang bertumbuh saat itu adalah sektor pariwisata dengan dimulainya demam Laskar Pelangi. Di saat bersamaan ITB 81 mengusulkan untuk mencanangkan Geopark di Belitong. Ini menjadi rahmat yang tak terduga bagi Veri, untuk terlibat dengan bekal ilmu tambang, yang ada kaitannya dengan geologi.

Ketertarikan Veri dengan geologi sepertinya menurun dari sang ayah, yang merupakan geologist berpengalaman dari tahun 1970-an. “Waktu itu sang ayah bekerja di perusahaan multinasional yang mengilah timah primer di Kelapa Kampit yaitu BHP,” ujar pria lulusan Mining Engineering Universitas Triksati, Jakarta, tahun 2004.

Dari geopark ini kesempatan bagi Veri untuk menggali keragaman geologi tanah kelahiran menjadi hal yang mutlak sesuai mimpinya sejak kecil. Yaitu, ingin memperkenalkan Belitong di kancah dunia yang memang sudah dikenal sebagai penghasil timah.

Langkah ini membawa Veri menyelesaikan Studi Master di Camborne School of Mines yang berlokasi di tambang timah tertua di dunia, tepatnya di Cornwall, UK, tahun 2014 lalu. Namun kali ini, kehadiran keilmuannya bukan untuk mengeksploitasi, malah dikonservasi serta memberikan dampak ekonomi, edukasi, dan keterlibatan masyarakat.

Dengan kesempatan menggali keragaman geologi, penemuan demi penemuan mulai terlihat dengan paparan Sungai Purba Kenozoikum di Sungai Lenggang. Veri memaparkan warisan geologi pergerakan Lempeng Sundaland dari Australia ke Asia Tenggara. Ini merupakan jejak rawa hasil pergerakan Lempeng atau Rheotropic yang kaya bahan bernutrisi, sehingga kaya akan flora dan fauna. Yang mana kata Veri zaman Kenozoikum merekam kejadian batubara di kawasan Asia Tenggara.

Selanjutnya Veri memaparkan tentang samudra dalam purba yang terbentuk 410 juta tahun dan hilang 200juta tahun. Jejaknya ditemukan di Tanjung Siantu, Sijuk, di Utara dan Baratnya Belitong. Penemuan ini menjadi fenomenal karena merekam peristiwa penting sejarah geologi dunia.

Baca Juga:  Stakeholder Diminta Miliki Kemampuan Antisipasi Bencana

Selain itu, juga menambah khasanah dan nilai warisan geologi Belitong, dalam percaturan geologi Internasional. Samudra Purba ini dikenal dengan Palaeo Tethys, yang mana Lempeng Sibumasu di Barat dan Indochina di Barat memanjang dei Nan-Uttaradit, Raub-Bentong, Bengkalsi – Belitong yang dikenal dengan Southeast Asian Suture Line.

“Di lokasi ini juga terekam jejak gunung api bawah laut Purba tipe Eugeosinklin. Di mana terjadi pencampuran lava dengan batuan sedimen awal yang menunjukkan terjadinya penurunan daratan lautan Belitong,” jelas Veri.

Pria kelahiran Manggar 14 Januar 1981 ini, kemudian bergabung dalam tim Geopark Belitung sejak tahun 2016. Bersama beberapa rekan alumni ITB 81, ia mulai mencari dan menyajikan keunikan warisan geologi Pulau Belitong.

Awalnya Veri dihubungi olel kik Yanto, fotografer alam liar di Belitong. Melalui WhatApps Veri pun mulai tergabung dengan WhatsApp group menuju Geopark Nasional Belitong. Kemudian ia mulai terlibat diskusi tentang geopark, termasuk persiapan bahan presentasi untuk dipaparkan kepada Prof. Guy Martini, yang merupakan director Unesco pada akhir Desember 2016.

Maka Veri semenjak itu, bolak balik Jakarta-Belitong di saat waktu senggang dari aktivitas menjalankan perusahaan sebagai CEO PT VELKO, CFO PT. Gita Persada, Sinar Putih Cemerlang, dan Hengjaya Group. Semangat pengabdian untuk memajukan pariwisata di tanah kelahirannya tak terbendung. Segala upaya ia lakukan.

Berbekal ilmu tambang dengan sederet prestasi dan pengalaman kerjanya, ia menyajikan potensi warisan geologi Belitung dalam sebuah buku berjudul Belitong Island Geopark (BIG). Buku bertema Wonderful Granitic Beaches With Tin Bel, yang disusun Veri bersama anggota BIG alumni ITB 81, diterbitkan pada 26 Desember 2016.

Dalam buku bersampul background Pulau Lengkuas itu, ia juga menceritakan tentang proposal yang diusulkan oleh komunitas lokal yang dipimpin oleh Gapabel. Menurut Veri inilah awal mengawali mengenalkan potensi Geopark Belitong. Dari sinilah awal kiprah Veri dengan mempresentasikan Geopark Belitong di depan Prof. Guy Martini. Presentasi ini pun mendapat respon positif dari Guy.

Berangkat dari hasil diskusi dengan Guy, maka dasar – dasar geopark mulai difahami, dan berangkat dari laporan Guy Martini dan Hanang Samodra, Geopark Belitong mulai dikembangkan. Langkah awal adalah mendefinisikan nilai warisan geologi dunia sebagai syarat mutlak menjadi UGGp.

