Komunitas Pelestari Bahasa Daerah Oryza Lokabasa

Oryza Lokabasa Komunitas Ibu Ibu berbahasa daerah. Foto: FEDRIK TARIGAN/JAWA POS

Oryza Lokabasa Komunitas Ibu Ibu berbahasa daerah. Foto: FEDRIK TARIGAN/JAWA POS

Penutur Tidak Harus Orang Lokal

RajaBackLink.com

Membayangkan anak turun semakin tak mengenal bahasa daerah menjadi salah satu alasan orang-orang ini berkumpul dalam komunitas Oryza Lokabasa. Kendala terbesarnya merekrut anggota. Padahal, syaratnya sangat mudah. Cukup niat dan kesungguhan.

Agfi Sagittian, Jakarta

”WILUJENG sonten, apo kaba, om swastiastu, piye kabare.” Empat jenis sapaan itu dilontarkan para anggota komunitas Oryza Lokabasa saat penulis datang menghampiri mereka di sebuah kafe di Jakarta, Minggu (30/6). Sebagai orang asli Jawa, tentu saja yang terdengar familier oleh penulis hanya ”piye kabare”.

Tiga sapaan yang lain hanya bisa direspons dengan senyum. “Gak perlu bingung, itu semua kalimat sapaan dari bahasa daerah masing-masing,” kata Founder Oryza Lokabasa Judianti Isakayoga yang akrab disapa Mbak Ji.

Dia memperkenalkan satu per satu anggota yang datang sore itu. Dari total sekitar 30 anggota komunitas, hanya delapan yang datang, termasuk Mbak Ji. Mereka mewakili empat tim bahasa daerah di bawah komunitas, yaitu tim bahasa Jawa, Sunda, Minang, dan Bali.

“Cukup susah mengumpulkan anggota full team jika tidak sedang ada pertunjukan. Semua masih sibuk dengan aktivitas masing-masing,” ungkap Mbak Ji.

Mayoritas anggota komunitas adalah pria dan perempuan berusia 25-35 tahun. Hampir semua tak memiliki latar belakang ahli bahasa maupun seni. Misalnya, Desy Fatimah yang tergabung dalam tim bahasa Sunda. Neng geulis berambut panjang itu berkarir sebagai project management specialist USAID di Kedutaan Besar AS untuk Indonesia.

Baca Juga:  Prabowo akan Turun ke Jalan, Memperjuangkan Hak Rakyat

“Awalnya, senior saya di kedubes yang merekomendasikan untuk ikut karena waktu itu komunitas membutuhkan penutur Sunda. Yah, karena saya teh USA ya, alias Urang Sunda Asli, jadi bolehlah coba ikut,” ujar Desy yang mengaku mendapat keturunan Sunda dari ibunya.

Desy tampil perdana bersama Oryza Lokabasa pada Desember 2017. Komunitas itu mengusung cerita Sangkuriang sehingga membutuhkan penutur Sunda untuk membacakan teks dialog. Tak semudah yang Desy pikirkan, ternyata membuat skrip bahasa Sunda sangat sulit.

Seperti halnya bahasa daerah lain, bahasa Sunda memiliki tingkatan. Layaknya ngoko dan krama inggil dalam bahasa Jawa. “Saya jadi sadar bahwa saya mewarisi tak lebih dari 80 persen kemampuan penutur Sunda asli seperti ibu saya,” katanya.

Dari situ Desy membayangkan, tinggal berapa persen kemampuan bahasa daerah generasi selanjutnya jika tak ada upaya untuk melestarikannya. Kesulitan menyusun skrip ternyata tak menjadi alasan untuk menyerah. Memilih untuk bermodal pede, komunitas Oryza Lokabasa yang saat itu masih beranggota segelintir orang tetap percaya diri tampil di hadapan ratusan orang di venue Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta.

Pertunjukan berjalan lancar. Seluruh anggota memainkan dengan baik peran masing-masing. Alunan musik Sunda menambah cantik kemasan pertunjukan komunitas hari itu. Tepuk tangan penonton mengiringi sajian teater yang dibawakan Mbak Ji, Desy, dan kawan-kawan.

Setelah itu, seorang penonton menghampiri mereka di belakang panggung. Penonton tersebut menyinggung salah satu dialog yang dibawakan bahwa ada bagian yang pemilihan bahasanya kurang tepat. Desy lupa kalimat tepatnya. Namun, menurut orang tersebut, bahasa yang dibawakan itu tingkatannya kasar.

Baca Juga:  Dandim Pimpin Apel Operasi Ketupat 2019

“Ada yang lebih halus. Malu sih, tapi ya kami terima sebagai kritik yang membangun supaya lebih teliti berikutnya,” kenang Desy.

Pengalaman itu tak menyurutkan semangat Mbak Ji dkk untuk terus beraktivitas. Bahkan, setelah itu, Oryza Lokabasa kembali membuka rekrutmen untuk mencari tim bahasa selain Sunda. “Susaaah sekali. Susah untuk mengajak orang bergabung,” keluh Mbak Ji.

Berkat bantuan rekomendasi dari teman sekitar, Oryza Lokabasa akhirnya kini memiliki tim bahasa Sunda, Jawa, Minang, dan Bali. Lucunya, tak semua merupakan penutur asli. Siapa pun yang memiliki kesungguhan bergabung boleh mengisi posisi sebagai penutur maupun penerjemah.

“Salah seorang penutur Sunda kami orang asli Semarang. Salah seorang penutur Bali kami juga bukan orang asli Bali. Belajarnya tentu tidak gampang. Banyak hal lucu seperti salah ucap atau salah aksen. Tapi, mereka tetap bersemangat,” ungkap Mbak Ji.

Dia mengakui, dirinya sebagai founder masih galau menentukan langkah Oryza Lokabasa berikutnya. Dia bilang masih punya mimpi yang kuat untuk mengem­bang­kan komunitas. “Namun, regenerasi dan merekrut penutur bahasa daerah, khususnya anak muda, itu tidak mudah. Belum lagi kendala kesulitan sponsor saat ingin menggelar penampilan,” terangnya.

Untung, 30 anggota optimistis untuk terus saling mendukung kelanjutan aktivitas mereka. Semangat Oryza Lokabasa ditunjukkan lewat keinginan mereka untuk menambah tim bahasa. Mereka berharap ada yang bergabung sebagai tim penutur untuk bahasa Madura, Batak, Maluku, dan Kalimantan.

“Kami mulai melakukan open recruitment, bekerja sama dengan berbagai kampus seperti UNJ dan IKJ,” ujar Mbak Ji.***

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply