Konsep Marina Tetap Dianggap Belum Matang

by -

*Sekda Beltim Sebut Marina Sudah direncanakan Sejak Tahun 2011

foto A

 Suasana Pembahasan rapat dengar pendapat di DPRD Beltim, terkaitpembangunan Marina Internasional dan juga pedalaman alur sungai Manggar, Senin (23/3) kemarin.

MANGGAR – Koordinator Wadah Kajian strategis Pembangunan Daerah (Wakasbangda) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) Rudi Juniwa menilai, perencanaan pembangunan Marina Internasional di Kolong Bandung pada prinsipnya sangat mendukung perkembangan Beltim ke depannya.

Namun demikian, Rudi kembali menganggap konsep rencana pembangunan Marina Internasional tersebut masi belum matang. Sebab, menurut beberapa definisi salah satunya menyebutkan Marina merupakan fasilitas modern bagi kapal-kapal rekreasi yang terletak pada pertemuan antara perairan dan daratan.

“Sesuai dengan definisi tersebut, Marina merupakan sebuah pelabuhan khusus atau dermaga kecil atau terminal khusus untuk kapal layar atau motor (yacth),” ujar Rudi dalam rapat dengar pendapat , terkait pembangunan Marina Internasional dan juga pedalaman alur Sungai Manggar,di DPRD Beltim, Senin (23/3) kemarin.

Dijelaskan Rudi, berdasarkan peraturan Menteri Perhubungan nomor 51 tahun 2011 tentang terminal khusus dan terminal untuk kepentingan pribadi. Pelabuhan atau terminal khusus adalah terminal yang terletak di luar daerah lingkungan kerja dan daerah lingkungan kepentingan pelabuhan yang merupakan bagian dari pelabuhan terdekat, untuk melayani kepentingan sendiri sesuai usaha pokoknya.

Karena itu menurutnya, rencana Pemerintah daerah untuk membangun Marina harus menetapkan beberapa hal. Antara lain, daerah lingkungan kerja dan daerah lingkungan kepentingan. Sebab, dalam pengamatan d ilapangan, lokasi pembangunan Marina ternyata juga dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya.

“Karena daerah tersebut digunakan untuk antara lain alur pelayaran dan perlintasan kapal, olah gerak kapal, keperluan darurat dan tempat labuh kapal,” jelasnya.

Atas alasan itu, Rudi mengingatkan bahwa terminal khusus hanya dapat dibangun dan dioperasikan untuk pelabuhan terdekat karena tidak dapat menampung kegiatan pokok instansi pemerintah atau badan usaha. Dan berdasarkan pertimbangan ekonomis dan teknis operasional akan lebih efektif dan efisien serta lebih menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran.

Berbicara mengenai perizinan, Rudi juga mempertanyakan kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah Provinsi dan Kabupaten, jaminan keselamatan pelayaran dan keterbatasan kemampuan fasilitas yang tersedia dalam melayani jasa pelabuhan.

“Jadi yang dipersoalkan sekarang adalah studi kelayakan pembangunan Marina di Kolong Bandung. Karena kalau melihat dari judul studi kelayakan sebagai destinasi wisata bahari dan master plan kawasan wisata, itu sudah jelas perbedaan substabsi yang terkandung di dalamnya. Sekali lagi, sangat beralasan sekali kalau rencana pembangunan Marina ini dibilang belum matang,” sebut Rudi.

Sementara itu, Sekretaris daerah Kabupaten Beltim, Talafuddin dalam rapat dengar pendapat menegaskan pembangunan Marina bukan rencana baru. Namun sudah direncanakan sejak tahun 2011.

“Tujuannya memajukan pariwisata Beltim. Di mana pada Sail Indonesia yaitu Sail Komodo dan Wakatobi lalu, seyogyanya banyak kapal tidak dapat masuk karena alur (dangkal, red) dan tidak ada pelabuhan,” jelas Sekda. (feb)