Kemudian mulailah Veri bersama kik yanto, Kucot dan Galih fotografer Belitong mengeksplor tiap – tiap geosite, dengan memberikan pengarahan persyaratan minimal dalam pengembangan geosite tersebut. Menurut Veri, itu sangat penting dalam menggali warisan geologi tiap geosite serta kaitannya degn warisan biologi dan budaya.

“Selanjutnya kita melakukan edukasi lapangan seperti di Nam Salu Open Pit, yang dimulai kepada komunitas yang dipimpin oleh Tino,” tutur Veri, yang sedang menempuh S3, PhD Student – School of Mining Engineering, University of the Witwatersrand, Johannesburg South Africa (2018).

Tak hanya itu, selanjutnya upaya sosialisasi sering dilakukan Veri dengan Badan Pengelola (BP) Geopark Belitong yang diketuai oleh Dyah Erowati. Hampir setiap dua minggu sekali Veri pulang ke Belitong bertemu dengan berbagai komunitas. Lantas, pada awal Januari 2017 mulai persiapan untuk kedatangan Prof. Ibrahim komoo, Prof. Che Aziz Alie, dan ahli biologi Prof. Noor dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

Baca Juga:  Wabup Tantang Eksportir Belitung

“Selanjutnya ada paparan dari Prof. Komoo dan tim, serta hasil kunjungan lapangan menekankan strategi pengembangan geosite, yang mana merupakan perwakilan dari Asia Pacific Geopark Network (APGN),” ujar Veri.

Perjalanan panjang ini kemudian dilanjutkan dengan pengajuan Belitong Geopark sebagai Geopark Nasional. Beberapa cara dilakukan dalam promosi geopark. Selain melalui FGD juga melalui Medsos, baik dilakukan BP Geopark sebagai lembaga dan secara individu dengan mempromosikan foto eksotik karya Kik Yanto di akun Instragram dan Facebooknya.

Sekitar bulan Mei 2017 proses pembuatan dossier sebagai syarat mendapat sertifikat nasional dimulai dan lebih fokus dalam upaya pengumpulan data, dan kemudian dirampungkan pada Bulan Juli 2017. Presentasi pun dipaparkan Veri di depan Deputi IV kemenkomar Dr. Safrie Burhanuddin untuk menunjukkan kesiapan Belitong menuju Geopark Nasional. “Sejarah baru terukir, Belitong resmi menjadi Geopark Nasional Belitong, tepatnya 24 November 2017,” tukas Veri.

Sebelum penyerahan ini, Veri sudah mundur untuk fokus pada pekerjaannya sebagai CEO PT. Harmoni Artha Sejahtera dan COO untuk PT. Maha Bakti Abadi dan PT. Damai Abadi Samudra, serta memulai program Ph.D di University of The Witwatersrand, Johannesburg.

Namun, selang beberapa bulan sebelum tenggang waktu pengajuan dossier ke Unesco, Veri kembali dilibatkan sebagai konsultan individu Kemenpar untuk menyiapkan dossier. Pekerjaan ini menggiring untuk menggali keragaman warisan geologi, biologi, dan budaya sebagai pertimbangan tim ahli UNESCO untuk memberikan sertifikat UGGp kepada Belitong Geopark.

Setidaknya, ada 17 Geosite unggulan sebagai pendukung untuk meraih status UGGp ini. Antara lain, Geosite Bekas Tambang Laut, Granit Trias Tanjung Kelayang, Batu Granit Trias Batu Bedil, Hutan Bakau Granit Kuale, Hutan Granit Bukit Peramun, Hutan Kerangas Alluvial kuarter Cendil, Gugusan Batu Granite Asia Tenggara akhir Batu Pulas.

Selain itu, ada Geosite Open Pit Nam Salu Kelapa Kampit, Batu Granodiorite Kapur Burung Mandi, Tektites Garumedang, Bukit Lumut Limbongan, Rawa Kenozoikum Tebat Rasau, Adamelit Yura Pantai Punai, Bukit Adamelite Bukit Baginde, Gunung Tajam, Aik Rusak Berehun dan Lava Bantal Siantu.

Setelah itu, dokumen Geopark dikirimkan ke Unesco, dan saat ini sedang salam proses verifikasi. Unesco selanjutnya akan mengirimkan assesor untuk melakukan kunjungan lapangan dalam upaya memastikan kesiapan Belitong menuju UGGp.

Pekerjaan belum selesai sampai di sini. Upaya edukasi, sosialisasi, serta peran serta aktif Pemerintah Kabupaten Belitung dengan pelaku wisata dan pengelola geosite, menjadi kunci kekuatan geopark dalam upaya menjadi penopang ekonomi yang berkesinambungan.

Upaya penggalian terus dilakukan Veri dalam mengembangkan potensi geosite maupun yang belum ditetapkan menjadi geosite. Penemuan Batu Kapur di Pantai Singkeli dengan sejumlah fosil serta satuan batuan di Gua Mak Santen menjadi babak baru bagi Veri, kik Yanto dan kawan-kawan lainnya.

“Temuan ini tentunya merupakan babak baru bagi saya dan kawan-kawan untuk menguak misteri sejarah terbentuknya Belitong yang diperkirakan lebih dari 350 juta tahun,” kata Veri. (bersambung)

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply