Komitmen Pengusaha Timah Diragukan

by -

PANGKALPINANG – Wakil Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Hidayat Arsani meragukan komitmen para pengusaha timah yang akan mengikuti rapat moratorium hari ini. “Moratorium memang bisa mematikan kita karena kita belum ada talangan, dan itu hak Pak Gub lah yang bicara. Di rapat besok, saya tidak yakin pengusaha timah itu bisa komit, di rapat nanti mereka bilang Ia, tapi dibelakang masih bermain,” ungkapnya, Selasa (17/03) kemarin.
Seharusnya, menurut Dayat, masyarakat Babel bisa hidup tanpa harus bergantung dengan timah, karena sumber daya alam Babel sangat kaya. “Babel mampu hidup tanpa timah, karena SDA kita kaya, hanya kualitas SDM kita yang kurang,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang merasa tidak mampu hidup tanpa timah, menurut Dayat inilah yang membuat perekonomian masyarakat merosot, dan merosotnya ekonomi masyarakat ini menjadi tugas pemimpin daerah untuk membangkitkan kembali semangat kerja masyarakat. “Mereka yang lemah tanpa timah, itu tugas pemimpin, bagaimana pemimpin harus bersikap membangkitkan masyarakat ini, pedagang dan masyarakat kita harus banyak diberi ilmu,” tandasnya.
Sebelumnya, Gubernur Babel Rustam Effendi menyiapkan opsi terakhir terkait rencana moratorium timah. Pasalnya kata dia, saat ini Babel belum siap moratorium timah, namun opsi pembatasan ekspor telah disiapkan dan akan ditawarkan kepada para pengusaha pertambangan timah. “Moratorium kita memang belum siap karena kita belum ada talangan, sebab itu sementara kita batasi ekspor saja karena kita masih cari jalan keluar untuk ini,” kata Rustam.
Menurut dia, opsi pembatasan ekspor tersebut rencananya akan dibawa rapat ke forum rapat dengan para pengusaha Rabu (18/3). Berapa pembatasan ekspor timah tersebut, kata Rustam nantinya akan ditanyakan terlebih dahulu ke para pengusaha. “Kita lihat perkembangan pertemuan tadi dulu karena kita juga harus lihat usulan mereka dulu, setelah itu baru kita putuskan,” pungkasnya.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Babel mencatat, ekspor timah Babel pada bulan Februari 2015 meningkat jika dibandingkan ekspor Januari 2015, yakni sebesar US$ 111,09 juta, sedangkan pada Januari hanya 93,38 juta dolar, atau meningkat 82,78 persen. Kepala BPS Babel, Herum Fajarwati mengatakan naiknya ekspor ini karena sudah menyesuaikan dengan Permendag 44, dimana pada tahun 2014 lalu terjadi fluktuasi ekspor timah. Ia mengatakan, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, ekspor timah mengalami kenaikan 14,25 persen.
“Secara keseluruhan total ekspor Babel pada Februari 2015 mencapai US$128,55 juta, atau meningkat 8,51 persen jika dibandingkan dengan Januari. Total ekspor ini, terdiri dari ekspor timah US$ 111,09 juta dan ekspor non timah US$ 17,45 juta,” ungkap Herum, Senin (16/03) kemarin.
Ditambahkannya, untuk ekspor timah, tujuan terbesar selama Januari-Februari 2015 adalah Singapura yang mencapai US$136,42 juta, atau 66,72 persen dari keseluruhan ekspor timah, diikuti Belanda US$ 23,48 juta (11,48 persen), kemudian India USM 13,14 juta, Taiwan US$ 10,88 juta, dan Korsel US$ 8,34 juta. Kontribusi kelima negara tersebut mencapai 94,03 persen dari total ekspor Babel.
Sedangkan untuk ekspor non timah, Herum menyebutkan, penyumbang ekspor terbesar adalah golongan minyak atau lemah hewani dan nabati, sebesar US$ 31,1 juta, diikiti golongan kopi, teh, dan rempah US$9,2 juta, hasil perikanan dan olahan ikan US$ 1,1 juta, produk kimia US$ 1 juta, dan karet serta barang dari karet US$ 0,1 juta. (eza)