Koneksi Terputus, 213 Siswa UN Susulan

by -

PANGKALPINANG – Sebanyak 213 siswa dari 240 peserta Ujian Nasional (UN) online atau Computer Base Test (CBT) di SMKN 1 Pangkalpinang, akan mengikuti ujian susulan, 20 April mendatang. Hal ini disebabkan karena koneksi jaringan internet pada hari pertama terputus-putus.
Wakil Kurikulum SMKN 1 Pangkalpinang Muhammad Ruzi menjelaskan, pada pelaksanaan hari pertama ujian, hanya sesi pertama yang melangsungkan UN CBT. Itu pun dilangsungkan dari pagi sampai sore hari. “Karena kendala jaringan, terpaksa siswa sesi kedua dan ketiga mengikuti ujian susulan 20 April. Sesi pertama selesai sore, jadi tidak mungkin lagi sesi kedua dan ketiga,” jelasnya, kemarin (14/4).
Diketahui, pelaksanaan UN CBT dibagi tiga sesi. Sesi pertama dari pukul 07.30-09.30 WIB, sesi kedua 10.30-12.30 WIB, dan sesi ketiga 14.00-16.00 WIB. “Ujian itu dilaksanakan tiga sesi masing-masing sesi sebanyak 81 peserta dengan tiga ruangan. Pada hari kedua ini ujian berjalan lancar, kami melakukan penambahan kabel jaringan agar koneksi tetap lancar serta dibantu oleh pihak telkom guna menjaga kelancaran jaringan,” ujarnya.
Menurut dia, kesalahan jaringan terjadi di sekolah itu sendiri bukan dari pusat namun hal itu dapat segera diatasi dengan bantuan dari dinas terkait serta teknisi di daerah itu. “Pada Senin (13/4) kemarin hingga jam sepuluh malam kami masih berada di sekolah untuk memperbaiki kesalahan jaringan itu agar UN CBT dapat dilanjutkan. Hasilnya cukup memuaskan karena UN CBT dapat dilanjutkan hari ini dengan kondusif,” katanya.
Ia berharap, untuk kedepannya ujian itu dapat berjalan dengan aman dan lancar sehingga siswa tidak perlu mengulang karena kesalahan teknis lagi sebab dapat mempengaruhi mental mereka. “Otomatis mereka syok karena ujian pertama mereka harus diulang namun dari segi positifnya mereka diberikan tambahan waktu untuk belajar sehingga diharapkan persiapannya lebih matang untuk menjawab soal-soal ujian itu,” ujarnya.
Kepala Sekolah SMKN 1 Pangkalpinang Kurnia Paratiwi mengakui jika pada UN pertama mengalami koneksi jaringan. “Terputusnya jaringan itu dikarenakan bukan dari pusat tapi melainkan dari jaringan dari sekolah sendiri. Alhamdulilah dinas serta dibantu teknisi dari SMKN 2 Pangkalpinang turun tangan untuk membantu permasalahan ini,” jelasnya.
Menurutnya, UN yang mengunakan sistem online ini secara teknis teknologi sangat membantu mempercepat informasi lebih terorganisir, hemat waktu dan biaya serta lebih efisien. Meskipun Kurnia tidak memungkiri ada kekurangan dan kelemahan. “Menurut Petunjuk Teknis (Juknis) siswa yang tidak dapat menyelesaikan Soal UN kemarin akan ada UN susulan pada tanggal tanggal 20 April mendatang,” ungkapnya.
Ketua Kesekretariatan Pelaksanaan UN Suhdi mengatakan, seharusnya untuk menekan sistem online seharusnya mengunakan fiber optik/lan sehingga mempermudah mengakses koneksi. “Untuk itu seharusnya punya IP server internal yang berbeda jika masih mengunakan sistem wi-fi maka mengalami trafik jump dengan pengunaan yang banyak, kemarin SMKN 1 masih menggunakan wi-fi,” tuturnya. Selain itu jika mengunakan Lan untuk mempermudahkan jaringan akses internet juga untuk menghindarkan dari heaker atau pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Dengan kejadian ini maka akan jadi pengalaman yang berharga bagi kita dan ini masih wajar karena ini yang pertama di Indonesia. Secara psikologinya siswa mengalamai kepanikan/shock karena tidak dapat menyelesaikan soal UN tapi secara positifnya siswa dapat belajar lebih panjang,” ungkap Suhdi.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang Edison Taher mengaku hal tersebut adalah hal wajar karena baru pertama kali. “Masalah ini bukan hanya terjadi di SMKN 1 tapi disekolah daerah lain juga mengalami masalah ini,” jelasnya. Edison menambahkan, untuk hari ini (kemarin) pelaksanaan berjalan lancar dan tidak terkendala apapun. “Masalah ini kita jadikan evaluasi dan pengalaman supaya tahun depan tidak terjadi lagi masalah seperti ini, dan tahun depan kita targetkan 75 persen sekolah di Kota Pangkalpinang akan diikutsertakan dalam UN sistem online,” tutupnya.
Di bagian lain, Ketua Komisi XI DPR Teuku Riefky Harsa mengapresiasi upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggagas UN online yang mulai diuji cobakan tahun ini. Namun dia mengingatkan jangan sampai unas online ini bernasib seperti proyek UPS (Uninteruptible Power Supplay) yang ramai dipersoalkan di Pemprov DKI Jakarta. “Jangan sampai jadi proyek UPS jilid II,” kata Riefky. Menurutnya, Komisi XI DPR mengapresiasi unas online. Kata dia unas online itu merupakan ide yang baik. Namun itu tidak bisa dilaksanakan sekaligus karena berkaitan dengan infrastruktur dan fasilitas internet di semua daerah. “Ini berkaitan dengan infrastruktur, hardware, software, dan internet yang belum siap di semua daerah. Sehingga diibutuhkan anggaran besar. Jangan sampai dalam pengadaan komputer dan jaringannya ada masalah,” kata Teuku Riefky di gedung DPR.
Meski begitu dia mengaku anggaran unas online ke depan belum dibahas secara detail antara Komisi X dengan Kemendikbud. Namun dia memberikan gambaran bahwa dalam pelaksanaannya nanti, dana pusat akan dominan, di-backup dengan APBD.  Kalaupun dalam satu-dua tahun ke depan unas online akan diberlakukan nasional, maka harus diadakan bertahap dengan mengutamakan daerah-daerah perkotaan. “UN online bisa dilakukan di kota besar dulu, secara bertahap sampai daerah tertinggal, terluar siap secara fasilitas internetnya,” jelas politikus Demokrat ini. (cr64/fat/jpnn)