Komitmen ICDX Masih Nol Besar

by -

//ICDX Mana Janjimu?

PANGKALPINANG – Komitmen PT Bursa Komoditi Derivatif Indonesia (BKDI) atau ICDX kembali dipertanyakan. Kali ini datang dari Pengamat Pertimahan Babel, Rudi S. Rudi menilai, ICDX masih tidak konsisten terhadap komitmennya. Hal ini dapat dilihat dari janji-janji ICDX yang tak ada realisasi.
Salah satu yang sampai saat ini belum direalisasikan oleh ICDX kata Rudi adalah membuat represetation office (rep office) di Bangka Belitung. “Saya masih ingat janji tersebut diucapkan langsung oleh Fenny Widjaya selaku komisaris ICDX, dalam dialog dan sosialisasi di Gedung Capitol beberapa bulan lalu. Tapi faktanya hingga hari ini tak ada sama sekali tanda-tanda atau progresnya. Ini sebuah bukti bahwa ICDX itu hanya janji belaka,” tegas Rudi, kemarin (27/7).
Rudi menilai, rep office tersebut sangat penting bagi Babel mengingat lebih dari 80 persen timah yang diperdagangkan di bursa milik swasta tersebut berasal dari Babel. “Wajar saja kalau harus ada kantor perwakilannya di Babel ini. Selain itu juga keberadaan rep office tersebut sebagai salah satu bentuk ‘pemberian manfaat’ dari ICDX. Salah satunya bisa mempekerjakan orang di Babel. Jangan pula nanti rep officenya dibuat, isinya orang dari Jakarta semua,” jelas Rudi.
Tak hanya itu, peran ICDX yang berjanji menjaga harga dan fluktuasi timah sama sekali nol besar. Terbukti harga timah saat ini jauh dari yang diharapkan. “Saat ini pelaku pertimahan di Babel menderita lantaran harga timah yang hancur lebur. Pertanyaan saya dimana sebenarnya peran dari ICDX. Ini yang dari dulu kita ributkan. Kenapa harus melalui ICDX. Toh harga juga tak membaik sejak mereka ambil alih perdagangan komoditi ini. Herannya lagi pemerintah kok sampai mengkultuskan single bursa itu. Padahal jelas-jelas fungsinya tidak optimal,” ujarnya
“Saya coba membandingkan harga timah sebelum adanya bursa, belum pernah sampai serendah ini harga timah. Sekali lagi kita minta keberadaan dan peran bursa itu dikaji ulang. Apa iya memberi manfaat. Dilihat dari konsistensinya saja nol besar, apalagi manfaatnya,” tambahnya.
Sementara, Fenny Widjaya saat dikonfirmasi enggan memberikan tanggapan terkait persoalan tersebut. “Saya tidak ada tanggapan, tidak ada komentarlah soal itu,” kata dia.(rb)